Sumber: kelascinta.com

Oleh: Vevi Alfi Maghfiroh*

                              Telah datang purnama kepada kita,

                              Yang menerangi kegelapan,

                             Memberi cahaya tauladan dalam kehidupan.

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Nabi Muhammad Saw. diutus dimuka bumi ini tidak hanya memberikan hukum dan syariat semata, beliaupun memberikan teladan di segala aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah biduk rumah tangganya yang beliau bangun bersama istrinya, Sayyidati Khadijah selama bertahun-tahun sampai akhirnya nabi meninggal dunia. Juga kehidupan berumah tangga bersama istri lainnya.

Rumah tangga nabi diliputi sifat agung yang tidak hanya terpancar di lapisan lahiriah saja, tetapi juga menembus ke dalam sisi terdalan batiniyah. Sifat yang tercermin dalam totalitas tigkah laku moral suci di semua segi merupakan representasi utuh moralitas al-Qur’an. Sifat-sifat tersebut antara lain:

Hidup Sederhana

Rumah tinggal nabi jauh dari kesan kemewahan. Kamar, pakaian, alas tidur, makanan semuanya serba sederhana. Bilik tinggal istri beliau berdiri di pinggiran masjid, berfondasikan batu gunung yang ditata, atapnya terbuat dari lembaran pelepah kurma dengan ujung yang tidak rata dan terjangkau tangan orang yang berdiri di bawahnya.

Beliau pun mengajarkan istrinya untuk tidak memikirkan harta. Pernah suatu hari istri-istri beliau meminta nafkah lebih, dan beliau pun mendiamkan mereka. Setelah kejadian tersebut membuat mereka memilih hidup susah dan lebih mendahulukan orang lain. Pola hidup Rasulullah yang seadanya ini terus berlangsung hingga hari-hari terakhir kehidupan beliau.

Padahal, seluruh pintu dunia dibuka oleh Allah untuknya, dan harta yang masuk kepadanya begitu meruah. Tetapi, hal tersebut tidak membuatnya mengubah pola hidup layaknya seorang pemimpin dan penguasa pada umumnya. Ketika berhasil menaklukan Makkah, Nabi tetap dengan pola hidup apa adanya.

Penuh Cinta

Cinta adalah rahasia kebahagiaan hidup rumah tangga. Rumah tanpa cinta, bagaikan tubuh tanpa ruh. Ketika penghuni sebuah rumah kehilangan cinta, hidup mereka berada di ujung tanduk. Di atas fondasi cinta inilah rumah tangga nabi berdiri. Cinta yang memenuhi hati seluruh istrinya tanpa terkecuali. Bukan hanya cinta sebagai seorang nabi, tetapi cinta seorang suami yang sangat berkesan.

Beliau adalah sosok suami yang ketika di rumah memberi keteduhan, dan ketika pergi menyisakan rindu dan sedih di hati. Nabi sama sekali tak pernah menunjukan kebencian kepada istri-istrinya. Tak pernah terdengar beliau berkata menyakitkan dan merendahkan. Tak pernah beliau mengangkat tangan atau tongkat untuk memberi pelajaran ataupun sekedar untuk bersenda gurau. Itulah kenapa setiap Ummu Mu’minin belomba-lomba untuk memperoleh rida Nabi.

Amanah

Dalam rumah tangga Nabi, tidak hanya beliau saja yang amanah, tetapi juga segenap istri dan keluarganya. Tak ada yang mengatakan haknya tidak dipenuhi oleh salah seorang dari mereka. Hal ini disebabkan karena mereka memang menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan dalam arti yang seluas-luasnya.

Setia

Bukan hal aneh bila kesetiaan menjadi ciri dominan keluarga Nabi Saw. sifat ini ditunjukan Nabi kepada siapa pun yang beliau kenal, bahkan kepada pembantu dan budak beliau sendiri. Juga kepada keluarga terjauhnya sekalipun. Beliau lah yang berkata, “Allah akan menanyakan tali persahabatan sekalipun terjalin sesaat.” Kesetiaan terbesar Nabi Saw terlihat jelas kepada Khadijah. Tak henti-hentinya beliau menyebut mendiang istri pertamanya tersebut dengan segala sanjungan dan kebaikan.

Santun

Rumah Nabi adalah sumber aneka adab dan sopan santun bagi kaum muslim. Dari sana mereka belajar sikap dan perangai halus saat berkunjung dan memasuki rumah beliau. Juga diberi petunjuk agar tidak berlama-lama berada disana, cukup sebatas keperluan. Kaum muslimin juga dapat belajar bagaimana mereka harus merendahkan suara saat minta izin masuk ke rumah Nabi.

Di antara sifat rumah tangga Nabi yang lain adalah menjaga kehormatan dan kebersihan. Rumah tangga Nabi juga berhiaskan adab untuk menjaga dan mensyukuri nikmat. Beliau mengarahkan semua istrinya untuk menghormati dan menghargai dengan sungguh-sungguh setiap nikmat yang diterima.

Rendah Hati dan Melayani Keluarga

Nabi Saw membuat perubahan besar, Beliau mengubah gaya hidup yang dijalani oleh laki-laki Jahiliah. Di rumah, kalau tidak sedang melepas lelah, beliau biasanya melakukan ibadah, shalat, zikir, atau berdo’a kepada Allah. Selain itu Beliau pun melakukan tugas-tugas rumah tangga yang lain.

Ketika ditanya tentang aktivitas Nabi di rumah, Aisyah menjawab. “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri, dan menambal timba. Begitu tiba waktu shalat, beliau lalu shalat.” Dalam riwayat lain, “…. beliau lalu shalat, seolah beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenal beliau.”

Tawakal dan Mendahulukan Orang Lain

Rumah tangga Nabi adalah rumah tangga yang hati para penghuninya selalu bergantung kepada Allah. Segala hal baik gerak dan diamnya berada di bawah pengayoman Allah, karena hal tersebut, Nabi tak pernah menyimpan makanan dan harta. Beliau pun tak pernah menahan emas ataupun perak.

Selain yang telah disebutkan diatas, masih banyak lagi hal-hal yang harus diteladani dari biduk rumah tangga Nabi. Yakni keluarga Nabi yang mengutamakan zikir dan ibadah, amat ma’ruf dan nahi munkar, giat dan jauh dari hiburan, saling menghormati dan menghargai orang lain. Semoga kita bisa meneladaninya agar tercipta keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Wallahu a’lam bisshawab.


*Alumnus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Pondok Putri Pesantren Tebuireng.

SebelumnyaBertemu Gus Sholah, Kapolda Jawa Timur Bahas Bahaya Hoax
BerikutnyaSeperti Apakah Amal yang Berkualitas?