sumber ilustrasi: sindonews-kalam

Ulama Perempuan yang Terkenal karena Ilmu dan Ketaatannya (bag #1)

Oleh: Nur Indah Nailaturrahmah*

Imam Syafi’i merupakan seorang mufti besar umat Islam yang juga pendiri dari mazhab Syafi’i. Tapi siapa sangka satu dari sekian guru Imam Syafi’i adalah sosok ulama perempuan hebat yang memiliki karomah yang jarang kita ketahui? Berikut dalam tulisan ini akan kita bahas biografi dan rekam jejak sosok guru perempuan itu, yakni Sayyidah Nafisah.

Sayyidah Nafisah binti al-Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, lahir di Makkah pada pertengahan bulan Rabi’ul Awal, tahun 145 H. Saat usia lima tahun, Sayyidah Nafisah dibawa orang tuanya ke Madinah untuk mengaji kepada sejumlah ulama perempuan dari kalangan sahabat dan tabi’in sampai menguasai berbagai ilmu.

Diantara ilmu yang dikuasai adalah Al Quran, Tafsir, Hadis dan Fikih. Hingga ia mendapat julukan “Nafisah al-‘Ilm wa karamah ad-darain”. Julukan tersebut artinya adalah Nafisah sang ulama perempuan dan perempuan mulia di dunia dan akhirat. Diceritakan dalam kitab Mursyîduz Zuwar, Sayyidah Nafisah terkenal karena kesungguhan beribadah semenjak masih belia. Ia beribadah malam tanpa pernah tidur selama 40 karena kekhawatiran atas nasibnya di akhirat kelak. Hal itu disaksikan oleh keponakannya, Sayyidah Zainab. Syekh Muwaffiquddin bin Utsman (wafat 615 H) menceritakan:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Konon ia (Sayyidah Nafisah) berjalan kaki, selama tiga tahun sambil berpuasa dan selalu melaksanakan shalat malam di Makkah di setiap tahunnya untuk melaksanakan haji. Sayyidah Zainab selaku keponakan dari Sayyidah Nafisah menyampaikan kesaksiannya tentang ibadah bibinya tersebut. Nama Sayyidah Nafisah tidak hanya terkenal di daerah Hijaz, namun juga Mesir dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Sayyidah Nafisah tinggal di rumah yang dihibahkan Abdullah bin as-Sirri bin al-Hakam, yakni gubernur Mesir pada saat itu. Sayyidah Nafisah menghabiskan waktunya untuk mengaji, mengajar, mendidik umat, dan beribadah kepada Allah.

Pada tahun 198 Hijriyah, Imam Syafi’i datang ke Mesir, ia tinggal di sana lebih dari empat tahun. Imam Syafi’i mengarang kitab-kitabnya yang bagus dan penuh makna sehingga namanya dikenal. Karena hal itu juga, orang-orang menerima dan mencintainya. Tersebarlah mazhab Imam Syafi’i di tengah-tengah mereka. Imam Syafi’i suatu ketika meminta untuk bertemu dengan Sayyidah Nafisah. Imam Syafi’i selalu pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia selalu meminta doa kepada Sayyidah Nafisah dan mengharap keberkahannya. Imam Syafi’i mendengarkan Hadis darinya. Imam Syafi’i, jika sakit, ia mengutus muridnya sebagai penggantinya.

Air Wudhunya Sembuhkan Penyakit

Beberapa tahun ada di Mesir, Sayyidah Nafisah hidup bersama masyarakat. Mereka sangat menghormatinya, selain karena keturunan Rasulullah saw, ia juga memiliki derajat sangat mulia. Menurut Syekh Jabbar Siraj, Sayyidah Nafisah bersama suaminya tinggal di rumah Umi Hani’. Rumah yang ditempatinya berdampingan dengan rumah keluarga Yahudi yang mempunyai anak perempuan lumpuh.

Suatu ketika, Si Ibu ingin pergi ke pemandian umum. Ia bertanya kepada anaknya, “Kamu ikut aku atau bagimana?”. “Titipkan saja aku ke perempuan itu (Sayyidah Nafisah),” jawab Si Anak. Si Ibu pun menitipkan anaknya di rumah Sayyidah Nafisah. Saat waktu Dzuhur tiba, Sayyidah Nafisah berwudhu. Air bekas wudhunya kemudian mengalir sampai di samping anak lumpuh tersebut. Si Anak pun seketika menyentuh air dan mengusapkannya ke seluruh tubuh. Atas izin Allah, Si Anak dapat berdiri dan berjalan seperti tidak pernah lumpuh sama sekali. Ketika ibunya kembali, ia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Si Anak lalu menceritakan peristiwa dahsyat yang dialaminya. Mendengar penuturan kejadian itu, Si Ibu dan semua keluarganya bersyahadat masuk Islam dengan bimbingan Sayyidah Nafisah. Seiring tersebarnya berita ini, lebih dari 70 Yahudi masuk Islam dalam waktu singkat dan semakin banyak orang berkunjung ke rumah Sayyidah Nafisah untuk meminta doa serta mengharap berkah darinya.” (Jabbar Siraj, Qishshatu Sayyidah Nafisah, [Yaman, Maktabah Taufiqiyah], halaman 19).

Mengalirkan Air Sungai Nil saat Paceklik

Syekh Taufiq Abul Ilmi dalam kitabnya berjudul Sayyidah Nafisah Radhiyallâhu ‘Anha menjelaskan, suatu ketika Sayyidah Nafisah ada di Mesir terjadi paceklik yang sangat parah. Sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan mereka mengering dan kebutuhan masyarakat pada air sangat mendesak. Syekh Taufiq lalu mengatakan:

فَجَاءَ النَّاسُ اِلَيْهَا وَسَأَلُوهَا الدُعَاءَ فَأَعْطَتْهُمْ قنَاعَهَا فَجَادُوْا بِهِ اِلَى النَّهَرِ وَطَرَحُوْهُ فِيْهِ فَمَا رَجَعُوْا حَتَّى زَخَرَ النَّيْلُ بِمَائِهِ وَزَادَ زِيَادَةً عَظِيْمَةً

“Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan meminta doa kepadanya, kemudian ia memberi mereka sebuah kain. Mereka lalu membawanya ke sungai Nil, (setelah sampai) mereka melemparkan kain itu. Mereka pun tidak pulang sampai air sungai Nil berisi penuh, bahkan semakin bertambah sangat banyak.” (Taufiq Abul Ilmi, Sayyidah Nafisah Radhiyallâhu ‘Anha, [Mesir: Wazâratul Auqâf: 2001], halaman 104).

Tidak hanya itu karomah yang ada pada diri Sayyidah Nafisah, terdapat banyak kisah dan rekam jejak Sayyidah Nafisah yang perlu diungkap untuk dijadikan teladan bagi semua umat Islam utamanya kaum perempuan, hal tersebut juga membuktikan bahwasanya kaum perempuan banyak berperan di panggung sejarah Islam.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

SebelumnyaPeletakan Batu Pertama Tebuireng 19, Ini Apresiasi Tokoh di Lombok
BerikutnyaKehidupan yang Baik Menurut Imam Al-Qurtubi