Suasana di Pesantren Tebuireng, santri dan masyarakat usai shalat Idul Adha, Ahad (10/7/2022). (foto: asf/amr/dms/to)

Oleh: KH. Amir Jamiluddin*

Makna dari takwa menurut pendapat Imam Al Ghazali bahwa iman itu adalah:

 امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه

Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ada sebuah perbedaan pendapat antara Ahlu Sunnah dan Mu’tazilah mengenai iman, iman menurut Ahlu Sunnah bisa bertambah atau berkurang  يزيد أو ينقص  tapi beda halnya dengan Mu’tazilah yang berpendapat kalau iman itu satu, dan lawannya adalah tidak beriman/kafir, tapi yang dimaksud iman itu bertambah atau berkurang adalah bukan makna haqiqi dari iman yang berarti membenarkan apa saja yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tapi yang dimaksud adalah segala hal yang menyempurnakan iman, yaitu perbuatan yang salih/baik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Allah akan memberikan hadiah yang besar kepada orang Islam mulai zaman nabi Adam sampai nabi Muhammad SAW dengan disyariatkannya kurban, karena inilah sarana taqorrub kepada Allah SWT.

Kurban dibagi menjadi tiga klasifikasi, yaitu qurban bil mal (harta), nafs (jiwa), mal wa nafs (harta dan jiwa), lalu ada sebuah sejarah dalam Al Qur’an mengenai awal mula adanya syariat kurban dalam Islam, yaitu pada zaman Nabi Adam as, pada waktu Allah memerintahkan kepada Qabil dan Habil melalui Nabi Adam untuk berkurban, kemudian Qabil yang petani memberikan kurban dari hasil bumi, tapi dia memilih yang paling jelek dari apa yang dia miliki, sedangkan Habil yang peternak, ia berkurban dengan hewan terbaik yang dimilikinya, dan inilah yang dinamakan qurban dengan harta.

Lalu ada sebuah tradisi jahiliah yang apabila berqurban dengan hewan, mereka mengoleskan darah hewan ternak mereka ke Ka’bah atau berhala-berhala, lalu ketika Rasulullah hadir ditengah mereka tradisi itu diubah dengan adanya ayat:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ  كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-Hajj[22]:37

Ayat ini memberi tuntunan kepada kita apabila akan berqurban harus murni karena Allah semata, bukan karena sombong atau gengsi.

Kemudian yang kedua adalah qurban/jihad dengan jiwa seperti para Mujahidin, jika dipesantren mungkin tenaga kerja disitu bisa dikatakan sebagai qurban dengan jiwa, karena dengan inilah kita berinvestasi akhirat jika kekurangan rizqi berupa harta untuk dikurbankan. Jangan coba-coba meremehkan jihad bin nafs, karena Rasulullah saja sangatlah mengapresiasi hal ini, buktikan beliau sampai rela mendatangi makam seorang perempuan marbot masjid pada waktu itu ketika beliau menerima berita kewafatannya.

Lalu yang ketiga adalah kurban dengan harta dan jiwa, seperti contoh kiai pada zama lampau, beliau rela mengajar santri bahkan juga dikasih penghidupan yang layak, misalnya pada zaman Mbah Hasyim dan kiai Idris di Tebuireng.

Bagi orang-orang kecil jangan khawatir sodaqoh bisa dengan apapun, kita menahan untuk tidak bermaksiat adalah sodaqoh, berbuat baik juga termasuk dari sodaqoh, membaca kalimat tayyibah juga sodaqoh,  maka yang terpenting apapun takdir Allah kita terima, insyaallah kita jadi manusia yang dapat ridhonya dan selamat dunia akhirat.


  • Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Jombang
  • Khutbah ini disampaikan saat Idul Adha (10/7/2022), di Masjid Tebuireng Jombang.
  • Ditranskip oleh: Noer Diansyah / tebuireng.online
SebelumnyaResmi, Pesantren Tebuireng Kembalikan Sistem Diniyah Pondok
BerikutnyaSelamat Jalan, Ayah