TO BE OR NOT TO BE

Bagi penyuka karya karya William Shakespeare, istilah to be or not to be sudah tidak asing lagi. Saya saat nyantri di pesantren Tebuireng–masih dibangku Aliyah—mengenali lewat naskah Hamlet yang diterjemahkan WS Rendra dan tahun 1970–dan Rendra bersama Bengkel Teater pernah diundang KH Yusuf Hasyim tampil di pesantren Tebuireng. Sungguh, ini kenangan yang luar bisa menancap di file memori. Pak Ud mendorong santri santrinya tak cuma asyik melihat dirinya dan berkutat dengan Turats khazanah Islam dari al-salaf al-shalih–meminjam istilah yang lagi populer– namun dipersentuhkan dengan bagian yang menjadi tanggung jawabnya selaku civic Islam. Seperti penah disinggung di tulisan terdahulu, tahun 1970–an hadir pula tokoh tokoh aktivis mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia seperti UI, IPB, ITB, Unair dan ITS di pesantren Tebuireng. Selain Pak Ud juga menghasung santri menyukai kebudayaan, kesenian dan kesusatraan.

Kembali ke istilah to be or not to be bermula dari kegelisahan yang mendera Hamlet, ratu Getrade yang merupakan ibunya menikah lagi dengan Claudius yang adalah paman dan pembunuh dari ayah Hamlet. Padahal, pernikahan itu berlangsung belum genap sebulan dari kematian sang ayah. Tak ayal, berkecamuk kebingungan beraduk amarah. Pilihan dilematis membelit dalam pikirannya, antara godaan ajakan mengakhiri hidupnya dan terus menghela perjuangan. Benar belaka, hidup merupakan pilihan dan Hamlet memilih tak setengah setengah berjuang untuk meraih keinginannya.

Tak setengah setengah, itulah yang memancar dalam pribadi Yai Ka’. Tak tanggung tanggung mencintai ilmu, apalagi lautan ilmu itu tak bertepi, ibaratnya “bahrun la sahila lah”. Sekaligus, itulah pesan penting Yai Kak kepada santri. Mulai dari rentang waktu thalab ‘ilm, memburu turats berupa kitab kitab yang kenal jeda membelinya, tak mengenal letih muthala’ah kitab, tak kunjung padam berkhitmad mewariskan ilmu dan mencintai pesantren Tebuireng. Saya yakin, meski Yai Ka’ telah tiada, namun nama dan profil beliau bakal selalu mengingatkan spirit bersungguh sungguh dan tak setengah setengah menjadi santri. Apalagi, dampak pilihan keduanya ada di depan mata. Kalau bersungguh sungguh apa pengaruhnya bagi masa depan santri, akan halnya bila setengah setengah.

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (73)
BerikutnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (75)