sumber ilustrasi: inspirasiatta.com

Oleh: Nurdiansyah Fikri Alfani*

Dalam surat an-Nahl ayat 97 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Jika diperhatikan ada yang menarik dengan ayat ini, ada sebuah kata yaitu hayatan thayyibah yang mempunyai arti kehidupan yang baik, dan kehidupan yang baik ini akan diberikan kepada mereka yang berbuat kebaikan dan beriman kepada Allah baik laki-laki maupun perempuan. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lalu timbul pertanyaan kehidupan yang baik seperti apa yang dimaksudkan dalam ayat ini, Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan beberapa maksud dari firman Allah hayatan thayyibah dalam surat an-Nahl tadi.

Dalam keterangannya imam al-Qurtubi menjelaskan kalau yang dimaksud dari hayatan thayyibah berbagai macam pendapat:

Pertama: الْأَوَّلُ أَنَّهُ الرِّزْقُ الْحَلَالُ، قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ

Maksud dari hayatan thayyibah adalah rezeki yang halal, ini adalah pendapat Ibnu Abbas.

Kedua: الثَّانِي الْقَنَاعَةُ، قَالَهُ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ

Hayatan thayyibah adalah qonaah, ini pendapat dari Hasan al-Basri.

Ketiga: الثَّالِثُ تَوْفِيقُهُ إِلَى الطَّاعَاتِ فَإِنَّهَا تُؤَدِّيهِ إِلَى رِضْوَانِ اللَّهِ، قَالَ مَعْنَاهُ الضَّحَّاكُ

Hayatan thayyibah adalah bimbingan Allah untuk taat kepadanya, karena dengan taat ridha Allah bisa diraih, ini adalah pendapat dari Dhahhak.

Lalu dari tiga pendapat di atas masih ada beberapa pendapat lain mengenai hayatan thayyibah diantaranya adalah ada yang menafsirkan hayatan thayyibah dengan makna surga, kenikmatan iman, makrifat kepada Allah, merasa cukup dengan makhluk dan sangat bergantung kepada Allah, dan ridha terhadap ketetapannya. 

Dari beberapa penafsiran kata hayatan thayyibah kita seakan-akan dimotivasi oleh Allah SWT agar berbuat kebajikan dan iman kepadanya, dengan kebaikan disamping bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya juga bisa berdampak baik bagi dirinya sendiri, oleh karenanya marilah kita berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan tanpa mengharapkan balasan dari orang lain karena tujuan berbuat baik adalah mendapatkan ridha Allah.

Referensi: [Al-Qurtubi, Syams al-Din, Tafsir al-Qurtubi, 10/174]

*Santri Tebuireng.

SebelumnyaMengenal Karomah Sayyidah Nafisah, Guru Imam Syafi’i
BerikutnyaKunci Hidup Bahagia Ala Nabi