Sumber: Kompas.id

Oleh: Muh Sutan*

Mengonsumsi makanan yang sehat dan halal serta bergizi adalah penunjang kesehatan fisik seseorang. Tak bisa dipungkiri Rasulullah pun sudah memberi resep hidup sehat secara mudah dengan mengonsumsi makanan saat lapar dan berhenti sebelum terasa kenyang. Era modern ini, penampilan seseorang dengan bentuk tubuh ideal menjadi aset berharga sebagai penunjang kepercayaan diri. Maka tak sedikit orang melakukan berbagai macam cara diet agar mencapai target ideal tersebut. Jenis diet biasanya dijalani sebagian masyarakat modern mulai dari intermittent fasting, diet vegan, diet vegetarian, diet mediterania, diet paleo, diet rendah karbohidrat, diet ketogenik, diet dukan, hingga diet atkins. 

Secara tidak sadar, pola gaya kehidupan juga dipengaruhi oleh lingkungan termasuk dalam mengonsumsi makanan. Dikatakan diet atau tidak, tapi ada fakta bahwa sebagian masyarakat kita di pedalaman menjalani apa yang dinamakan diet paleo. Jenis diet ini meyakini bahwa mengonsumsi makanan seperti halnya manusia purbakala itu perlu karena efektif untuk menurunkan berat badan, dengan hanya mengonsumsi biji-bijan dan protein rendah lemak. Berikut ulasannya:

Populasi Punan Batu

Secara nalar, pola makan kuno di zaman manusia purbakala punya dampak kesehatan cukup baik. Kita ambil contoh daerah Punan Batu, mereka punya masyarakat yang hidup di lingkungan yang masih natural, di Sajau Benau, Kabupaten Balungan, Kalimantan Utara. Kehidupan mereka memiliki kelompok pemburu-peramu terakhir yang masif dan aktif di sana.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Data dari tim peneliti genetik dari Mochtar Riyadi Institute for Nano Technology (MRIN) mengambil sampel dari 30 persen populasi Punan Batu sekitar 34 individu, memunculkan body massa index (BMI) indeks massa tubuh rerata 20,65. Angka tersebut berada dalam BMI normal antara 18,5-25. Jadi secara umum tidak ada orang Punan Batu yang mengalami obesitas. Selain itu, ada 17,6 persen dari pengukuran total kolesterol 200 mg/dL. Sedangkan kolesterol baik atau HDL <40mg/dL ada 35,3 persen, trigliserida 150mg/dL ada 29,4 persen, serta LDL sebanyak 17,6 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa gaya hidup mereka jauh dari gangguan kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker, penyakit autoimun, osteoporosis, jerawat, miopia, varises, refulks lambung atau asam urat. Seperti apa yang ditulis oleh Boyd Eaton dan Melvin Conner tentang manfaat diet kuno “Paleolithic Nutrition” bahwa diet paleo (diet kuno) rendah lemak jenuh dengan daging hewan liar, dengan rasio energi 1:1 dari makanan nabati dan hewani. Pola ini didasarkan pada diet nenek moyang mereka di Afrika Selatan. Meski menurut sejumlah peneliti punya berbagai versi diet paleo yang tepat, tapi dalam garis besar mereka punya kesamaan dalam mengkritik makanan olahan kaya gula, lemak jenuh, dan garam yang mendominasi diet Barat modern. 

Populasi di Punan Batu bisa dikatakan sangat sehat meski ada orang yang kadar kolesterolnya cukup tinggi. Tapi menurut peneliti MRIN, Safarina, ini mungkin disebabkan pemeriksaan kolesterolnya dilakukan sebelum puasa, jadi bisa bias. Faktor selain pola makan, yang mendukung tidak adanya obesitas di Punan Batu juga karena aktivitas fisik mereka tinggi. Hidup mereka berpindah-pindah di sekitar hutan hujan Sajau-Benau. Jadi makanan utama mereka adalah daging buruan, dan umbi hutan. 

Ketersediaan daging buruan di populasi Punan Batu ditopang oleh tradisi mereka dalam berbagi hasil buruan. Tak heran jika tradisi ini menjadi budaya pemburu-peramu, termasuk yang dilakukan pemburu Hadza di Afrika. Masyarakat Punan Batu juga punya aturan untuk tidak berburu binatang tertentu. Menurut Makruf, bagian dari komunitas Punan Batu, menyebut orangutan, beruang, macan dahan, ular berbisa, dan beberapa jenis burung penanda alam tidak mereka buru. Dilema generasi ke generasi, pola diet populasi Punan Batu mulai pudar karena mereka mulai berinteraksi dengan dunia luar termasuk dalam hal makanan. Sehingga akhirnya perlahan akan merubah pola konsumsi mereka juga. Sementara itu, kita sebagai masyarakat modern malah tertarik dengan pola diet kuno Punan Batu. 

Makanan Rasulullah

Terlepas dari fakta di atas, suku Punan Batu punya kesamaan semangat dengan pola makan yang diajarkan oleh Rasulullah. Dalam satu riwayat atsar dari sahabat an-Nu’man Bin Basyir mengatakan: 

ألَسْتُم في طعامٍ وشرابٍ ما شِئْتُم ؟ لقد رأَيْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وما يجِدُ مِن الدَّقَلِ ما يملَأُ به بطنَه

“Bukankah kalian senantiasa memiliki makanan untuk dimakan dan minuman untuk diminum sesuka kalian? Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tidak mendapati sekedar daql (kurma yang buruk kualitasnya) untuk memenuhi perutnya.” (HR. Muslim no. 2977)

Rasulullah tidak secara sengaja melakukan itu sebagai diet, tetapi itulah teladan yang diajarkan oleh beliau. Karena itu semua adalah jalan yang sudah ditetapkan Allah bahwa kondisi ekonomi Rasulullah sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Bukan sengaja ingin diet untuk menjaga kesehatan. Bahwa makanan tak ubahnya hanya sebagai penguat diri dalam beribadah, bukan hidup dengan tujuan makan. Begitupun, meski secara realitas masyarakat Punan Batu diuntungkan dengan kehidupan mereka yang masih alam di pedalaman hutan. Tetapi ada nilai positif yang bisa kita ambil yakni cara mereka menjaga kesehatan badan dengan mengonsumi makanan sewajarnya dan tidak berlebihan. 

Oleh karena itu, semangat inilah yang mulai lambat laun terlupakan oleh masyarakat modern. Gaya hidup konsumtif diafirmasi oleh banyak pihak, bahkan tidak hanya dalam hal makanan. Keinginan memenuhi gaya hidup mengalahkan kebutuhan hidup yang sebenarnya. Kebutuhan hidup tidaklah mahal. Yang mahal ialah gaya hidup. Seperti rumus fisika p=f/a, semakin besar gaya semakin besar pula tekanan yang diberikan. Gaya hidup tinggi, maka tekanan psikis, ekonomi, dan kejiwaan pun ikut meninggi.

Wallahu a’lam. 


*Alumnus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

Sebelumnya3 Hari Sebelum Wafat, Azyumardi Azra Refleksikan 100 Tahun NU
BerikutnyaHukum Menyiram Air Kembang di Kuburan