NGETAN SUGIH, NGULON SUGIH

Di tangah tengah asyik ngobrol perkara sepakbola, Yai Ka’ tiba tiba menyelipkan pendidikan penyadaran. Katanya, “Mek santri dikongkon milih dadi wong alim opo dadi wong sugih, koyoke akeh sing milih dadi wong sugih”. Tentu salah alamat dong, ingin kaya kok malah nyantri ?. “Bener, gak salah. Asal mondoke temenan. Endi onok wong alim kere ?”, tambah Yai Ka’.

Lebih panjang lagi beliau menjelaskan, “Mek dadi wong alim, kabeh watata ba’ahu’ kabeh melok. Termasuk iso dadi wong sugih. Masalahe, iso gak dadi santri temenan, gelem gak mondok temenan. Coba bandingno karo santri disik. Akeh sing dadi wong alim, yo iso sugih, beken, gawe pondok. Bedo karo sak iki, sugih, duwe jabatan, duwe pondok, tapi akeh akehe yo nerusno warisan”.

Memang Yai Ka’ berpandangan dan menempatkan ilmu demikian suprim, menyerupai persepsi “knowledge is power” dan ilmu kunci suksesnya dalam kehidupan. Walau jika mengaitkan ilmu dan harta, Yai Ka” memiliki pemikiran di luar mainstream. Bagi beliau, ilmu itu ya identik kekayaan. Memiliki ilmu, memiliki kekayaan. Kian berilmu, semakin kaya seseorang. Dengan ilmu, kekayaan dan predikat kaya dapat dimaknai dengan benar. Lewat piranti keilmuan, tafsir kekayaan dan siapa sesunguhnya yang disebut orang kaya peroleh pemaknaan mendasar.

Ujungnya, sebagaimana sabda Nabi, kaya yang sesungguhnya bukanlah ditakar dengan timbangan sebegitu besar harta yang melekat pada diri seseorang. Melainkan, kaya itu bermakna kaya akan hati. Memiliki hati yang disebut “qalb al-salim”. Dengan kesungguhan nyantri dan ketinggian ilmu yang diperoleh dan menjadi alim : kaya hati bakal teraih.

Itulah kaya yang sesungguhnya dan di situ pula maqom Yai Ka’. Makanya, beliau madep ngetan sugih, madep ngulon ya sugih. Lagi pula jika kaya harta itu unlimited, berapa batasnya ? Bill Gates dan Carlos Slim sebagai dua orang terkaya pertama dan kedua, terus berburu kekayaan. Demikian pula sosok terkaya di Indonesia, Budi dan Michael Hartono, tak berhenti mengejar kekayaan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (65)
BerikutnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (67)