Nasionalisme Rasulullah dan Sahabat

sumber gambar: www.google.com

Oleh: Seto Galih P*

Nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan sebuah bangsa, atau juga dibahasakan dengan semangat kebangsaan (baca: KBBI).

Nasionalisme harus terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban dan berjuang demi bangsa, sehingga tetap lestari dan kemajemukannya baik dibidang agama, suku, dan budaya dapat terpelihara menjadi kekuatan riil yang memperkokoh kedaulatannya. Dengan demikian menghargai, melindungi, dan mengasihi. Nasionalisme juga laksana ruh yang menghidupkan identitas dan jati diri bangsa dalam kiprahnya di pentas percaturan dunia.

Jiwa nasionalisme wajib ada dalam setiap diri anak bangsa. Karena naionalisme merupakan aset berharga bangsa. Tanpa nasionalisme negara akan runtuh. Karena negara berdiri diatas rakyatnya. Nasionalisme ini sudah dicontohkan oleh para pendahulu-pendahulu kita. Seperti para pahlawan dan ulama di zaman kemerdekaan. Rasulullah SAW pun memberikan contoh tentang nasionalisme yakni mencintai negaranya sendiri yang terdapat pada hadits yang yang berbunyi:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ……. وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).

Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fath Al-Bari dan Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:

🤔  Kisah Seorang Pembegal Menjadi Ulama Ahli Ibadah

وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ

Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)

Sebegitu cintanya Rasulullah terhadap tanah kelahirannya Makkah dan tempat tinggalnya yakni Madinah. Selain itu para sahabat juga mengajarkan kepada kita untuk menanamkan jiwa nasionalisme dalam diri setiap anak bangsa. Salah satunya yakni Sayyidina Umar bin Khattab berkata dalam kitab Ruh Al-Bayan karangan Imam Haqqi bin Musthafa Al-Hanafi dalam salah satu atsar dari Umar bin Khattab dikatakan :

ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺣُﺐُّ ﺍﻟْﻮَﻃَﻦِ ﻟَﺨَﺮُﺏَ ﺑَﻠَﺪُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀ ﻓَﺒِﺤُﺐِّ ﺍﻟْﺎَﻭْﻃَﺎﻥِ ﻋُﻤِﺮَﺕِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥُ

“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur sebuah negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.”

*Siswa Madrasal Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng Jombang.