Amirah, siswi SMP Sains Tebuireng, peraih Arab and English Competition (AEC) di SMA Trensains.

Tebuireng.online– Beberapa orang di era ini ingin memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik dan lancar, contohnya saja Amirah Askanah Sakhi santri Pondok Pesantren Sains Tebuireng. Santri ini memiliki bakat bahasa Inggris yang mumpuni sehingga ia kerap menjuarai lomba-lomba pidato mulai tingkat kecamatan sampai nasional.

Santri Trensains yang kini sudah menginjak kelas 9 SMP Sains merupakan anak tunggal yang berasal dari desa Tulangan Sidoarjo, sebagai anak tunggal ia terus mendapatkan support dari kedua orang tuanya.  Saat dibangku sekolah dasar orang tuanya menyekolahkan ia di sekolah yang sudah berstandar internasional yakni MI Ma’arif NU, Pucang.

Dari kecil Mira sudah lihai berbahasa Inggris. Saat MI dulu Mira adalah anak yang tidak pernah sama sekali mengikuti lomba akademik di sekolah, katanya karna ia malu dan nggak suka keramaian, “dulu aku nggk pernah ikut lomba sama sekali malahan, dan baru ikut pas di SMP ini Alhamdulillah dapat juara langsung,” ungkap Mira.

Namun meski tak mengikuti lomba akademik di sekolahnya, ia sering diikutkan les vokal oleh kedua orang tuanya, bahkan ia juga mengikuti club taekwondo dan berhasil menyabet juara 1 di tingkat kabupaten, juara 2 di tingkat provinsi. Bagi ia itu sudah termasuk pencampaian yang membanggakan, apalagi itu sudah bisa membanggakan kedua orang tuanya.

Gadis yang kini genap berusia 13 tahun, bisa dibilang juga belum waktunya untuk kelas 9, tapi ia membuktikan dengan kepintarannya ia mengikuti kelas akselerasi di MInya dulu, ia terpilih dari salah satu teman kelasnya untuk mengikuti program itu, karena kata gurunya ia layak dan nilainya juga memenuhi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Meskipun dari MI dulu ia takut untuk tampil di depan banyak orang, sedikit demi sedikit pikirannya sudah mulai terbuka, menginjak SMP ia berpikir, “ya masa aku gini-gini aja nggak ada perubahan nggak ada peningkatan, pencapaian yang bisa membanggakan kedua orang tua,” dalam hatinya bilang seperti itu.

Lalu ia memutuskan untuk memberanikan diri mengikuti seleksi lomba pidato di SMP Trensains, namun di saat kelas 7 ia gagal terus. Barulah saat naik kelas 8 Mira baru terpilih mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, saat kelas 8 ia sudah mengikuti lomba diantaranya, pidato bahasa inggris di MA seblak tingkat kabupaten mendapat juara 2, kemudian tingkat kecamatan di MTsN 17 Ngoro mendapat juara 1, dan Arab and English Competition (AEC) di SMA Trensains mendapat juara 1.

Mira yang terkenal sangat pandai bahasa inggris, ternyata dulu tidak, mau mondok karena ada ketakutan terbesar di benaknya, “Nanti di pondok pasti kumuh, tidurnya di bawah lagi,” pikirannya saat itu. Jadi dari dulu memang mira nggak ada kepikiran untuk mondok, tapi kedua orang tuanya malah ada kepikiran untuk memondokkan anak tunggalnya itu, pas hari libur kedua orangtuanya mengajak mira untuk ziaroh kemakam Gus Dur, tapi tiba-tiba tidak hanya ziarah, orang tuanya mira malah mampir ke pondok pusat untuk nanya-nanya dan lihat lihat kondisi pondok, tapi kata mira ia tidak srek dengan pondok pusat.

Saat itu juga ada satpam yang memberitahu kalau ada pesantren yang juga mengajarkan Sains, yakni SMP Sains Tebuireng Jombok. Kemudian di hari yang sama juga Mira dan keluarga langsung bergegas ke Jombok. Dan apa yang terjadi, Mira begitu kaget dengan kondisi pondok yang sangat jauh berbeda dari bayangannya, dari situ ia mulai berubah pikiran dan akhirnya mau mondok.

Menjadi anak tunggal baginya enak, tapi juga kadang merasa kesepian, apalagi ia akan meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya untuk mondok, tapi itu semua sirna ketika ia sudah beradaptasi dengan lingkungan pondok. Selain mendalami bahasa Inggris, saat ia mondok juga menghafalkan hadist di sekolah, meskipun bagi dia waktu belajarnya minim tapi biasanya ia belajar sendiri sebelum tidur. Saat akan lomba pidato pun ia mendapat waktu tambahan dari pihak sekolah untuk belajar diperpustakaan bersama guru bahasa Inggris.

Di bulan ini ia akan berangkat ke Unisma untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional, dan di akhir tahun ia juga mengikuti lomba NCC di Darul Ulum tingkat Nasional, bagi mira menghafal hadist selama 3 thun ini lebih susah dari pada menghafal teks pidato bahasa inggris.

1 kalimat yang selalu ia percaya, “Never try, never know” karena ia sudah membuktikan sendiri, selagi ada kesempatan why not? Cobalah selagi kita bisa. Karena jika tidak begitu Mira yang sekarang bukanlah Mira sekarang, sebelum dulu ia berani mencoba maka Mira bukanlah Mira yang sekarang.

Pewarta: Albii (mahasiswa Unhasy)