
Tebuireng.online— Pelatihan public speaking dan content creator yang digelar Pesantren Tebuireng bekerja sama dengan Tim Paragon dan CIRI (Citra Kartini Indonesia), sukses menggugah semangat dan kepercayaan diri para santri. Kegiatan ini menghadirkan Helmi Kurniawan atau yang akrab disapa Helmi Kahaf, seorang Public Speaking Enthusiast, yang dipandu moderator Rara Zarary. Acara berlangsung pada Rabu (4/2/2026) di Gedung Yusuf Hasyim lantai 3 Tebuireng.
Baca Juga: Rara Zarary Bagikan Tips Membangun Semangat Literasi Santri
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Mayoritas peserta yang merupakan santri Tebuireng tampak aktif mengikuti materi yang disampaikan secara santai namun berbobot. Helmi, yang telah terjun di dunia penyiaran sejak 2005, menekankan pentingnya konsistensi bagi siapa pun yang ingin menjadi content creator.
“Kalau kita mau jadi konten kreator, paling tidak media sosial kita harus rutin ada postingan,” ujar lulusan Ilmu Komunikasi itu, membuka forum di hadapan peserta.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, materi public speaking yang dibawakan Helmi mudah dipahami. Ia bahkan mengajak beberapa peserta laki-laki maju ke depan untuk praktik langsung menjadi MC atau moderator. Melalui praktik ini, peserta diajak membangun keberanian sekaligus memahami teknik berbicara di depan publik secara nyata.
Baca Juga: Mengasah Keterampilan Public Speaking di Pesantren
Tak hanya soal berbicara, Presenter JTV ini juga menjelaskan teknik penggunaan mikrofon yang kerap luput dari perhatian. Ia memaparkan tiga jenis mikrofon yang umum digunakan dalam acara, yakni mikrofon berkabel, nirkabel, dan mikrofon podium.
“Kalau pakai mic berkabel, tidak elok memainkan kabelnya. Selain tidak rapi, juga khawatir kesetrum,” jelasnya, yang diiringi tawa peserta.
CEO @kahafbrothers.comm itu, juga membagikan trik membedakan gaya MC formal, semi formal, hingga kasual melalui pengaturan nada suara. Menurutnya, MC formal menggunakan nada dasar yang lebih rendah dan suara perut yang dalam, sementara semi formal dan kasual menggunakan nada yang lebih naik dan ringan agar suasana lebih cair.
Baca Juga: Munawara Tekankan Dakwah Kreatif Era Digital Harus Tetap Beradab
Lebih lanjut, Helmi menekankan pentingnya prinsip 3V sebagai kunci menjadi MC, host, atau moderator profesional. Pertama, Visual, yang meliputi gestur, ekspresi wajah, kontak mata, dan bahasa tubuh. Kedua, Vokal, meliputi tone suara, intonasi, tempo, dan artikulasi. Ketiga, Verbal, yakni pemilihan kata dan struktur bahasa.
“Jangan sampai saat tampil tubuh bungkuk, tangan tidak terkontrol, mata menunduk, dan suara kurang jelas. Semua itu harus diperhatikan lewat 3V,” tegasnya.
CEO LKP @kahafbrothers.comm ini juga menegaskan bahwa belajar dan berlatih adalah kunci utama dalam public speaking. Dengan jargon “Saatnya Merdeka Berbicara”, lelaki asal Mojokerto ini juga mengajak santri untuk terus mengasah kemampuan komunikasi, karena komunikasi bersifat dinamis dan kontekstual.
Baca Juga: Alumni Pesantren Tebuireng Finalis Kompetisi Public Speaking se-ASEAN
Menurutnya, kemampuan public speaking menjadi modal penting, tidak hanya untuk tampil di panggung, tetapi juga bagi santri yang ingin terjun sebagai content creator. Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendapatkan ruang praktik berbicara dan unjuk kepercayaan diri secara langsung.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















