ilustrasi by: amir/to

Oleh: Qurrotul Adawiyah*

Perdebatan seputar kedudukan perempuan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas khususnya kiprahnya dalam perjalanan hidupnya. Seperti halnya salah satu tokoh perempuan Madura Nyai Aqidah Usymuni yang merupakan perempuan memiliki semangat tinggi dalam pemberdayaan pendidikan perempuan. Hal ini sangat perlu kita ketahui  untuk dijadikan teladan. 

Nyai Aqidah Usymuni lahir di desa Pandian Kabupaten Sumenep pada tahun 1938 dari pasangan Kiai Usymuni dan Nyai Khadijah. Dua ulama ini sangat disegani karena kiprahnya di NU dan Muslimat wilayah Sumenep. Beliau merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, dua laki-laki dan dua perempuan yaitu As’ad, Maksad, Hindun dan yang terakhir beliau (Aqidah Usymuni). 

Semasa kecil Nyai Aqidah Usymuni lebih dekat dengan ayahnya karena merupakan anak piatu yang ditinggalkan ibunya pada usia 5 tahun dan diasuh langsung oleh ayahnya, hingga pada usia 7 tahun Nyai Aqidah Usymuni diasuh oleh Ahmaniyah yang merupakan Ibu tiri beliau, namun beliau diperlakukan seperti layaknya anak sendiri yang selalu menyayangi dan memberikan dukungan penuh terhadap kiprah beliau.

Setelah ayahnya meninggal, ibu tiri beliau memberikan dukungan untuk pendirian pesantren yang mana sebelumnya beliau tidak memiliki tanah hanya kitab-kitab yang beliau punya dari peninggalan ayahnya. Akan tetapi berkat dukungan ibu tirinya beliau diberikan pinjaman, kemudian beliau membangun pondok pesantren. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pesantren tersebut diberi nama “Aqidah Usymuni”. Penamaan pondok tersebut diambil dari nama beliau sendiri, dengan harapan sebagai salah satu bentuk motivasi agar perempuan berdaya dan berperan aktif dalam masyarakat sehingga tercatat dan dikenang sejarah.

Berawal dari sebuah nama pondok pesantren, apa yang dilakukan oleh Nyai Aqidah Usymuni dapat dikatakan sudah keluar dari mainstream karena pada umumnya nama pondok cenderung pada nama laki-laki yang merupakan suami dari pendiri atau kiai. Bahkan beliau merupakan salah satu perempuan yang berhasil mendirikan pesantren perempuan di Madura.

Selain itu, berdirinya pesantren tersebut dilatarbelakangi oleh rasa keprihatinan Nyai Aqidah Usymuni atas kondisi masyarakat Madura yang minim sekali memberikan akses pendidikan kepada putra-putrinya yang disebabkan karena faktor ekonomi yang rendah. Bahkan  yang sangat miris pemikiran orang Madura pada saat itu, bahwa anak perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi dengan alasan ujung-ujungnya perempuan tidak lepas dari seputar dapur, sumur dan kasur. 

Dengan problem tersebut Nyai Aqidah Usymuni sangat memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan pendidikan. Bagian penting usaha yang dilakukan beliau dalam kegiatan belajar adalah mendirikan pendidikan formal dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah tinggi ilmu tarbiyah Aqidah Usymuni dan terdapat  non formal juga, seperti halnya lembaga tahfidzul Qur’an, kajian kitab klasik, dan lain sebagainya. 

Beliau juga memiliki keterampilan membatik dan  membordir. Berkat dari keterampilannya beliau dengan mudah menularkan skill tersebut kepada para santri. 

Meskipun disibukkan dengan urusan pesantren, Nyai Aqidah Usymuni juga menangani banyak kasus dalam masyarakat khususnya dalam  rumah tangga, seperti KDRT yang disebabkan faktor poligami. Sehingga beliau bersama putrinya, Nyai Eva yang sekarang menjadi Wakil Bupati Sumenep turun tangan langsung dengan memberikan konseling berupa pendekatan agama yang berpihak pada korban. 

Sebagai keturunan pejuang dakwah Islam pada masa kolonialisme, Nyai Aqidah Usymuni selalu termotivasi untuk melakukan pemberdayaan terhadap perempuan. Media utama yang dijadikan penggerak  perjuangannya adalah melalui organisasi keagamaan dan melalui jalur pesantren. Bagi Nyai Aqidah setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki potensi. Maka, potensi tersebut menjadi modal dasar dalam melakukan pemberdayaan. Karena itu, yang terpenting baginya bisa bersinergi dengan keluarganya, lingkungan dan masyarakatnya.

Melihat dari kiprah Nyai Aqidah Usymuni tak salah beliau sebagai bagian dari ulama perempuan Madura yang merupakan sosok figur yang selalu bersemangat dalam mengembangkan dan membela hak-hak serta memberikan pelayanan pendidikan kepada mereka yang kurang mampu. Dalam persepsi beliau semangat adalah modal utama dalam melakukan segala aktifitas. Perempuan yang tidak memiliki semangat dianggapnya sebagai perempuan yang lemah. 

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaAku Seorang Santri 
BerikutnyaPelantikan Kepemimpinan, Santri Diingatkan Pesan Ini