sumber gambar: inews

oleh: Dian Bagus*

Perlu digarisbawahi dulu, bahwa Yasin Fadilah adalah rangkaian doa di beberapa ayat. Doa tersebut sama sekali bukan menambahi ayat Surat Yasin. Maka Surat Yasin yang ditulis dengan atau tanpa doa, jumlahnya tetap 83 ayat.

Hal ini selaras dengan hadis sahih dari Hudzaifah dan A’masy bahwa:

“Rasulullah jika membaca ayat tentang siksa maka beliau minta perlindungan kepada Allah, jika Rasulullah membaca ayat tentang rahmat maka beliau memintanya kepada Allah.” (HR Ahmad No 24012 dan Ibnu Khuzaimah No 684)

عن حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم كَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ خَوْفٍ تَعَوَّذَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

)رواه أحمد رقم ٢١٠٤٢ وابن خزيمة رقم٦ ٤٨

Membaca doa di sela-sela bacaan al-Quran juga diamalkan oleh Nabi Saw, sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah:

عن أَبِي هَرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم كَانَ إِذَا قَرَأَ أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَى قَالَ بَلَى وَإِذَا قَرَأَ أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ قَالَ بَلَى (رواه الحاكم رقم ٢٨٨٣ وقال هذا حديث صحيحاإسناد ولم يخرجاه تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح. وكذا أبو داود والترمذى وابن السنى فى عمل يوم وليلة والبيهقى عن أبي هريرة(

“Jika Rasulullah membaca akhir Surat al-Qiyamat (ayat 40), Rasulullah menjawab: Balaa (Ya, Allah Maha Kuasa). Dan ketika beliau membaca akhir Surat at-Tiin, maka Rasulullah menjawab: Balaa, (dalam riwayat lain: wa ana ‘ala dzalika min asy-syaahidiin) (Ya, saya bersaksi)” (HR al-Hakim No 3882, ia menilainya sahih dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Sunni, dan al-Baihaqi)

Demikian halnya dalam Yasin Fadilah merupakan doa pada ayat tertentu. Misalnya ketika di ayat ‘Salamun Qaulan min Rabbin Rahiim’, ditulis ada doa ‘Ya Allah selamatkan kami dari ujian dunia dan akhirat’, dan di ayat lainnya.

Namun yang perlu dijaga adalah agar bagaimana ayat tersebut tidak bercampur dengan al-Quran. Maka dalam penulisannya seyogyanya dibedakan antara ayat dan doa, sebagaimana dalam penulisan tafsir al-Quran. Boleh saja ditulis dengan catatan kaki, atau buka-tutup kurung, dan cara lainnya yang dapat membedakan mana ayat dan mana doa.

Sumber artikel: Buku “Jawaban Amaliyah & Ibadah” karya: KH. Ma’ruf Khozin.

*Alumnus Unhasy Tebuireng Jombang.

 

SebelumnyaBegini Suasana Tes Seleksi PSB di Trensains
BerikutnyaYang Mengemban Harapan