Oleh: Naila Nur Indah*

Golongan Ahlussunnah wal Jamaah ialah golongan yang menganut i’tiqod atau ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan juga para sahabat. Di dalam bidang fikih mengikuti salah satu dari 4 madzhab yakni, madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, Madzhab Hanafi, Madzhab hanbali. Untuk bidang tasawuf, ittiba’ (mengikuti) manhaj Imam Junaid Al- Baghdadi dan Imam Ghazali. Sedangkan dalam bidang akidah mengikuti Imam Al- Maturidi dan Imam Al-Asy’ari.

Nama lengkap dari Imam Al- Asy’ari adalah Abul Hasan Al-Asyari. Sedikit cuplikan mengenai biografi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, beliau lahir di Bashrah, pada 260 Hijriah bertepatan dengan 873 Masehi. Terdapat suatu golongan bernama “Golongan Al-Asy’ariyyah” yang merupakan sebuah pergerakan pemikiran pemurnian akidah yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan Al- Asy’ari. Imam Al-Asy’ari dikenal dengan kecerdasannya. Pada mulanya Imam Al- Asy’ari adalah penganut paham Mu’tazilah yang mana disebabkan karena ayah tirinya merupakan tokoh dan guru dari kalangan Mu’tazilah, Al-Jubbai.

Seiring berjalanya waktu, Imam Al-Asy’ari mengalami beberapa gejolak batin akan paham yang dianutnya yakni paham Mu’tazilah, sehingga sempat terjadi perdebatan antara Imam Al-Asyari dengan gurunya yakni Al-Jubbai yang menjurus kepada sifat-sifat Allah SWT dalam bidang akidah.

Bertanya Imam Al-Asy’ari kepada Al-Jubbai, “Bagaimana pendapat guru mengenai nasib 3 orang yang meninggal, dengan pembagian 3 orang tersebut adalah 1 orang mukmin, 1 orang kafir dan 1 orang lagi berupa anak kecil yang umurnya belum baligh”. Dijawab oleh sang guru, Al- Jubbai, “Keadaan orang mukmin tersebut adalah tinggi derajatnya, dan untuk orang kafir berada dalam celaka, dan si anak kecil akan dalam keadaan selamat”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bertanya kembali Imam Al-Asy’ari kepada Al-Jubbai, “Lalu apa memungkinkan si anak kecil tersebut dapat naik derajatnya dengan meminta kepada Allah SWT”. “Tentuya tidak, karena seorang mukmin tersebut diangkat derajatnya oleh Allah SWT karena dia telah melakukan amal saleh sehingga Allah mengangkat derajatnya, berbeda dengan si anak kecil yang belum beramal saleh yang berkemungkinan besar tidak akan mendapat derajat tinggi di sisi Allah SWT,” jawab Al-Jubbani.

Tidak puas dengan jawaban tersebut, bertanya kembali Imam Al-Asyari kepada gurunya, “Lalu bagaimana seandainya si anak kecil tersebut datang dan berprotes kepada Allah SWT dan menggugat atas kehendak Allah SWT yang telah mentakdirkan si anak kecil meninggal di usianya yang belum sempat beramal saleh, seandainya Allah memberi si anak kecil ini umur panjang, pastilah akan ada kesempatan baginya beramal saleh sehingga mendapatkan derajat yang tinggi seperti orang mukmin tadi”.

Berkata lagi Al- Jubbai, “Tatkala Allah SWT berkata kepada si anak kecil tersebut, wahai anak kecil sesungguhnya Akulah Dzat Yang Maha Mengetahui, termasuk akan kelak masa depanmu karena jikalau usiamu hingga dewasa nantinya dikhawatirkan engkau akan berbuat maksiat hingga menjerumuskanmu ke dalam api neraka”. Pernyataan yang diutarakan oleh Al-Jubbani sama sekali tidak membuatnya berhenti bernalar kritis akan hal tersebut.

Kemudian disanggah lagi oleh Imam Al-Asy’ari, “Wahai guruku, tidakkah pastinya orang kafir tersebut juga akan menggugat kepada Allah dengan alih-alih yang Maha Mengetahui masa depan si anak kecil, Allah mematikan si anak kecil demi menjaganya agar tidak berprilaku maksiat tapi mengapa Engkau (Allah) membiarkan kami (kafir) hidup terus berada dalam kekafiran sehingga mendapatkan siksaan ini”.

Al- Jubbai dibuat bungkam oleh muridnya yakni Imam Al-Asy’ari, takjub akan kecerdasan sang murid sehingga tidak mampu menjawab argumen yang dipaparkan oleh Imam Al-Asy’ari.

Sedari debat tersebut sangatlah membuat Imam Al-Asy’ari tidak puas dengan konsep Muktazilah, sehinnga tepat di usinaya yg berumul 40 tahun Imam Al-Asy’ari bersembunyi di dalam rumahnya selama kurang lebih 15 hari kemudian pergi ke masjid Bashrah dan di hadapan orang banyak Imam Al-Asy’ari menyatakan bahwa Imam Al- Asy’ari tidak lagi berpegang teguh dengan paham Muktazilah dan beralih kepada paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Wallahu a’lam.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMemetik Semangat Dari Ibunda Para Syuhada
BerikutnyaPangkoarmada II Ziarah ke Makam Tokoh NU di Teburieng