Judul               : Anjangsana
Penulis             : Usman Arrumy
Penerbit           : DIVA Press
Cetakan           : I Agustus 2020  
Tebal               : 228 halaman
Peresensi         : Umdatul Fadhilah*

Mungkin di suatu masa yang sedang gersang, ia hanya melintas, tak membekas. Tapi, seiring waktu -hei, kau tahu, kan, bahwa bentang waktu adalah penenang hati yang paling meyakinkan, sehingga karenanya diam, diam, dan diam itu menjadi sangat penting untuk diamalkan- ia akan menguat, menguar hebat, dan menggerakan sekujur pikiran, hati, dan tubuh untuk bergerak beranjangsana kepadanya.” (halaman 9)

Anjangsana dijelaskan oleh Usman Arrumy yang berarti kehendak menuntaskan kangen. Buku tersebut merupakan karya pertama Usman Arrumy yang tidak puisi. Seperti yang diketahui, Usman Arrumy salah satu penyair Indonesia sudah kali keberapa menerbitkan buku-buku puisi, diantaranya Mantra Asmara, Kasmaran serta Asmaraloka yang paling dikenal.

Ia juga menerjemahkan karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Dukamu Abadi dengan judul Hammuka Daimun. Anjangsana sendiri memaparkan kisah perjalanan penulis dari mulai mengenal puisi hingga sekarang menjadi penyair. Setiap kalimat mengandung diksi penuh makna.

Bila engkau menemukan getaran di kalimat dalam buku ini, itu tanda bahwa kangenku sampai padamu.” (hal.12)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Penyair yang sekaligus akrab disapa Gus ini menuturkan kalimat dengan sangat epic. Dari seni menghadapi malam yakni tafsir tentang nasihat ibu yang menyuruh sang putra berbuat kebaikan tapi tidak dengan kata suruhan.

Bukankah doa adalah pekerjaan batin, perjalanan dari harapan ke pasrah? Dan seterusnya...

(hal.24).

Proses meminta restu kepada orang tuanya untuk menjadi penyair, dijelaskan secara runut dan penuh estetika. Tak jarang pembaca dibuat terenyuh oleh setiap kalimat yang dirangkaikannya.

Kali ini saya mengingat serentetan kejadian internal yang bertautan dengan proses saya sampai di titik ini. Dan tiba-tiba puisi-puisi yang saya tulis meleleh dari kedua mataku. Bapak saya ialah jemari dan ibu saya ialah pena- sementara saya ialah puisi yang ditulisnya.” (hal.33).

Telah lama mengenyam dari pesantren satu ke pesantren lain di Indonesia, hingga belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo. Usman Arrumy punya banyak kisah unik nan mengharukan. Dari mulai pertemuannya dengan Sapardi Djoko Damono, hingga KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus yang sudah lama di idolakannya. Tak jarang, untuk memberi suatu judul, beliau menyempatkan diri sowan kepada kiai.

Seperti halnya yang disampaikan oleh Ibrahim al-Khawwash-mujalasatu shaalihiin, duduk bersama orang yang saleh-tak lain merupakan obat hati.” (hal.125)

Usman Arrumy juga mengupas korelasi antara kalimat Sujiwo Tedjo atau mbah Tejo sapaan akrab, dengan sejumlah kalimat yang kerap dilontarkannya berasal dari olahan kata al- Hikam, Ibnu Atha’illah. Tetapi dugaannya melentur melihat rekam jejak mbah Tejo yang kemungkinan tidak pernah membaca al-Hikam. Lantas direnungkannya pelan-pelan dugaan tersebut.

Maghrib tidak bisa dimaghrib-maghribkan sebelum tiba waktu maghrib. Jodoh tidak bisa dijodoh-jodohkan kalau belum jodohnya. Itu kalau memakai bahasanya Ibnu Atha’illah, mata hati jomblo tersebut terhapus, dan bahasanya mbah Tejo, ia menghina Tuhan. ” (hal.172)

Kemudian mengulik juga beberapa penyair yang lahir dari bilik pesantren. Seperti yang ditulis oleh Hakam dan Cak Ginksul dalam Bhineka Tunggal Santri. Bahwa setiap dari baitnya mengandung buih-buih kesantrian. Penulis merasa kehadiran buku tersebut menegaskan bahwa seorang santri yang menjadi penyair sungguh istimewa. Lantas menggugurkan kegelisahannnya yang telah lama merindukan penyair yang lahir dari pesantren.

Hakam dan Cak Ginksul rupanya tidak hanya menulis puisi, melainkan juga turut memberikan sebuah informasi tentang banyak istilah yang hanya ada di dalam pesantren. Bagi saya, puisi-puisinya merupakan ensiklopedia kecil bagi pesantren: Bandongan, Boyongan, Dampar, Gudik, Kitab Kuning, Lalaran, Mayoran, Kilatan, Sambangan, Nashab, Jar, Jazm, Kalam, Abdi Ndalem, Bakiak-adalah sejumlah istilah yang dapat dipahami maknanya hanya bila seseorang mesantren dulu.” (hal.61).

Demikian penjabaran singkat dalam buku Anjangsana. Meski masih banyak kalimat-kalimat lain yang begitu menarik dan syahdu di dalamnya. Perjalanannya dalam menjadi penyair, betul dikulik pada setiap carik kertas berbau khas buku. Betapa setiap momen, bisa ditulis hingga disajikan menjadi kalimat yang penuh inspiratif.

*Alumnus Unhasy Jombang.

SebelumnyaKiai Cholil Nafis Jelaskan Tujuan Besar Islam Wasathiyah
BerikutnyaHikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan