Pak Syafruddin dari Republika memberikan penjelasan tentang proses penerbitan buku

tebuireng.online– Dalam pertemuan antara sejumlah pengurus penerbit pesantren bersama KH. Salahuddin Wahid dan KH. Aziz Mashuri di Dalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng pada Ahad (26/02/2017), perwakilan Penerbit Republika, Syafruddin, menyampaikan beberapa hal tentang pengalaman dan prosedur Republika dalam menerbitkan buku.

Syafruddin menceritakan secara singkat profil Penerbit Republika yang berdiri tahun 2003 dan sampai sekarang telah menerbitkan sekitar 400 judul buku. Sejak dua tahun terakhir ini, terangnya, Republika sangat selektif dalam memilih buku yang akan diterbitkan, karena pemasarannya yang cukup berat.

Lelaki yang juga merupakan Kepala Bidang Humasy Ikatan Penerbit Indonesia untuk Cabang Jakarta ini menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat dua organisasi penerbit yang besar, yaitu Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dengan anggota sekitar 1360 penerbit, tetapi yang aktif hanya 711 penerbit dan Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) dengan anggota 200 penerbit, tetapi hanya sekitar 60-an penerbit saja yang aktif.

Syafruddin menyampaikan data tentang jumlah buku yang diterbitkan selama 2015 adalah 45.000 judul buku. Jumlah itu, menurutnya, sangat timpang dengan minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah. Data dari UNESCO perbandingan minat baca masyarakat Indonesia hanya satu banding seribu. “Berarti kan dari seribu orang Indonesia yang gemar membaca hanya satu orang saja. Maka ketika dijumlahkan dengan jumlah penduduk Indonesia hanya 252.000 orang saja yang minat baca,” ungkapnya.

Berangkat dari keprihatinan itu, Republika membuat program bernama Literasi Gema untuk mendorong masyarakat untuk gemar membaca dan menulis, bekerjasama dengan Dompet Dhuafa. Program tersebut fokus pada kegiatan pelatihan jurnalistik, pelatihan kepenulisan, dan pelatihan membaca Al Quran.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam hal pengembangan literasi dan tulis menulis. Beliau memuji KH Aziz Mashuri, yang kebetulan hadir, sebagai contoh kiai pesantren yang cukup produktif dalam menulis buku hingga 30 judul buku. Untuk itu ia menyampaikan, Republika sangat mendukung ide pendirian aliansi penerbit pesantren ini. Bahkan Republika siap untuk mendampingi dan bekerjasama mengadakan pelatihan kepenulisan dan jurnalistik di pesantren-pesantren.

Syafruddin juga menerangkan tentang kiat-kiat pengoptimalan promosi via media sosial. Setiap buku terbit, Republika mengadakan lomba resensi yang syarat pengiriman karyanya adalah memposting resensi buku tersebut lewat facebook mereka dan minimal ment-tag teman mereka sejumlah 10 orang.

Untuk strategi dalam menjadikan buku bestseller, Syafruddin menerangkan bahwa itu dipengararuhi oleh produktifitas penulis tersebut. Ada penulis yang tulisan pertamanya sangat bagus, tetapi tidak produktif, jarak satu buku dengan buku berikutnya bisa bertahun-tahun, tetapi ada juga yang sangat produktif. Menurutya, penerbit harus mendorong penulis agar produktif dalam menuliskan karyanya, sekurang-kurangnya tiga judul buku dalam setahun. Ukuran bestseller untuk buku agama di Republika minimal dicetak tiga kali, sedangkan novel 5 kali cetak.

Selain itu, straregi pemasaran juga bisa dilakukan dengan membuka pre order bagi buku yang akan terbit. “Misalnya buku mau cetak 2 minggu maka kita sudah buka pemesanan. Lah dari situ, ada sesuatu yang lebih yang didapatkan oleh pemesan, misal tanda tangan penulis, biasanya pembaca senang begitu,” kata Syafruddin. Strategi lain, pungkasnya, juga bisa dilakukan dengan mengadakan diskusi atau bedah buku yang baru terbit atau terbit ulang bekerjasama dengan institusi lain.


Pewarta:   M. Abror Rosyidin

Editor:      Ahmad Faozan

Publisher:  M. Abror Rosyidin

SebelumnyaPustaka Tebuireng Kumpulkan Jaringan Penerbit Berbasis Pesantren
BerikutnyaDiskusi Soal MPK, SMA. A. Wahid Hasyim Studi Banding ke MAN 02 Malang