Pengurus Besar Alkhairaat, Dr. Shaleh Muhammad Aldjufri memberi materi seminar pendidikan dalam harlah 120 tahun Pesantren Tebuireng, Sabtu (24/8/19) di Pesantren Tebuireng. (Foto: Kopi Ireng)

Tebuireng.online– Seminar pendidikan hari kedua, dalam rangka memperingati harlah 120 tahun Pesantren Tebuireng, yang mengangkat tema “Peran dan Sumbangsih ORMAS Islam dalam Mencerdaskan Bangsa” diisi oleh Dr. Shaleh Muhammad Aldjufri, Sabtu (24/8/19) di gedung Yusuf Hasyim Tebuireng.

Muhammad Aldjufri, merupakan Pengurus Besar “Alkhairaat” di Palu Sulawesi Tengah. Di awal pemaparan materi, beliau menyampaikan bahwa undangan dari Tebuireng kali ini beliau anggap sebagai napak tilas untuk menjaga tali silaturahmi.

Pada tahun 1926 pendiri Alkhairaat pernah ke Jawa bertemu dengan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. “Maka pada seminar ini akan menjadi titik awal kembali untuk terus silaturahmi kami tetap terjaga,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Pengurus Besar Alkhairaat ini menceritakan dengan singkat sejarah berdirinya Alkhairaat. Pada tahun 1930 Alkhairaat resmi dibuka. Alkhairaat didirikan oleh Al- Habib Idrus bin Salim Al- Jufri atau dikenal dengan “Guru Tua”.

Sejak berdiri hingga saat ini telah memiliki 1561 sekolah/madrasah dari berbagai jenjang, serta terdapat 50 pondok pesantren yang terbesar di kawasan Timur Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Atas kepercayaan masyarakat dan dorongan untuk ikut mencerdaskan bangsa, Alkhairaat telah berhasil memiliki universitas yang diberi nama Universitas Alkhairaat.

Selain itu, beliau juga menceritakan tentang nama bandara kebanggaan kota Palu yaitu Bandara Mutiara, yang mana nama tersebut atas pemberian Presiden Soekarno. Kemudian berganti nama menjadi Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu. Perubahan tersebut atas permintaan tokoh masyarakat Palu yang dimakasudkan untuk menghargai jasa Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.

Beliau menceritakan ada dua fakta yang terjadi di Palu Sulawesi Tengah, cerita tersebut akan menjadi contoh topik pembicaraan pada seminar ini. Yang pertama, Muhammad Aldjufri pernah bertamu pada salah seorang, diawali dengan salam, beliau memasuki rumahnya seraya mencium tangan orang tua itu, tiba-tiba orang tua itu menangis.

Muhamad Aldjufri bertanya, “kenapa bapak meneteskan air mata? Apakah ada sesuatu yang salah dari saya?” dan semakin menangis seraya mengucapkan “aku adalah orang tua yang gagal,” Lalu pandangan Muhammad Aldjufri terarah pada sebuah dinding yang terpajang foto sarjana anak-anaknya. “Kenapa bapak berkata seperti itu, sementara anak-anak bapak mendapat title sarjana semua?” tanya Muhammad Aldjufri. “Karna anak-anak saya tidak pernah mencium tangan saya seperti yang kamu lakukan,” jawabnya.

Cerita kedua ada seseorang datang ke Kantor Pengurus Besar Alkhairaat meminta ustadz untuk mengajar di kampungnya. Kemudian salah seorang pengurus menyampaikan bahwa sudah ada ustadz yang kami kirim ke tempat anda, kenapa minta lagi? Kemudian dijawab, ia itu dulu waktu anak saya sekolah di madrasah ibtidaiyah alkhairaat, alhamdulillah saya diberi kelebihan oleh Allah, punya kebun, punya kelapa sawit, punya cengkeh, punya coklat, ustadz tersebut saya yang gaji. Tetapi setelah anak saya tamat dari MI alkhaeraat, maka gaji saya stop, tidak disangka setelah beberapa bulan madrasah tersebut tutup, kelapa sawit, cengkeh dll sudah tidak aman lagi, banyak perkelahian antar sesama, sebabnya adalah ketika madrasah tersebut ditutup, kemudian saya datang ke pengurus besar untuk meminta ustadz agar supaya datang lagi dan mengajar di kampung kami,” ceritanya dengan khidmat.

Bagi masyarakat di sana, itulah peran Alkhaeraat sebagai wadah pendidikan Islam dalam mencerdaskan bangsa. Sistem pendidikan yang dibawa oleh Habib Idrus adalah sistem lama. Meskipun Habib Idrus tidak bisa berbahasa Indonesia, beliau memberi pengajaran dengan pendekatan kitab-kitab, sehingga mampu mencetak murid-muridnya menjadi ustadz.

Selanjutnya Muhammad Aldjufri juga menyampaikan sebab Habib Idrus tidak menulis buku/kitab untuk dijadikan sebagai peninggalan ketika beliau wafat, ialah karena Habib Idrus merasa tidak sama dengan datuk-datuknya, tetapi Habib Idrus mampu menciptakan buku-buku hidup yang bisa ditanya kapan saja, yaitu murid-muridnya.

“Anda tidak akan menggapai cita-cita hanya dengan ilmu saja, akan tetapi tentu dengan akhlak pula, maka ketika anda telah mendapatkan itu, janganlah sombong”, tuturnya.

Di akhir pemaparan, Muhammad Aldjufri mengolaborasikan ciri khas dari masing-masing ormas; Wa Allahu Al- Miwafiq ila Aqwami At-Thoriq (NU), Wa Billahi Taufiq Wa Al- Hidayah (Muhammadiyah), Wa Allahu Al- Musta’an (Al- Khairaat) sebagai penutup materinya.

Pewarta: Rafiqatul Anisah

Publisher: RZ

SebelumnyaUntuk Maju, NU Harus Utamakan Pendidikan
BerikutnyaMahasiswa Unhasy Raih Juara 2 Kaligrafi di Berlin Jerman