
Tebuireng.online— Muhadhoroh Kubro Pondok Putri Tebuireng kembali digelar dan tahun ini berlangsung meriah di lapangan SMP A. Wahid Hasyim, pada Kamis malam (20/11). Acara yang diikuti oleh seluruh santri pondok putri ini menjadi ruang besar bagi kreativitas para santriwati, meski sempat diguyur hujan di tengah jalannya acara.
Rahmania Cahaya Ramadhan, santri kelas 11 MA Salafiyah Syafi’iyah yang dipercaya menjadi ketua panitia menerangkan tehtang tema besar yang diusung tahun ini adalah “Mesir Arab Kuno: Mengeksplorasi Tradisi dan Budaya Negeri Peradaban Islam.”
Menurut Rahmania, Mesir dipilih karena merupakan salah satu pusat awal berkembangnya peradaban Islam dengan sejarah panjang ilmu pengetahuan, perpustakaan, serta penyebaran Islam.
Baca Juga: Santri Putri Gelar Puncak Program Pendalaman Kitab Kuning
Tema tersebut juga diinisiasi oleh Ketua OSPI, Hayati Nufus, yang sejak tiga bulan lalu mulai menyiapkan konsep acara. Latihan-latihan para santri telah dimulai sejak dua bulan sebelumnya. Pembiayaan kegiatan berasal dari yayasan, serta didukung oleh donatur dan sponsorship. Panitia juga berkoordinasi dengan vendor peralatan acara. Meski sempat muncul kendala terkait tata krama vendor terhadap warga sekitar, seluruh persiapan tetap dapat dijalankan hingga hari pelaksanaan.
Hujan deras sempat mengguyur acara, namun tidak menyurutkan semangat panitia maupun peserta. “Sedih sih karena hujan, tapi semoga tidak hujan di tengah acara lagi dan performanya bisa maksimal,” ujar Rahmania.
Acara turut dihadiri oleh jajaran pengasuh, di antaranya Gus Fahmi, Bu Nyai Ainul Fadhilah, Bu Nyai Lelly Lailiyah, Bu Nyai Farida, Bu Nyai Aisyah, Haji Lukman, Gus Akbar, serta Gus Ivan. Selain pertunjukan, panitia juga memberikan penghargaan untuk Santri Teladan, Best Reader, serta tiga kategori ustadzah: Ustadzah Terinspiratif, Ustadzah Ter-Gen Z, dan Ustadzah Tergokil.

Para santri kelas 7 hingga 12 menampilkan berbagai pertunjukan yang mewakili wisma masing-masing. Ekstrakurikuler Kubaireng, Kudaireng, Tari Saman, dan SBQ turut meramaikan panggung Muhadhoroh Kubro.
Baca Juga: Semangat Berliterasi, 865 Santri Putri Kompak Ikuti Bedah Buku “Hilda”
Ketua panitia menegaskan bahwa acara ini merupakan kegiatan tahunan yang menjadi wadah kreativitas santriwati Tebuireng. Sementara itu, dalam sambutannya, Gus Fahmi menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya Muhadhoroh Kubro dilaksanakan di area outdoor. “Biasanya di Jabo. Tahun depan akan diusahakan tidak dilaksanakan pada musim hujan,” ujarnya.
Bu Nyai Lelly juga memberi pesan penuh semangat di tengah kondisi cuaca. “Walaupun hujan, kita tetap semangat menyaksikan kreativitas santri. Kreativitas itu termasuk dalam lima prinsip dasar kepesantrenan Tebuireng yakni BERKAH,” tutur beliau. Acara dibuka dengan pemukulan gong, kemudian dilanjutkan pemberian cinderamata kepada Wakil Kepala Pondok.
Ustadzah Fiqi Mutoharoh, yang mewakili pembina OSPI sekaligus pembina Unit Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan Pesantren, mengungkapkan bahwa acara ini dihadiri sekitar 800 santri dan 38 pembina serta mahasiswa. Ia menyampaikan rasa bangganya melihat para santri mampu mengelola acara besar tersebut.
“Sangat bangga karena ini pertama kalinya tampilan Muhadhoroh dilakukan di luar pondok. Kekompakan mereka terlihat ketika mengatasi masalah, seperti hujan lebat tadi. Mereka berusaha bersama-sama membersihkan genangan air,” ujarnya.
Baca Juga: Pondok Putri Tebuireng Latih Guru Metode Muwahhadah, KH. Mahmudin: Nada Seragam adalah Kunci
Terkait evaluasi untuk tahun mendatang, Ustadzah Fiqi menekankan pentingnya persiapan yang lebih matang. “Perencanaan harus sudah ada jauh-jauh hari, bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya,” pungkasnya.
Acara Muhadhoroh Kubro ini bukti menunjukkan kreativitas, kebersamaan, dan kerja keras para santri mampu melampaui tantangan, bahkan ketika cuaca tidak bersahabat ada sekitar 20 penampilan yang sudah disiapkan oleh para santriwati pondok putri Pesantren Tebuireng.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















