Mimpi, Puisi, dan Gelombang Rindu

ilustrasi: www.google.com

Oleh: Rara Zarary*

"Hari itu, hujan lebat sekali. Kita tidak jadi bertemu, kecuali saling meninggalkan pesan serupa puisi namun belum mengenal diksi, mirip dengan harapan namun tak ada permohonan, biar; kita namakan saja coretan-coretan bagi orang yang sedang bermimpi dan ingin bahagia."

Sejak reda hujan sore itu

kamu tidak lagi muncul

tiada siapapun yang memberi kabar, bahkan tiupan dedaun senja itu

aku hanya menunggu

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

 

sejak kemarau musim itu

kamu tidak lagi kulihat

juga dengan puisimu

atau sekadar mimpi yang akhirnya bubar

 

sejak perjanjian yang abu itu

kita hanyalah debu

yang ringkih di antara

harapan pemilih; melanjutkan atau memutus yang telah berkali-kali bertahan sebab dalih

 

hingga sejak aku lupa semuanya

tak ada aroma apapun

kecuali bau tinta membusuk

dan kertas-kertas dengan rupa buruk

sunyi, dari puisi yang masih tanpa diksi

 

sejak aku bermimpi

aku tidak pernah benar-benar menemukan kamu lagi

 

Tebuireng, 2019

 

 

🤔  Sang Pelita