
Ada anak-anak yang belajar berbakti melalui pelukan dan kata-kata lembut. Namun, ada pula anak-anak yang menunaikan baktinya dalam sunyi, memilih diam saat ingin bersuara, mengalah agar tidak melukai dan memanjangkan kesabaran hingga waktu sendiri menjadi saksi. Kisah ini adalah tentang jenis berbakti yang kedua: sunyi, tidak terlihat, namun berat timbangannya.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam keadaan yang tidak sepenuhnya lengkap. Ayahnya pergi terlalu cepat, meninggalkan ibunya dengan dua anak dan beban hidup yang tidak ringan. Sejak saat itu, ia pelan-pelan memahami bahwa hidup tidak selalu memberi ruang untuk menjadi anak kecil. Ia dipaksa belajar dewasa lebih cepat dari seharusnya.
Baca Juga: Ujian Antara Birrul Walidain dan Semangat Menuntut Ilmu
Sebagai anak sulung, ia sering merasa perhatian ibunya lebih banyak tercurah kepada sang adik. Bukan karena ibunya tidak peduli, melainkan karena kondisi hidup menuntut ibunya lebih cemas kepada yang dianggap lebih lemah. Ibunya berjuang keras dalam keterbatasannya. Ia memahami itu, meski perasaan sepi kerap datang tanpa diundang.
Ia tidak pernah benar-benar menuntut. Tidak ada kalimat protes yang keluar dari mulutnya. Dalam hatinya, ia justru berpikir, “Jika aku ikut meminta dan mengeluh, siapa yang akan menguatkan ibu?” Maka sejak dini ia memilih satu jalan: mengalah. Keadaan hidup menuntutnya belajar menepi.
Ketika kondisi ekonomi semakin sulit dan ibunya terjerat utang, keputusan berat pun hadir. Ia memilih tinggal di panti asuhan agar tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa memberatkan ibunya. Keputusan itu bukan karena ia dibuang, melainkan karena ia sendiri yang mencari jalan agar ibunya bisa bernapas lebih lega.
Di usia ketika anak-anak lain pulang sekolah membawa cerita dan keluh kesah, ia pulang membawa rindu, rindu yang harus disimpan, karena ia sadar tidak semua rindu bisa diminta untuk dipenuhi.
Ia tumbuh menjadi remaja yang terbiasa menahan diri. Hingga akhirnya ia lulus SMA dengan satu harapan sederhana: bisa melanjutkan pendidikan dan kelak membahagiakan ibunya. Namun, sekali lagi, harapan itu harus berbagi ruang dengan kenyataan.
Baca Juga: Menjadi Perempuan Salihah dan High Value
Perhatian ibunya masih banyak tersita untuk biaya pendidikan sang adik. Sementara ia kembali berada di titik yang sama, harus mencari jalan sendiri. Beasiswa menjadi satu-satunya pintu. Ia mengetuknya dengan doa dan usaha. Ketukan pertama, pintu itu belum terbuka.
Pada masa itu, ia berada di ambang keputusan berat: mengundurkan diri dari perguruan tinggi karena tidak ada biaya untuk melanjutkan. Bukan karena malas berjuang, tetapi karena tidak ingin menjadi beban. Dalam kegamangan itu, ia memilih bekerja paruh waktu di sebuah angkringan.
Tidurnya hanya tersisa sekitar tiga hingga empat jam setiap hari. Tubuhnya lelah, pikirannya penat. Namun ia percaya, selama ia masih berusaha, Tuhan tidak akan menutup semua jalan. Rasa syukur atas nikmat yang Allah beri perlahan menggantikan lelah dan pusing dengan ketenangan batin.
Di sela kesibukan bekerja, ia memberanikan diri berkonsultasi ke berbagai bagian administrasi perguruan tinggi. Ia datang sendiri, tanpa pendamping, menjelaskan kondisinya dengan segala keterbatasan. Tidak mudah, tetapi ia tidak menyerah.
Takdir pun bergerak dengan caranya sendiri. Pada ketukan kedua, ia dinyatakan lolos mendapatkan beasiswa sebagai pengganti mahasiswa yang mengundurkan diri, meski harus tertinggal satu periode. Baginya, itu bukan kegagalan, melainkan kesempatan yang tertunda, jawaban atas doa-doa yang lama dipanjatkan dalam diam.
Baca Juga: Harus Seimbang, Hormat kepada Guru dan Orang Tua
Namun perjalanan itu belum selesai. Seiring berjalannya waktu, usaha jahitan ibunya mulai sepi. Dalam keterbatasan tersebut, ibunya kembali meminta bantuannya. Beasiswa yang ia dapatkan kembali digunakan untuk membantu biaya pendidikan sang adik.
Di titik ini, hatinya kembali diuji. Dalam sunyi ia bertanya, “Apakah sejak kecil aku memang ditakdirkan untuk terus mengalah? Apakah aku pernah benar-benar mendapatkan hakku sebagai seorang anak?”
Perasaan itu membuatnya menjaga jarak. Ia menjadi lebih diam dan cuek, bukan karena benci, melainkan karena lelah berharap. Di sisi lain, kesadaran dalam dirinya tetap hidup. Ia tidak ingin melukai hati ibunya, meski ia sedang berjuang dengan perasaannya sendiri.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah ia durhaka karena merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan menjadi kurang peduli? Ataukah justru sikap mengalah dan bersabar itu adalah bentuk lain dari birrul walidain?
Melalui proses belajar, termasuk saat mendalami Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ia perlahan memahami bahwa berbakti kepada orang tua bukan berarti mematikan perasaan. Birrul walidain bukan tentang tidak pernah terluka, tetapi tentang bagaimana seseorang menyikapi luka itu. Allah berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14)
Ayat ini tidak menafikan beratnya perjuangan orang tua, sekaligus tidak menutup mata atas beratnya proses seorang anak dalam belajar berbakti.
Dalam Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua tidak dimaksudkan untuk meniadakan pergulatan batin seorang anak. Relasi anak dan orang tua, menurutnya, sangat mungkin diwarnai rasa lelah, keterbatasan, bahkan luka perasaan.
Baca Juga: Kunci Meraih Keberkahan Hidup
Namun Al-Qur’an mengarahkan agar semua itu disikapi dengan adab, bukan dengan pembangkangan atau sikap menyakiti.
Penjelasan itu menenangkan hatinya. Ia memahami bahwa luka yang ia rasakan bukanlah dosa, selama ia tidak menjadikannya alasan untuk durhaka. Maka ia memilih untuk tidak menjadikan rasa kecewa sebagai alasan untuk membangkang.
Ia tetap menghormati ibunya, mendoakan kebaikannya, dan membantu semampunya. Ia teringat sabda Rasulullah SAW ketika seorang sahabat bertanya tentang kepada siapa bakti harus didahulukan. Nabi menjawab, “Ibumu.” Ketika ditanya lagi, beliau kembali menjawab, “Ibumu.” Hingga tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini ia pahami bukan sebagai beban yang meniadakan perasaan, melainkan sebagai pengingat bahwa kesabaran kepada ibu dalam segala keterbatasannya, memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Namun ia juga belajar bahwa mengalah tidak berarti kehilangan nilai diri. Ada batas batin yang perlu dijaga agar pengorbanan tidak berubah menjadi kepahitan.
Baca Juga: Berbakti kepada Orang Tua
Mungkin ia tidak dibesarkan dengan kasih sayang yang utuh sebagaimana yang ia harapkan. Namun ia dibesarkan dengan kesabaran yang panjang dan keteguhan yang dalam. Dan barangkali, di hadapan Allah, berbakti dengan cara yang sunyi, di tengah luka yang ditahan, memiliki nilai yang tidak kecil.
Kisah ini bukan tentang menuntut, melainkan tentang memahami. Bahwa dalam kehidupan, berbakti kepada orang tua sering kali tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada air mata, ada dilema, dan ada doa-doa yang hanya terdengar di langit. Namun selama adab tetap dijaga dan hati terus belajar ikhlas, semoga setiap langkah mengalah itu bernilai ibadah.
Penulis: Muhammad Hufaf Ainunna’im
Editor: Rara Zarary


















