Tebuireng.online- Jumat (28/6) Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) mengadakan acara NGOPI SUFI BARENG ALUMNI bersama Prof. KH. Lukman Hakim, MA., Ph. D. di Pondok Pesantren Tebuireng. Acara yang dihadiri oleh ratusan alumni Tebuireng dari berbagai daerah ini turut diramaikan oleh OG. El-Raudlah dari Kediri.

Ngopi Sufi adalah salah satu rentetan acara Halal bi Halal dan Temu Alumni Nasional XIV. Dalam sambutan ketua panitia Cak Rozi, menyampaikan bahwa acara ini adalah ide bersama kiai Lukman saat menghadiri acara di Masjid Agung Surabaya. “Ngopi Sufi adalah ide pertama saya dengan kiai Lukman ketika menghadiri Masjid Agung Surabaya,” paparnya.  

Acara ini dimoderatori oleh KH. Jauhari Sidroh yang sekarang masih menjadi pengurus senior di Tebuireng. “Berbagai identitas bisa campur lebur di Warung Kopi, Bagaimana sih kira-kira ngopi sufi itu, apakah ngopi dengan membahas semua hal tentang sufi, atau mengobrol tentang sufi dengan bertemankan secangkir kopi,” ungkap beliau membuka wacana hubungan dari kata NGOPI dan kata SUFI.

Kiai Lukman Hakim mengawali pembicaraan dengan pertanyaan, “Kenapa bapak-bapak dulu setiap ngopi selalu membaca al-fatihah kepada Syeikh Abil Hasan as-Syadzili?. Rupanya suatu hari beliau sedang khalwat di gua, tidak ada makan ketika itu selain biji kopi dan mengandung kafein yang sangat tinggi sehingga dianggap beracun. Beliau lalu bermunajat kepada Allah semoga biji kopi ini bermanfaat, menyembuhkan sakit jantung, menyembuhkan sakit-sakit dalam, dan semoga menguatkan iman”. Dari doa tersebut, kiai Lukman kaget dengan isi doa yang terakhir. “Yang ke empat ini yang menarik (menguatkan iman),” begitu paparnya.

Setelah menceritakan itu, kiai Lukman memetik satu berita di harian Kompas yang memaparkan hasil research dari Harvard University, ternyata sama dengan isi doa tersebut  bahwa kopi memiliki kemampuan menyembuhkan seperti itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selanjutnya, beliau membahas satu disertasi seorang mahasiswa UIN, orang banyak beribadah namun tambah stres. Ini adalah suatu yang perlu kita jadikan tantangan, bagaimana bisa seorang yang banyak beribadah malah semakin stres.

Kiai Lukman  juga bercerita, ada sebuah pertanyaan kalau Imam Nawawi dan Imam Rofi’i berbeda pendapat lalu pendapat siapa yang didahulukan. Seorang kiai pun ada yang menyampaikan pendapat bahwa Imam Nawawi saat mengarang kitab, tangannya bercahaya, sedangkan Imam Rofi’i bercahaya penanya. Beliau berpendapat bahwa tangan dengan pena yang lebih dekat ke hati adalah tangan.


Pewarta: Asna

Publisher: MSA

SebelumnyaNikmat & Siksa Kubur Menurut Pandangan Aswaja
BerikutnyaIsmail Nachu, Santri Tepat Menjadi Pengusaha