Sumber foto: www.google.com

Oleh: Syarif Abdurrahman*

Suatu waktu saya diskusi dengan dosen Filsafat Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng bernama Dr. Hanifuddin Mahadun, M.Ag. Diskusi kita saat itu tentang cinta serta pembagian cinta itu sendiri.

Diskusi kita mulai dari pengertian kata cinta, menurutnya cinta adalah bentuk komitmen yang mendalam. Cinta juga kekuatan spiritual yang kuat di alam semesta. Walaupun terkadang cinta adalah perasaan yang tak bisa dikontrol tapi cinta mendorong seorang individu untuk memproyeksikan anima/animisme mereka yang tak terpaut pada orang yang dicintai.

Beliau menyebutkan cinta itu terbagi dua, pertama cinta romantik dengan karakteristik “aku cinta padamu karena…” dan kedua cinta murni dengan karakteristik “aku cinta padamu walau…”

Bila kita lihat dari dua pembagian diatas, kedua cinta tersebut sungguh amat dalam perbedaannya. Setiap manusia bisa mencapai keduanya. Untuk mencapai cinta murni biasanya seseorang harus melewati cinta romantik dulu. Tapi kebanyakan manusia berhenti pada cinta romantik saja. Semisalnya, seorang pria mencintai wanita karena ia hafal Al Quran, karena pekerjaannya bagus, karena anak tokoh besar, bisa juga karena hidungnya mancung, karena dadanya montok, karena wajahnya cantik dan karena langsing. Cinta model ini disebut cinta romantik. Begitu juga sebaliknya, seorang wanita mencintai pria karena sudah mapan, karena bergelar doktor, atau juga karena dipaksa orang tua, karena tampannya dan karena alasan lainnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Cinta romantik tidak hanya berlaku pada sesama manusia saja. Dalam pengertian lebih luas kita bisa melihat cinta model ini di dalam kehidupan orang berorganisasi. Semisal si Abdul ikut ormas Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah karena dapat gaji, dapat proyek, atau karena ikut-ikutan tetangganya, karena perintah guru atau sebagai ladang mata pencarian. Bisa juga organisasi lain, semisal organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Seorang yang gabung HMI karena ingin jabatan politik, karena ingin dekat dengan pejabat, atau ingin dihormati. Maka model orang seperti ini cintanya disebut cinta romantik.

Ciri-ciri cinta romantik ini sering berubah-rubah atau tidak stabil. Ketika alasannya untuk mencintai hilang maka cintanya mulai goyah. Mulai marah-marah sama pasangan, mengatakan pasangan tidak perhatian, tidak peka lah atau tidak bertanggung jawab. Padahal asal masalahnya karena kepuasan pribadi atau keinginan pribadi (alasan mencintai) tidak dapat ditemukan pada pasangan. Begitu juga dalam organisasi, seorang kader sering menyalahkan organisasinya saat ia tak mendapatkan lagi uang dari proyek organisasi.

Cinta romantik biasanya berawal dengan tarik menarik fisik atau nafsu seksual. Cinta ini akan matang sesudah bergerak ke persahabatan yang kemudian berubah lebih murni yaitu cinta keindahan dan akhirnya mulai menerima sepenuhnya apa yang tak layak dicintai.

Karakteristik cinta romantik antara lain:

  1. Bergantung pada proyeksi mutual
  2. Mensyaratkan rintangan
  3. Memandang cinta sebagai perasaan
  4. Cenderung berjangka pendek
  5. Merasa yakin bahwa cintanya matang
  6. Aku cinta padamu KARENA…

Tapi perlu diingat, cinta romantik sangat berbahaya dan rentan menyebabkan kerusakan bila tak dikelola dengan baik. Sifatnya yang labil menjadi penyebab utamanya. Tapi jangan cepat marah saat menemukan ada orang yang masih berada pada maqom cinta romantik. Karena bila dikasih pemahaman yang baik dan bimbingan yang pas maka cinta romantik akan naik menjadi cinta murni. Kebanyakan cinta murni diawali dengan cinta romantik. Hal ini karena manusia adalah makhluk kasar dan indrawi. Manusia menilai apa yang mereka lihat dan rasakan. Jadi yang salah bukan cinta romantik tapi yang kurang tepat yaitu terus bertahan pada cinta romantik selama hidupnya.

Seseorang yang sudah melewati cinta romantik akan masuk pada cinta murni. Sedikit sekali yang bisa langsung menuju cinta murni tanpa melewati cinta romantik. Diantara contoh yang bisa langsung masuk pada cinta murni yaitu cintanya orang tua pada anak dan cinta nabi Muhammad pada umatnya. Orang tua tetap mencintai anaknya walaupun banyak orang mengatakan anaknya nakal, jelek dan susah diatur. Begitu juga nabi, ia tetap mencintai umatnya walaupun dilempar kotoran dan diludahi.

Seseorang yang awalnya mencintai istri/suami karena fisiknya bisa berubah atau masuk pada maqom cinta murni bila ia sudah bisa mencintai suami/istrinya walaupun tidurnya ngorok, walaupun punya masa lalu kelam, walaupun banyak yang mengatakan pasangannya jelek. Begitu juga ketika kecintaan seseorang pada organisasi, ia mencintai NU/Muhammadiyah walaupun banyak yang memusuhinya. Ini cinta murni.

Secara umum, karakteristik cinta murni yaitu:

  1. Memandang cinta sebagai komitmen
  2. Menarik proyeksi
  3. Menikmati kebebasan dalam tapal batas
  4. Cenderung berjangka panjang
  5. Tahu dan sadar bahwa cintanya belum matang
  6. Aku cinta padamu WALAU….

Erik Fromm seorang pengarang buku “the art of loving” mengatakan indikator orang yang memiliki cinta murni yaitu apabila ia telah memiliki lima rukun cinta sebagai berikut:

  1. Siap menerima
  2. Siap memperhatikan
  3. Siap menghargai
  4. Siap mendukung
  5. Siap memberi peluang untuk berkembang

Kini, saat kita mulai berpikir sejenak, bagaimana cinta kita pada pasangan kita, pada guru kita, pada murid-murid kita, pada almamater kita dan pada anak-anak kita. Apakah cinta kita pada mereka ada label “aku mencintainya karena….” atau sudah naik pada cinta murni “aku mencintainya walaupun…”

Muhasabah diri ini berguna agar kita dalam hidup terus menebar inspirasi dan kasih sayang. Pada tahap lebih tinggi, kita akan masuk pada tingkatan apakah kita mencintai dan beribadah pada Tuhan karena ingin surga atau karena menghindar dari neraka. Bisa juga beribadah karena ingin kaya atau mencari ketenangan batin. Cinta pada sang khaliq memiliki alasan-alasan tertentu dan karena-karena yang hanya kita pribadi yang tahu. Sehingga bila tujuan sudah tercapai maka lupa dengan Tuhan.

Atau kita sudah sampai pada maqom cinta murni. Tetap beribadah pada Tuhan walaupun dalam keadaan miskin, hati tak tenang, hidup susah, patah hati, dan gagal dalam usaha. Jika sudah begitu, maka cinta kita sudah sampai pada cinta murni. Mencintai Tuhan sebab Tuhan itu sendiri bukan hiasan atau embel-embel lainnya.

Lalu di manakah posisi kita?

Cinta Murni atau Cinta Romantik

Lantas bagaimana kalau kita belum bisa sampai pada tahap cinta murni?

Jangan bersedih, tetap berusaha menjadi yang terbaik, evaluasi diri terus menerus dan perbanyak belajar. Cinta murni yang berangkat dari cinta romantik bukan sebuah aib. Jadi mari memperbaiki diri menuju cinta murni.

Al-Junaid berkata, cinta berarti merasuknya sifat-sifat sang kekasih, mengambil alih sifat-sifat pecinta. Di hati pecinta tak satupun yang tertinggal selain ingatan akan sifat-sifat sang kekasih, hingga pecinta lupa dan tak sadar akan sifat-sifatnya sendiri.

Sudah kah kita sebagai hamba Allah menerapkan atau mengambil alih sifat Rahman dan Rahim Allah jika kita memang mencintainya?

*Mahasiswa Pascasarjana Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaMengenal Tradisi Manaqiban
BerikutnyaBerhati-hati Memilih Teman Bergaul