sumber ilustrasi: bincangsyariah

Oleh: Almara Sukma*

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang berhubungan dengan ibadah yang dilaksanakan setiap hari. Umat muslim melaksanakan shalat wajib sebanyak 5 kali dalam sehari. Shalat merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat islam, bahkan amal yang dihisab pertama kali adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka amal yang lain ikut baik.

466 أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ – يَعْنِي ابْنَ بَيَانِ بْنِ زِيَادِ بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ : كَتَبَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ عَنْهُ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَوَّامِ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ وُجِدَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ تَامَّةً، وَإِنْ كَانَ انْتُقِصَ مِنْهَا شَيْءٌ قَالَ : انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ، يُكَمِّلُ لَهُ مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَةٍ مِنْ تَطَوُّعِهِ ؟ ثُمَّ سَائِرُ الْأَعْمَالِ تَجْرِي عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ “.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasullullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah SWT mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”[1]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hadis di atas menunjukkan betapa pentingnya shalat bagi orang Islam, shalat sangat berhubungan dengan kehidupan akhirat. Apabila di akhirat kelak ingin mendapatkan keberuntungan dan keselamatan maka, cara yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki shalat.

Hukum shalat bagi orang muslim yang sudah memenuhi syarat-syarat adalah wajib. Orang yang sudah dikenai hukum wajib melaksanakan shalat apabila ia meninggalkan shalat, baik sengaja atau tidak sengaja maka orang tersebut wajib mengqadha’ shalatnya. Terkadang, ada beberapa orang Islam yang meninggalkan shalat karena alasan-alasan tertentu dan belum sempat mengqadha’ shalatnya sampai dia meninggal dunia.

Bagaimana apabila ada orang yang ketika hidupnya belum mengerjakan shalat wajib, apakah ahli warisnya atau salah satu dari keluarganya harus mengqadha’ shalatnya?

من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية

ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه، كالصوم

وفي وجه – عليه كثيرون من أصحابنا – أنه يطعم عن كل صلاة مدا.[2]

[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,1/33]

Orang yang meninggal dalam keadaan mempunyai hutang shalat, maka tidak wajib diqadha’ dan tidak wajib membayar fidyah. Ibnu Burhan meriwayatkan dari qoul qadim; Jika mayyit meninggalkan harta warisan, maka boleh bagi walinya untuk mengqadha’i shalatnya mayyit sebagaimana puasa. Sedangkan menurut mayoritas sahabat memberikan satu mud makanan pokok untuk setiap shalat yang ditinggalkan.

Dari dalil di atas dijelaskan bahwa hukum orang yang telah meninggal puasa akan tetapi ada shalat yang belum dikerjakan ada 2: Pertama, tidak perlu mengqadha’ shalat wajib bagi orang yang sudah meninggal akan tetapi ketika hidupnya ia pernah meninggalkan shalat. Kedua, boleh mengqadha’ shalat wajib bagi orang yang sudah meninggal. Baik dengan mengganti shalatnya secara langsung atau dengan membayar fidyah.

Dalam kitab I’anah al-Thalibin juga dijelaskan bahwa As-Subki mengikuti pendapat boleh mengqadha’ puasa. Beliau mengqadha’ shalat untuk sebagian sanak familinya yang sudah meninggal. Bahkan, sebagian ulama juga membolehkan membayar fidyah untuk mengganti shalatnya orang yang meninggal sebanyak satu mud bagi setiap shalat wajib yang ditinggalkan.

Berdasarkan dua pendapat di atas, maka keluarga orang yang telah meninggal dunia diperbolehkan mengqadha’ shalat tersebut dan boleh juga tidak mengqadha’ shalatnya, boleh juga tidak membayar fidyah sebagai pengganti shalat yang ditinggalkan si mayyit dan hukumnya tidak berdosa. Akan tetapi jika keluarganya ingin mengqadha’ shalatnya atau ingin membayar fidyah untuk mengganti shalat yang ditinggalkan si mayyit maka diperbolehkan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

[1] HR. Imam Nasa’I no 466

[2] Sayyid Bakri Syatha. I’anah al- Tholibin, 1, 33

SebelumnyaMerawat Kesaktian Pancasila
BerikutnyaPahami 9 Maksud ‘Larangan’ dalam Ushul Fiqh