Mengenang Abah Thobib Husnaini, Santri Hadratussyaikh

222

Sosok kyai itu bernama Abah Thobib atau biasa dipanggil Abah Naini. Beliau bernama lengkap KH. Ahmad Thobib Husnaini kelahiran Jombang. Beliau berasal dari Tanjunganom Diwek Jombang) yang akhirnya berdomisili di Gebang Putih Surabaya.

santri-santri Beliau biasa memanggil beliau dengan “Mbah Yai”. Menurut penuturan dari  salah satu santri alumni ITS Surabaya, menurut pandangannya Beliau sangat memahami betul keaadaan psikologis santrinya,  apa yang di butuhkan santrinya. Sehingga setiap kali menasehati santri selalu berbeda-beda pesan beliau ke pada santri yg lain tergantung keaadaan santri tersebut.  Inilah salah satu keistimewaan beliau,  yang dalam istilah pesantren beliau benar-banar menjadi “Murobbi Ruhina” bagi santri.

Selain itu, Kiai sederhana yang gemar menerima tamu dari kalangan manapun ini sangat sejuk dan santun tutur katanya. Sebagai panutan dan tokoh masyarakat, beliau tergolong jauh dari publikasi.

Kiai Thobib tatkala disowani, beliau selalu menanyai satu-persatu tamu tersebut dengan sorot mata teduhnya, beliau menatap para tamu yang ada di depannya. Seperti halnya para Kiai sepuh lain, beliau sangat menghormati para tamu. Bahkan menyuguhkan langsung jajanan ke hadapan tamunya agar berkenan mencicipi suguhannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau santri Mbah Hasyim yang sangat rajin dan tekun, pada waktu itu tidak ada transportasi umum seperti sekarang yang jumlahnya sangat pesat. Sehingga pada waktu itu beliau berangkat ke Pesantren Tebuireng dengan jalan kaki. Setapak demi setapak belia lalui proses itu dengan penuh keikhlasan bersama sahabat karibnya (almarhum mbah putra saya) yang berasal dari desa yang sama yaitu Tanjung Anom, Diwek, Jombang (info dari mbah putri saya).

Mbiyen, aku menangi enome Gus Dur pas di Tebuireng” (dulu, saya pernah menyaksikan masa remajanya Gus Dur di Tebuireng). Sehingga tidak mengherankan bila beliau kenal baik dengan Presiden RI ke-4 itu. Lalu saya pun bertanya tentang Tebuireng doeloe kala. “Santri Tebuireng mbiyen nek arep boyong kudu nguasai kitab Taqrib, Muin, Wahab disek. Onok sijine cerito santri lawas sing arep boyong sowan Mbah Hasyim Asy’ari, nah karo Mbah Hasyim Asy’ari didawuhi ngene: “awakmu nek boyong minimal wes nguasai kitab taqrib, terus apik maneh muin, luweh apik maneh wahab. Soale iku kabeh sangu urip neng masyarakat” (kamu kalau pulang/boyong minimal harus menguasai kitab taqrib, lalu baik lagi Muin, lebih baik lagi Wahab. Sebab kesemua itu bekal hidup bermasyarakat).

🤔  Tatkala Kiai Hasyim Menegur Seorang Ahli Ibadah

Kisah tentang dawuh Mbah Hasyim Asyari yang diceritakan Abah Thobib ini mengisyaratkan bahwa santri Tebuireng yang akan boyong harus memiliki pondasi ilmu syariah yang kokoh dan memperkaya diri dengan ragam keilmuan sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. Sehingga ketika si santri boyong, ia siap bergaul dan menjadi pengayom masyarakat.

Apa yang KH. Thobib utarakan ternyata direalisasikan oleh beliau sendiri dengan mendirikan pesantren tahfidh anak-anak. Hal ini bertujuan untuk membentuk generasi qurani.

Dikisahkan, suatu ketika Abah Thobib bepergian luar kota lewat jalur Pantura, tiba-tiba situasi jalanan macet lantaran ada pemeriksaan kelengkapan surat. Padahal saat itu beliau harus tepat waktu untuk menghadiri acara di satu tempat. “Pripun niki, bah?” Tanya sopir beliau. “Terus ae, nek sampek dihadang polisi, engko tak adepi” (terus saja, kalau sampai dihadang polisi saya yang menghadapi).

Sang sopir pun menginjakkan gas patuh Abah Thobib untuk menerobos kemacetan akibat pemeriksaan surat berkendara, tiba-tiba tepat beberapa meter berdirilah polisi sambil “nyemprit” peluitnya. Sejenak berhentilah laju mobil.

“Selamat malam, mohon ditunjukkan kelengkapan SIM dan STNKnya”. Ucap pak Polisi kepada si sopir. Lalu sopir itu pun berkata: “Maaf, pak. Saya terburu-buru sebab ‘nderekaken‘ (mengantarkan) Kiai Thobib pengajian”. Polisi itu sontak terkejut, secepatnya ia menunduk melihat sosok disebelah sopir. “MasyaAllah, Kiaiku iki”, kata pak Polisi.

Polisi itu membuka pintu mobil dan “sungkem” Kiai Thobib. “Kiai, niki kulo santri njenengan nate ngaos dateng njenengan” (Kiai, ini saya santri panjenengan yang pernah ngaji kepada panjenengan). Kiai Thobib tersenyum lalu bertanya seputar kabar keluarga dan beliau berpesan agar menjadi polisi yang jujur dan tetap kudu ingat sholat ngajine. Kemudian Abah Thobib dibukakan jalan untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak cukup dengan mendirikan pesantren saja, Abah Thobib juga dikenal sebagai Kiai yang istiqomah mengadakan haul Syekh Abdul Qadir Al-Jilani tiap tahun dan ijazahan manaqib. Seluruh tamu dari berbagai kalangan di tanah air tumplek blek menghadiri haul tersebut yang biasanya diawali semaan al-quran dengan melibatkan para samiin dari berbagai daerah di tanah Jawa.

Semoga perjuangan dan ajaran beliau menjadi penyemangat untuk istiqamah menyalakan lentera ilmu serta bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan negara. Mudah-mudahan kita bisa meneladani sifat beliau. Aamiin.


Dikutip dari tulisan A. Karomi di laman website www.halaqoh.net