YAI KA’-PUN TERSENYUM TERSIPU-SIPU

Zaman saya nyantri di pesantren Tebuireng, “santri tua” sangat banyak. Sehingga jarak rentang usia Yai Ka’ dengan kalangan santri tidak teramat jauh seperti belakangan. Wajar, jika komunikasi dan dialog kian cair. Bahkan, santri-santri tertentu begitu “memel” dan seru bila bercanda dengan Yai Ka’.

Walau beliau lebih banyak bertahan dan tersenyum kalau santri di sekitar beliau lagi larut dalam saling gojlokan dan nyentil ke sana ke mari. Tak terkeculi, jika terpaksa masuk dalam topik “bab al-nikah”. Yai Ka’ tersenyum tersipu sipu mengikuti perbincangan santrinya yang menyerempet sikap hidup beliau yang melajang. Biasa, kami serempak “berehem ehem” sembari melirik Yai Ka’.

Serupa, ketika bagian kitab yang beliau baca bersinggungan dengan nikah, tanpa komando santri beliau bersiul dan berehem-ehem secara bersautan. Riuhlah suasana pengajian, dan Yai Ka’ tersenyum tersipu sipu. Mengapa beliau melajang ? Tak bakal bisa ditemui nalar syar’i–nya dari beliau secara langsung.

Walau, saya pernah sampaikan di tulisan terdahulu, ulama-ulama ternama yang memilih melajang sepanjang hayat. Ada kitab yang secara khusus menguraikankan ulama ulama lajang. Misalnya, yang ditulis oleh ulama ikhwan al-muslimin murid al-Banna dan aktivis gerakan Islam di Syiria bersama Said Hawa’, lahir di Aleppo dan meninggal di Riyadh serta dimakamkan di Baqi’. Ulama ini pernah berkunjung ke Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Adalah syekh Abd al-Fatah Abu Ghuddah yang menulis ulama-ulama lajang demi ilmu dalam kitab yang diberi judul “Al-‘Ulama al-‘Udzab : Alladzina Atsaru al-‘ilm ‘ala al-Zawwaj”. Menurut sahabat Imam–“putra” Yai Ka’–pernah menggoda dengan menyampaikan kitab ini namun sembari tersenyum kitab berjudul sangat menggelitik itu ditampiknya.

Artinya apa ? Sikap lajang Yai Ka’ juga ditemui pada ulama-ulama besar, untuk ghirah dan kecintaan keilmuan, seolah olah menjadikan “nikah diberi makna yang berbeda”. Dan terus terang, Nyali posting ini dilecut oleh posting sahabat Imam. Tentu, tak ada maksud apa-apa, kecuali memotret sisi kemanusiaan Yai Ka’ semata. Andai saja beliau masih sugeng, pasti beliau tersenyum tersipu sipu digoda oleh santrinya yang usil menguliti wilayah “sir beliau”.

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

 

 

SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (68)
BerikutnyaSantri Harus Terampil Menulis