Pengurus OSPI foto bersama pemateri usai acara. (foto: zulfa/to)

Tebuireng.onlineUsai melaksanakan Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA), pengurus OSPI mengadakan acara Character Building untuk para santri baru. Acara ini dinilai sangat penting untuk dipahami santri baru sebagai gambaran hidup di sebuah pesantren yang notabenenya terdiri dari santri berbagai latar. Hal itu diungkapkan oleh salah satu pengurus OSPI di Masjid Ulil Albab Pondok Putri Pesantren Tebuireng, Jumat (1/7/2022).

Selain pengurus OSPI, beberapa penjelasan tentang karakter dan kebiasaan yang harus santri perhatikan di pesantren disampaikan oleh Kiai Muchtar Syafi’ie, pemateri dalam acara Character Building ini. Hal yang diperlukan pula adaptasi untuk memahami dan menyesuaikan karakter diri dengan karakter sekitar.

“Di pondok pesantren kita harus memiliki sifat atau karakter pemberani. Kalau di rumah selalu manja, maka otomatis sifat tersebut harus dihilangkan di pondok pesantren,” ungkap adik Kiai Musta’in Syfi’ie itu.

Meteri yang diberikan oleh Kiai Muchtar Syafi’ie mengenai keberanian santri dan sifat syaja’ah yang hasrus dimiliki oleh para santri.

“Kita sebagai santri tidak boleh insecure dan tidak percaya diri. Kita harus hilangkan beberapa sifat tersebut terlebih kita hidup di lingkungan pesantren, tak lupa pula kita harus menghilangkan rasa malas-malasan,” imbuhnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Yai Syafi’ie juga menjelaskan bahwa kita harus memiliki rasa percaya diri karena dengan rasa tersebut akan membantu kita menghilangkan rasa insecure karena setiap orang pasti memiliki rasa tersebut tak terkecuali.

Sedangkan, lanjutnya, untuk perbedaan karakter kita dapat menghadapinya dengan memiliki rasa kesamaan nasib. Seperti halnya kesamaan nasib jauh dari orang tua dan sama-sama tinggal dengan para ustadzah. Untuk menghadapi beberapa karakter kurang baik seperti selalu dikomentari orang, caranya adalah kita tidak terlalu terbawa perasaan dengan perkataan orang-orang tersebut.

“Semua masalah dihadapi dengan lapang dada, tidak gampang tersinggung juga tidak gampang menyinggung,” pesannya.

Pewarta: Zulfa Nuril

SebelumnyaSantri dan Adab Meminjam Buku
BerikutnyaKisah Kesuksesan Nyai Solichah dalam Mendidik Anak