Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, menjadi pembicara dalam webinar series Majelis Wali Amanat UI

Tebuireng.online– Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH. Abdul Hakim Mahfudz menjadi narasumber dalam Webinar Series, Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI), melalui Zoom dan live YouTube ui.id, Rabu (2/6).

Acara tersebut mengangkat tema “Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan Bangsa dan Kemanusiaan”.

Dalam waktu yang singkat itu, Gus Kikin memaparkan mengenai model pendidikan pesantren yang dapat menjadi contoh pendidikan-pendidikan lainnya. Yang saat ini banyak menuai keresahan.

“Keresahan itu disebabkan bahwa dunia kini mengalami VUCA, Valatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas). Dengan kondisi yang seperti itu bagaimana dunia pendidik dapat berperan dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, adaptif, dan kompeten? Salah satu jalannya adalah program pendidikan swadaya masyarakat (pesantren),” ungkapnya.

Menurutnya keunggulan-keunggulan tersebut dapat dicetak melalui pendidikan pesantren. Pesantren telah aktif dalam dunia pendidikan sejak dulu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hal itu dibuktikan dengan terus berkembangnya pesantren dan madrasah yang saat ini mencapai 28.194 lembaga. Dengan siswa berjumlah 18 juta, dan 1,5 juta pengajar. Itu artinya pesantren mampu bertahan dalam berbagai perubahan (adaptif).

“Bahkan dengan model tradisionalnya, yang berupa sorogan, bandongan, dan sebagainya. Ditambah peran aktif dalam mempertahankan keutuhan bangsa, seperti yang dicontohkan oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Kikin kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa pesantren mampu mencetak SDM unggul? Yang saat itu pun dijawab langsung oleh beliau, yaitu ada pada ciri khas pendidikannya:

1. Pesantren mengolaborasi pendidikan dan pengajaran, mentransfer ilmu dalam ranah kognitif dan afektif,

2. Hubungan akrab antara santri dan kiai, mandiri dan sederhana, tolong menolong dan persaudaraan, disiplin dan tabah.

3. Wawasan keagamaan dan kebangsaan.

4. Penguatan pendidikan transendental (tarbiyah dan ruhiyah).

“Oleh karena itu untuk menjawab tantangan perubahan, lembaga pendidikan lain diharapkan mencontoh model pendidikan pesantren yang memberikan siswa semangat kolaborasi,” tegasnya.

Dengan semangat kolaborasi siswa yang belajar akan terpupuk jiwa saling menghormati, menghargai, tenggang rasa, tanggung jawab, jujur dan terbuka. Selain itu ada kombinasi antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan transendental.

Pewarta: Yuniar Indra

SebelumnyaMencintai Pancasila Seutuhnya
BerikutnyaSoal Reformasi Pendidikan, Rektor UI: Pandemi Memaksa Kita Membuat Terobosan