Oleh: Al Fahrizal*

Stoikisme, belakangan ini sering mencuat di laman media sosial kita. Barangkali karena konten Habib Ja’far dengan Ferry Irwandi, salah seorang yang mengaku menganut paham stoik dalam menjalani kehidupan. Lantas apa sebenarnya stoikisme itu? Apakah benar dengan memahami dan menjalani filsafat stoik, hidup kita benar-benar menjadi bahagia tanpa beban? Kenapa harus jauh-jauh ke Yunani kalau dalam kitab suci dan hadis Nabi juga terdapat seperti itu? Sebelum melalang buana jauh layaknya yang saya pikirkan, alangkah baik kalau kita mengetahui apa itu stoikisme.

Stoikisme adalah sebuah aliran atau mazhab filsafat Yunani kuno yang didirikan di kota Athena, Yunani, oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Ada pula yang mencatat stoikisme baru resmi pada tahun 108 SM. Stoik berasal dari bahasa Yunani stōïkos, yang berarti “dari stoa (serambi, atau beranda)”. Hal ini mengacu pada Stoa Poikile, atau “Beranda Berlukis”, di Athena, dimana filsuf stoik Zeno dari Citium yang berpengaruh besar terhadap stoikisme mengajar di tempat tersebut. Dalam istilah awam stoikisme kadang-kadang disebut sebagai “menderita dalam kesunyian”, dan etika yang terkait dengan hal itu. [1]

Prinsip dalam stokisme ini adalah dikotomi kendali. Yaitu ada hal-hal dalam hidup ini yang bisa kendalikan (faktor internal: opini, persepsi, keingininan, tujuan, serta segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri) dan yang tidak bisa kita kendalikan (faktor eksternal: tindakan dan opini orang lain, reputasi, kesehatan, kekayaan, kondisi kita saat lahir, seperti jenis kelamin, orang tua, etnis, kebangsaan, warna kulit, dan lain-lain).[2] Konsep filsafat ini adalah memfokuskan diri terhadap faktor internal yang bisa kita kendalikan, serta tidak ambil pusing dengan hal-hal di luar kendali, faktor eksternal.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Epictetus yang merupakan tokoh filsafat stoikisme menyebutkan dalam buku Enchiridion. “Hal-hal yang berada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal yang tidak di bawah kendali kita bersifat lemah, bagai budak, terikat dan milik orang lain. Karenanya, ingatlah, jika kamu salah mengira hal-hal yang bagaikan budak bersifat bebas, dan hal-hal yang merupakan milik orang lain sebagai milikmu sendiri, maka kamu akan meratap, dan kamu akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia.

Singkatnya, dalam menghadapi berbagai permasalahan dan keruwetan hidup, stoikisme membuka cakrawala berpikir, mana yang harus dihadapi, mana yang tak usah diambil pusing, mana yang benar-benar mendatangkan kebahagian, dan mana yang hanya menjadi beban pikiran. Karena, hal-hal yang berasal dari luar, itu tidak bisa dikendalikan. Kita tidak dapat menuntut orang lain untuk mengikuti ucapan kita, dan orang lain tidak semuanya suka dengan apa yang kita omongkan. Neighbor talk is wild, omongan tetangga itu liar, jadi ngapain diambil pusing.

Kira-kira begitulah konsep berpikir stoikisme yang dicetuskan oleh para filsuf Yunani. Lantas, bagaimana jika kita tarik ke ranah Islam yang mengacu pada al-Quran dan tindak-tanduk Rasulullah SAW?

Stoikisme dalam penerapannya, tidak bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Konsep berpikir sesuatu yang dapat dijangkau, juga sering kali ditemukan dalam Islam. Bukan menjadi pertentangan antara Islam dan stoikisme, justru logika stoikisme seolah-seolah diperkuat dengan ajaran Islam, serta diarahkan dalam naungan Ilahiyah. Mari simak berbagai ide yang coba dituangkan dalam tulisan ini.

Dalam kitab tafsir yang ditulis oleh Muhammad At-Tahir ibn ‘Ashur, yakni kitab At-Tahrir wa At-Tanwir menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sempat bersedih karena kematian pamannya, Abu Thalib yang tidak memeluk agama Islam. Pamannya tetap teguh memeluk ajaran nenek moyangnya yang menyimpang dan tidak benar. Karena kematian itu Rasulullah menjadi sedih. Karena orang yang sangat dicinta dan yang mengasihinya selama ini meninggal dalam keadaan kafir. Lalu, Allah SWT menegur Nabi agar tidak bersedih atas kematian pamannya di luar agama Islam. Teguran tersebut diabadikan dalam Al-Quran surah Al-Qoshoh ayat 56:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk.

Dari penggalan riwayat Nabi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa stoikisme itu sebenarnya selaras dengan Islam. Dalam Islam tidak diperkenankan seorang manusia untuk ikut campur dalam perihal yang bukan menjadi ranahnya. Sebagaimana yang diajarkan dalam cerita di atas, bahwa Nabi Muhammad SAW sempat bersedih karena kegagalannya dalam mengajak pamannya ke jalan yang benar. Tetapi kehendak Ilahi berkata lain, bahwa suratan takdir Abu Thalib adalah mati dalam keadaan kafir, Nabi kemudian bersedih dengan hal itu. Hanya karena “sedih” Allah menegur Nabi dengan ayat di atas.

Kemudian, hal lain yang dapat ditangkap dari peristiwa di atas adalah posisi Nabi di atas hanya sebatas penyampai ajaran dan pengajak ke jalan yang benar. Apakah kemudian orang-orang yang bertemu dengan Nabi itu mengikuti atau pun tidak, hakikatnya adalah keputusan Allah SWT.

Dua poin yang diajarkan oleh Nabi tersebut sangat stoik. Bahkan, Nabi menambahkan menambahkan satu lagi lubang dalam konsep stoikisme, yakni keberpasrahan dan penyerahan segala sesuatu kepada Dzat mutlak, Ilahi Rabbi. Karena hakikatnya manusia adalah makhluk yang berserah dan percaya pada Tuhan.

Demikian, konsep stoikisme pada dasarnya tidak bertentangan dengan Islam. Akan tetapi, dalam stoik masih ada satu jurang, yakni keterlibatan Tuhan dalam segala sesuatu. Memang benar, bahwa ajaran stoik ini sudah muncul sebelum Nabi Muhammad turun. Dan filsafat stoik juga, hanya bergerak dalam dunia akal, memang demikianlah filsafat. Namun sebuah konsep yang sangat gemilang antara akal dan hati (wahyu; Al-Quran dan Sunah) ketika dapat menjadi satu.


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Stoikisme#cite_note-Long-1

[2] https://nuansa.nusaputra.ac.id/2022/05/17/mengenai-filsafat-stoikisme/


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaBiografi Imam Suyuthi: Ulama Produktif dengan 600 Karya
BerikutnyaMengenal Pers Pesantren Secara Kaffah