
Tampak sepasang kaki renta melangkah di jalan berdebu menuju pesantren. Di sampingnya, seorang remaja bersarung lusuh menggandeng tas kecil berisi dua potong baju dan kitab kuning warisan pamannya. Itulah Safa, dan lelaki di sampingnya, ayahnya, Pak Rahman, seorang buruh tani yang sudah lama bercita-cita memondokkan anak semata wayangnya.
“Bapak gak punya apa-apa, Nak. Tapi kalau kamu mau ngaji, Bapak rela makan nasi garam tiap hari,” ucap Pak Rahman sambil menepuk bahu anaknya.
Safa menunduk, matanya berkaca. Ia tahu, ongkos menuju pesantren saja sudah hasil jual dua ekor ayam terakhir di rumah. Tapi tekad ayahnya terlalu besar untuk disangkal. Ia ingin anaknya bisa membaca kitab, bukan hanya angka upah harian.
Sesampainya di pondok, kiai menyambut dengan hangat. “Santri baru ya? Bawa apa saja, Le?”
“Bawa niat, Yai,” jawab Pak Rahman dengan suara parau.
Kiai tersenyum, “Itu sudah cukup.”
Hari-hari pertama Safa di pesantren berjalan lambat. Ia sering lapar, tapi malu meminta. Uang saku dari ayahnya sudah habis di minggu kedua. Kadang ia menunggu sisa makan teman-temannya, kadang diam saja meneguk air sumur sebelum tidur. Namun setiap kali membaca Safinatun Najah atau Taqrib, ia selalu ingat wajah ayahnya dan itu cukup membuatnya kuat.
Setiap malam, setelah ngaji, Safa menulis surat untuk ayahnya meski tak punya perangko.
“Bapak, Safa kangen. Safa sudah bisa baca matan Taqrib. Doakan Safa kuat, ya.”
Surat-surat itu ia simpan di bawah bantal, berharap suatu hari bisa dikirimkan.
***
Beberapa bulan kemudian, Pak Rahman datang menjenguk. Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung. Ia membawa karung kecil berisi singkong rebus. “Maaf, Nak. Bapak gak bisa bayar uang pondok bulan ini. Tapi Bapak sudah minta izin kerja di kota.”
Safa hanya mengangguk. Malam itu mereka makan singkong bersama di bawah pohon mangga depan masjid. Tak banyak kata. Hanya diam yang panjang, diselingi desir angin dan azan isya dari kejauhan.
Keesokan paginya, ayahnya berpamitan. “Belajar yang rajin, ya. Kalau nanti Bapak gak bisa datang, jangan berhenti ngaji.”
Safa mengangguk lagi, menahan air mata. Dan benar, itu pertemuan terakhir mereka.
Kabar itu datang saat Safa sedang membersihkan kamar mandi pesantren. Seseorang berlari dari gerbang sambil memanggil namanya.
“Safa! Ayahmu… wafat!”
Dunia tiba-tiba sepi. Ember jatuh, air tumpah, dan Safa berlutut di tanah. Tak ada rumah untuk pulang, tak ada ibu yang menunggu. Ia benar-benar sendiri.
Malam itu Kiai memanggilnya ke ndalem. “Nak, mulai malam ini kamu tinggal di sini saja. Bantu-bantu Bunyai di dapur, bantu saya di masjid. Jangan pikir biaya mondokmu. Tugasmu hanya belajar dan berdoa untuk orang tuamu.”
Safa menunduk dalam, air matanya menetes di sajadah.
“Terima kasih, Yai…”
Sejak hari itu, ia menjadi santri ndalem mengabdi di rumah Kiai. Setiap subuh, ia sudah bangun lebih awal, menyapu teras ndalem, menyiapkan teh panas untuk Bunyai. Setelah itu ngaji, lalu mengajar santri kecil membaca Iqra’.
Hari-harinya berubah menjadi ibadah yang sunyi. Tak ada lagi keluhan tentang lapar, karena baginya, setiap suapan nasi adalah amanah dari tangan yang mulia.
Di sela-sela kesibukan itu, Safa bersahabat dengan Fairuz Zaman, santri seangkatannya yang dikenal cerdas dan pandai berpidato. Fairuz sering menghibur Safa ketika rindu datang menggempur.
“Kita ini seperti daun, Fa. Kadang jatuh, tapi kalau sabar, bisa tumbuh lagi,” kata Fairuz suatu malam sambil tersenyum.
Safa hanya menatap langit pesantren, tempat bintang bertabur. “Iya, tapi Bapak gak bisa tumbuh lagi, Rus.”
Fairuz menepuk pundaknya. “Tapi doamu bisa menumbuhkan surga buat beliau.”
Kata-kata itu menancap di hati Safa. Sejak itu, ia tak pernah melewatkan tahajud. Dalam setiap sujudnya, ia bisikkan satu nama ayahnya.
***
Waktu berjalan pelan tapi pasti. Safa tumbuh menjadi pemuda berwibawa. Ngajinya lancar, hafalannya kuat. Ia dipercaya mengajar santri baru, mengurus keuangan dapur pondok, bahkan menggantikan Kiai saat pengajian di desa sebelah.
Suatu sore, ketika hujan turun lembut di halaman ndalem, Bunyai memanggilnya. “Safa, kamu sudah seperti anak kami sendiri. Kiai ingin kamu lanjut mondok ke pesantren sahabat beliau di Madura. Setelah itu, kamu kembali ke sini bantu-bantu mengajar.”
Safa tertegun. “Saya… pantas, Bu?”
Bunyai tersenyum, “Yang pantas itu bukan karena siapa kamu dulu, tapi bagaimana kamu bersyukur atas takdirmu.”
Malam itu, Safa menangis lama di serambi masjid. Ia teringat masa-masa bersama ayahnya: makan singkong rebus, langkah-langkah di jalan berdebu, dan ucapan terakhirnya yang kini menjadi nyata bahwa ia tidak berhenti ngaji.
Bertahun-tahun kemudian, nama Ustadz Safa Rahman mulai dikenal di kalangan santri. Ia kembali ke pondok asalnya, mengajar tafsir dan fiqih, membantu Kiai memimpin majelis rutin.
Fairuz Zaman pun kembali dari studinya di Timur Tengah, dan mereka berdua kini mengasuh para santri muda seperti dua sahabat yang tumbuh dari akar yang sama.
Setiap kali ada santri baru datang dengan pakaian lusuh dan mata penuh harap, Safa selalu tersenyum dan berkata,
“Bawa niat yang kuat. Itu sudah cukup.”
Dan setiap malam, di kamarnya yang sederhana di samping masjid, ia masih menyimpan tumpukan surat-surat lama di bawah bantal surat yang tak pernah sempat dikirimkan kepada ayahnya.
Sesekali, ia membacanya lagi sambil berbisik pelan,
“Pak… Safa sudah ngaji. Safa sudah jadi ustadz, Pak. Doa Bapak masih hidup di dada Safa.”
Angin berhembus lembut dari arah makam pesantren, seolah membawa bisikan balasan dari langit, “Bapak bangga padamu, Nak.”
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















