
Malam turun perlahan, seperti tirai yang menutup panggung yang terlalu lama dipaksa ramai. Di kamar yang sempit itu, lampu menyala redup. Di atas kasur, Nara duduk memeluk lututnya sendiri.
Sunyi. Tapi kepalanya tidak pernah benar-benar sunyi.
“Emang aku hidup itu hanya untuk menuruti kata orang lain kah?”
Pertanyaan itu muncul lagi. Untuk kesekian kalinya. Seperti kaset rusak yang terus memutar lagu yang sama.
Sejak kecil, Nara selalu diajarkan satu hal: jangan membuat orang lain kecewa. Ia menuruti. Ketika orang tuanya ingin ia menjadi anak yang penurut, ia menundukkan kepala.
Ketika teman-temannya ingin ia selalu ada, ia datang meskipun sedang lelah. Ketika seseorang yang ia sayangi meminta lebih dari yang bisa ia beri, ia tetap mencoba memberi.
Ia selalu mengalah. Selalu mengikuti. Selalu menyesuaikan diri.
Karena jauh di dalam hatinya ada satu ketakutan besar yang tidak pernah benar-benar ia ucapkan kepada siapa pun— ditinggalkan. Nara takut sekali ditinggalkan.
Maka ia belajar menjadi seseorang yang selalu menyenangkan orang lain.
Jika orang ingin ia berubah, ia berubah. Jika orang ingin ia diam, ia diam. Jika orang ingin ia ada, ia ada. Tapi anehnya, semakin ia berusaha keras untuk tetap ada di kehidupan orang lain, semakin sering ia merasa sendirian.
Orang datang. Orang pergi. Dan Nara selalu yang tertinggal di tengah-tengahnya. Malam itu ia kembali membuka ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar. Tidak ada seseorang yang benar-benar mencarinya.
Nara tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip luka yang dipaksa tertutup.
“Kenapa aku rasa hidup itu tidak berpihak kepadaku?” Kalimat itu keluar begitu saja.
Ia menatap langit-langit kamar yang mulai retak di beberapa sudut. “Aku yang selalu ditinggalkan.”
Air matanya mulai turun, pelan. “Aku yang harus selalu ngikutin kata orang agar orang tidak meninggalkanku.”
Tangannya menggenggam ujung selimut. “Kayak seakan-akan aku takut kehilangan orang di sekitarku…” Ia tertawa kecil, tapi suaranya bergetar.
“Padahal orang di sekitarku juga masa bodoh dengan kehadiranku.” Sunyi kembali memenuhi kamar. Ada banyak hal yang tidak pernah berani ia katakan kepada siapa pun.
Tentang betapa sering ia merasa tidak penting. Tentang betapa sering ia merasa hanya menjadi pelengkap dalam hidup orang lain.
Tentang betapa sering ia merasa, tidak dibutuhkan. Nara memejamkan mata. “Apa kehadiranku tidak berharga?”
Suara itu hampir seperti bisikan. “Tidak berguna?”
Tangannya menekan dadanya sendiri, seperti mencoba menahan sesuatu yang terlalu penuh di dalam sana.
“Kapan ada orang yang benar-benar menginginkan kehadiranku dalam hidupnya?” Pertanyaan itu meluncur ke udara kamar yang dingin.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Tik. Tik. Tik.
Nara bangkit dari kasurnya. Ia membuka jendela kecil di samping meja. Udara malam masuk perlahan. Langit di luar gelap, hanya ada beberapa bintang yang terlihat. Ia menatap langit cukup lama.
“Emang Tuhan menciptakan aku di kehidupan orang lain itu buat apa sih?” Suara Nara terdengar lebih lirih sekarang.
“Buat aku menyembah mereka agar tidak ditinggalkan?” Angin malam menyentuh wajahnya.
“Apa orang lain diciptakan hadir dalam kehidupanku untuk apa?” Ia tidak tahu kepada siapa ia bertanya.
Mungkin kepada Tuhan. Mungkin kepada dirinya sendiri. Atau mungkin kepada dunia yang terasa terlalu luas untuk seseorang yang hatinya sedang retak.
Nara menundukkan kepala. “Capek rasanya excited sendiri…” Air matanya jatuh lagi.
“Dalam segala hubungan.” Ia mengingat semua percakapan yang dulu ia mulai lebih dulu.
Semua rencana yang ia usulkan. Semua perhatian yang ia beri. Dan betapa seringnya semua itu kembali dalam bentuk diam.
“Dalam keluarga…” Ia mengingat bagaimana ia selalu mencoba menjadi anak yang tidak merepotkan.
“Dalam pertemanan…” Ia mengingat betapa sering ia datang lebih dulu dan pulang terakhir. Nara menghela napas panjang.
“Aku se-enggak berguna itu ya…” Ia berhenti sejenak. Kalimat itu menggantung di udara.
Di luar jendela, seorang ibu lewat sambil menggandeng anak kecil. Anak itu tertawa keras, suaranya sampai ke kamar Nara. Nara menatap mereka. Anak kecil itu tiba-tiba berhenti berjalan.
Ia menunjuk langit. “Bu, lihat! Bintangnya banyak!” Ibunya tertawa kecil.
“Iya, Nak. Bintang memang banyak. Tapi kadang kita cuma lihat satu dua saja.” Mereka berjalan lagi.
Tapi kalimat itu tertinggal di kepala Nara. Kadang kita cuma lihat satu dua saja. Nara kembali menatap langit. Ada banyak bintang di sana. Beberapa kecil sekali.
Beberapa hampir tidak terlihat. Tapi mereka tetap ada. Tetap menyala. Meskipun tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Untuk pertama kalinya malam itu, Nara tidak merasa harus menjadi bintang paling terang.
Ia hanya perlu tetap menyala. Walaupun kecil. Walaupun pelan. Walaupun tidak semua orang melihatnya. Karena mungkin, nilai seseorang tidak ditentukan oleh siapa yang bertahan di hidupnya.
Kadang nilai seseorang justru terlihat dari seberapa kuat ia tetap hidup meski sering merasa sendirian.Nara mengusap air matanya. Hatinya belum sembuh. Lukanya masih ada.
Pertanyaannya juga belum semuanya terjawab. Tapi malam itu ia memahami satu hal yang sederhana namun dalam, bahwa seseorang tidak diciptakan hanya untuk menjadi tempat orang lain datang dan pergi.
Seseorang diciptakan untuk hidup. Untuk merasakan. Untuk jatuh. Untuk bangkit. Dan mungkin, suatu hari nanti. akan ada seseorang yang datang bukan untuk pergi. Bukan karena Nara berubah menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi karena mereka akhirnya melihat, bahwa keberadaan Nara sendiri sudah cukup berarti.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















