
Tebuireng.Online— Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok, Ye Su, melakukan kunjungan ke Pesantren Tebuireng dan disambut langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, di Ndalem Kasepuhan Tebuireng pada Jumat (14/11/2025).
Dalam penyambutan tersebut, KH. Abdul Hakim Machfudz didampingi oleh sejumlah dzurriyyah, para mudir, kepala pondok, serta para pembina (ustadz dan ustadzah). Pertemuan berlangsung hangat dengan dialog mengenai sistem pendidikan dan pola pengasuhan santri di Pesantren Tebuireng.
KH. Abdul Hakim Mahfudz menjelaskan bahwa para pembina memiliki peran sentral sebagai figur pengganti orang tua bagi para santri selama menempuh pendidikan. “Setiap pembina atau ustadz dan ustadzah menemani para santri setiap hari dan tinggal bersama mereka di kamar yang telah dibagi. Satu pembina mendampingi sekitar 30 santri pada masing-masing kamar,” jelasnya.
Beliau menegaskan bahwa tugas pembina tidak hanya mengawasi proses belajar, tetapi juga membangun karakter dan akhlak santri.
“Para pembina tidak hanya mendampingi kegiatan belajar, tetapi juga berkewajiban menanamkan nilai-nilai karakter pada diri setiap santri,” tambahnya.

Usai berdiskusi, KH. Abdul Hakim Mahfudz mengajak Konjen Ye Su dan rombongan untuk berziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke unit pendidikan MTs Salafiyyah Syafi’iyah Tebuireng dan melihat langsung kondisi kamar asrama santri putra.
Baca Juga: Mohon Doa Restu, Kunjungan Silaturahmi MWCNU Sumbergempol Tulungagung ke Tebuireng
Setelah rangkaian kunjungan tersebut, Konjen Ye Su menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya.
“Kunjungan ini sangat membantu kami sebagai Konsul Jenderal Tiongkok. Melalui kunjungan ini, kami mengetahui lebih banyak tentang ajaran serta kondisi pesantren,” ujarnya.
Ia juga berharap kunjungan ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas pada masa mendatang.
“Kami berharap ke depan dapat terjalin kerja sama antara Konsul Jenderal Tiongkok dengan Pesantren Tebuireng. Tidak hanya dengan Tebuireng, tetapi juga dengan Nahdlatul Ulama serta hubungan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok secara lebih luas,” pungkasnya sebelum meninggalkan Pesantren Tebuireng.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















