sumber ilustator: www.google.com

Oleh: Sayidatul Afifah Rusda*

Kalau dulu jihadnya para ulama, santri, dan masyarakat Indonesia adalah dengan menjadikan pesantren sebagai tempat perjuangan, maka hari ini jihad kita melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan. Di mana itu semua didapatkan di dunia pendidikan dan pesantren. Bahkan menuntut ilmu sudah tergolong ke dalam jihad fi sabilillah. Dimana ketika zaman Rasulullah, pusat pendidikan adalah masjid Rasulullah.

Dalam sebuah hadist disebutkan: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Dari Abu Hurairah ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengerjakan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik  barang orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 227).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam menuntut ilmu dibutuhkan banyak dukungan termasuk dari seorang ibu, dimana peran ibu sangat banyak mulai saat anak terlahir serta ibu akan merawat dan memberikan pendidikan terbaik sesuai kapasitas yang ia punya. Mulai dari berlatih berbicara, makan, minum dan ketika anaknya sudah mampu, ia akan akan dididik dalam beribadah.

Bahkan ibu juga menjadi pembuka spiritual terhadap anaknya. Yakni saat seorang ibu taat dalam beragama maka anak-anaknya pun akan terdidik untuk taat dalam beragama. Hal ini tercermin dalam kehidupan seorang shahabiyah yang  saat itu merelakan anak-anaknya untuk berjihad di jalan Allah.  Ketaatannya kepada Allah menjadikan anak-anaknya taat kepada Allah.

Perempuan penyandang gelar “Ibunda Para Syuhada” ini adalah Tumadhir Binti ‘Amr ibn Sulami berasal dari bani Mudhar. Ia digambarkan sebagai sosok yang mulia, murah hati, tenang, pemberani, dan jujur serta ia adalah seorang penyair yang indah syairnya. Syairnya memikat siapapun yang mendengarnya, saat Islam sampai kepadanya, ia dan beberapa kaumnya menemui Rasulullah, bersyahadat dan masuk Islam.

Pernikahannya dengan Rawahah bin Abdul Aziz as-Sulami melahirkan empat putra-putra yang tangguh. Pendidikan dan pembinaan yang diterapkan pada putra-putranya membuat mereka memiliki karakter baik, tangguh, mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan bersemangat berjuang di jalan Allah. Semangat untuk berjuang, dan kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah inilah yang turut menjadi pendorong untuk berjihad, membela Agama Allah.  

Semua putra al-Khansa ingin ikut berperang menyertai Rasulullah. Tetapi, kasih sayang mereka terhadap ibunya, membuat mereka berselisih karena saling berebut siapa yang akan menemani ibunya di rumah dan siapa yang  akan ikut berperang.

Melihat hal ini, naluri seorang ibu tentunya ingin melihat anak-anaknya berada di sisinya, tetapi cinta dan semangat keislaman Al-Khansa membuatnya memilih melepaskan anak-anaknya untuk berperang.

Saat itu, dengan semangat yang berkobar ia pun menasihati anak-anaknya agar ikut berperang, ia berkata: “Wahai anak-anakku tercinta, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berjuang dengan penuh kerelaan. Demi Allah tiada Tuhan selain Dia. Kalian adalah putra ayah dan bunda jangan mempermalukan nenek moyang kalian.”

Sungguh, kalian tahu sangat besar pahala yang Allah siapkan baik orang-orang yang beriman ketika jihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa akhirat yang kekal jauh lebih baik dari dunia yang fana.

Andai besok kalian sehat, perangilah musuh-musuh kalian dan mintalah kemenangan kepada Allah atas musuh-musuh kalian. Apabila pertempuran mulai sengit, terjunlah kalian demi menarap rida Allah. Majulah dengan keberanian! Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan. Rajai  kemenangan meski maut meradang.

Mendengar ucapan ibunya, tanpa ragu keempat anak Al-Khansa pun pergi berjihad di jalan Allah, menyertai Rasulullah.

Beberapa waktu kemudian, saat mendengar kematian anak-anaknya, Al-Khansa tidak merasa sedih. Sebaliknya ia bergembira mendengar keempat putranya telah syahid. Ia berucap, “Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian anak-anakku. Aku berharap kepada-Nya agar menumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.”

Setelah kematian anak-anaknya ia masih membuat syair untuk menyulut semangat orang muslim untuk berjihad. Perempuan tangguh itu meninggal dunia pada masa permulaaan kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. yaitu pada tahun ke-24 H / 602 M[1]

*Santri PP. Salafiyah Syafi’iyah Khoiriyah Hasyim.

[1]. Dewi Mulyani, Buku Pintar untuk Muslima, (PT Mizan Pustaka,Bandung:2012) lm.294

SebelumnyaKH. Lukman Hakim, Istikamah dalam Al-Quran
BerikutnyaKecerdasan Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari