Sumber: viva.co.id/ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Oleh: Muh Sutan*

Kabar

Lindu adalah istilah ‘gempa bumi’ dalam bahasa Jawa. Seperti metabolisme tubuh, ada perubahan dari kecil menjadi besar, dari pendek menjadi panjang, dan seterusnya. Bumi seperti itu pula, di usia yang berkisar 4,54 miliar tahun (menurut penaggalan radiometrik meteorit), bumi punya metabolisme tersendiri. Gempa bumi misalnya, gerakan lempeng bumi yang menimbulkan pergeseran tanah yang kita pijaki.

Dalam geografi, garis khatulistiwa atau ekuator merupakan sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet, Indonesia salah satu wilayah yang dilewati garis tersebut. Tanah subur, banyak memperoleh sinar matahari sepanjang tahun, curah hujan tinggi dan temperatur udara tinggi; ciri khas daerah yang dilewati garis khatulistiwa. Tapi secara geologis, Indonesia memiliki banyak gunung api yang aktif dan rawan terjadinya gempa bumi.

Gempa bumi bukan hal baru dan harus ditakuti, sampai abad ke-21 sekarang, terhitung ada sekitar 40-an gempa besar (mulai 5-9 SR) terjadi di bumi Indonesia. Gempa bumi adalah gejala alam natural, sewajarnya seperti matahari yang yang terbit tenggelam setiap hari. Hanya saja jika terjadi gempa bumi, efek yang ditimbulkan adalah pergeseran permukaan tanah bumi yang kita tinggali. Bisa jadi kita yang mapan membangun rumah, menjadi runtuh karena pergeseran tersebut. Air laut yang menari dengan indah, menjadi ombak yang besar dan menghantam apa saja dihadapannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kamis (09/08/18) titik pusat gempa 6,2 SR, berada di 6 km dari barat laut Lombok Utara, 27 km timur laut Mataram, 33 km timur laut Lombok Barat, dan 37 barat laut Lombok Tengah. Gempa terjadi pukul 12.25 WIB atau 13.25 WITA. Gempa ini tidak berpotensi tsunami. Gempa dirasakan kuat di Lombok selama 10 detik. (dikutip dari detik.com)

Membaca

Kata yang berindikasi semakna dengan  ‘gejala alam’ di dalam al-Quran, misalnya mushibah dalam surah at-Taghabun dan al-Hadid, atau fasad dalam surah ar-Rum.

Surah At-Taghabun; ” Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “

Surah al-Hadid; “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Dua ayat diatas ada kata “mushibah” (yang menimpa), refleksi yang diambil adalah bagaimana seharusnya kondisi mental atau spiritual seorang muslim setelah terjadi kejadian ‘yang menimpa’ tersebut.

Sedangkan dalam surah Ar-Rum ayat 41; “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Sedangkan dalam surah ar-Rum ini mengisyaratkan bahwa ‘gejala alam’ yang terjadi punya latarbelakang atau penyebab. Memberikan sindiran bahwa ‘kerusakan’ itu akibat ulah tangan jahil manusia, dalam arti ada yang tidak seimbang dalam kehidupan wilayah tersebut. Bisa jadi karena ekosistem lingkungan yang bergerak, bisa juga karena gejala alam biasa, atau malah eksploitasi alam yang kurang baik dan hal lain. Ayat ini bisa pula dimaknai, bahwa ini merupakan teguran dari Allah untuk manusia, agar tidak merusak lingkungan dan alam sekitar. Maka sebaik-baik pribadi adalah yang memberi manfaat kebaikan bagi orang lain dan lingkungan, termasuk alam sekitar dimana dia berada.

Obrolan

Gempa bumi atau gejala alam yang lain, merupakan tanda kekuasaan Allah. Manusia itu sangat kecil dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Maka disini terkadang ada dua pemaknaan mengenai ‘gejala alam’ yang menimpa manusia.

Ada atsar dari masa Rasul, menyebut perihal gempa;

عن محمد بن عبد الملك بن مروان قال : ( إن الأرض زلزلت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فوضع يده عليها ثم قال : اسكني فإنه لم يأن لك بعد ، ثم التفت إلى أصحابه ، فقال : إن ربكم يستعتبكم فأعتبوه ) رواه ابن أبي الدنيا في “العقوبات”

Kalau dalam era sekarang, cerita dari keterangan diatas termasuk dalam kategori ‘kabar burung’ atau malah bisa disebut hoax, karena ada kaedah jurnalistik yang dilanggar yaitu ada sumber berita yang belum jelas. Sanad yang lemah dan tidak ada biografi perawi.

Begitu pula ketika di masa Umar;

عن صفية (زوج ابن عمر) قالت تزلزلت المدينة على عهد عمر-رضي الله عنه – وابن عمر-رضي الله عنهما- قائم لا يشعر حتى اصطفقت السرر فلما أصبح عمر رضى الله عنه قال يا أيها الناس ما أسرع ما أحدثتم ؟

Al-Hafidh Ibn Abdul Bar al-Andulisi memberi komentar;

قال الحافظ ابن عبد البر الأندلسي في الاستذكار والتمهيد: لم يأت عن النبي من وجه صحيح أنّ الزلزلة كانت في عصره ولا صحت عنه فيها سُنّة وقد كانت أوّل ما كانت في الإسلام على عهد عمر فأنكرها

Jadi, beliau menolak ‘cerita’ atsar mengenai gempa yang terjadi di masa Nabi dan khalifah Umar, bukan termasuk berita atau cerita yang benar. Terlepas dari apakah akurat atau tidak atsar ini untuk dijadikan rujukan, kita bisa merefleksikan sejenak. Dalam dua atsar tersebut ada semacam teguran ketika terjadi gejala alam atau ‘gempa’ jika dalam konteks atsar tersebut. Dalam atsar Nabi disebut bahwa ‘Allah telah memperingatkan kalian’. Sedang dalam cerita Umar, disebut ‘apa yang telah kalian perbuat?’.

Dalam bencana alam ada indikasi, selain menimbulkan dampak fisik yang buruk, juga dapat menimbulkan dampak ketidakseimbangan psikologis pada korban terutama setelah kejadian bencana. Jika diambil contoh dari atsar diatas, tekanan psikologis dimanfaatkan sebagai celah untuk memberi teguran atau peringatan bagi manusia ‘fasik’. Jelas, teguran seperti ini lebih tepat dan ampuh. “Manusia yang kecil dan rapuh di bawah kekuasaan Allah Swt., cepatlah bertaubat sebelum pintu taubat tertutup”. Mungkin seperti itu teguran dari Tuhan.  

Tapi di lain sisi, Fakhruddin al-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib memberi keterangan;

فإنها لا تكون عقاباً بل امتحاناً ، والدليل عليه أنه تعالى يعد الكل بالصبر عليها والرضا بها والتسليم لها وما هذا حاله لا يكون عقاباً

“Karena sesungguhnya ayat (Ali Imran 56, untuk orang kafir) bukan menjadi hukuman, melainkan hanya ujian. Sedangkan argumentasi yang menyebutkan hal itu adalah bahwa Allah memerintahkan semua orang untuk bersabar atas semua musibah, ridha dan berpasrah. Dan hal ini tidak berkaitan dengan hukuman.”

Adalah jawaban dari surah Ali Imran 56, “Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.”

Ini merupakan sekelumit pemaknaan terhadap kondisi yang terjadi sekarang. Apakah ‘gejala alam’ itu sekedar gejala alam biasa, ataukah sebagai ujian keimanan dari Allah agar kita (bangsa Indonesia) lebih introspeksi diri dalam berbagai hal. Hanya pihak yang punya kepentingan saja, yang mencoba cocokologi antara bencana alam dan politik praktis. Mari, kita bantu saudara kita yang terkena gempa, dengan empati doa, simpati berupa logistik, kita bantu dengan cinta bukan dengan permusuhan atau keberpihakan.

Wallahua’lam


*Wartawan Tebuireng Online

 

 

 

SebelumnyaMengqadha Puasa Ramadan yang Sengaja Dibatalkan
BerikutnyaApakah Nabi Pernah Sesat?