Sumber: http://majalahlangitan.com

Kiai Subkhi (dalam panggilan setempat “Subuki”) atau yang akrab disebut dengan Mbah Subkhi, merupakan salah satu ulama yang berperan aktif dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Kiai Subkhi lahir pada tahun 1860 di Parakan Kauman, Temanggung, Jawa Tengah. Bukan hanya jasa besarnya atas kebangkitan bangsa Indonesia yang telah ditorehkan olehnya. Namun sosoknya yang terkenal sebagai kiai khos, penuh kharisma, sederhana dan tawadu, sering dijadikan sebagai sosok teladan bagi insan sekitarnya. Selain itu Mbah Subkhi juga menjadi rujukan para pahlawan nasional dalam meraih kemerdekaan bangsa.

Keluarga Kiai Subkhi

Kiai Subkhi adalah putra sulung KH. Harun Rasyid seorang penghulu masjid di desanya, dengan nama kecil Muhammad Benjing. Setelah berumah tangga beliau berganti nama menjadi Somowardojo. Setelah naik haji beliau berganti nama lagi untuk kedua kalinya menjadi Subkhi. Ketika masih bayi, kakeknya, Kiai Abdul Wahab, putra Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi Yogyakarta, adalah salah seorang anggota pasukan Pangeran Diponegoro yang ikut dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan penjajahan Belanda.

KH. Subkhi adalah pengasuh Pesantren Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Beliau menjadi rujukan dari ribuan pejuang kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 untuk menimba ilmu dan doa-doa untuk senjata mereka sebelum terjun ke medan laga. H. Anasom, M.Hum., peneliti sejarah dari IAIN Walisongo Semarang, menyebutkan kiai Subkhi adalah pelopor penggunaan bambu runcing sebagai senjata perjuangan melawan penjajah Belanda. Oleh karena itu Mbah Subkhi dijuluki sebagai Kiai Bambu Runcing.

Jiwa nasionalis yang ada dalam diri kiai Subkhi ternyata diturunkan dari sang kakek. Keberanian menyampaikan kebenaran, mencintai umat, dan kesederhanaan menjadikannya amat dicintai semua orang. Sosoknya yang dihormati oleh semua orang tak membuatnya menjadi lupa diri. Pola hidup masih sederhana, sehingga menjadi teladan bagi umat-umatnya untuk mencapai maqam zuhud.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sejak kecil Kiai Subkhi dididik oleh ayahnya langsung dalam disiplin keagamaan yang tinggi. Setelah itu Subkhi muda menempuh pendidikan di Pesantren Sumolangu, Kebumen, Jawa Tengah, dalam asuhan Syaikh Abdurrahman. Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada tahun 1926, Kiai Subkhi lalu ikut mendirikan NU di Temanggung, bersama dengan beberapa kiai lainnya. Kiai Subkhi menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Temanggung, didampingi KH. Ali (pendiri Pesantren Zaidatul Ma’arif Parakan) sebagai wakil rais dan KH. Raden Sumomihardho (ayahanda KH. Muhaiminan Gunardo, wafat 1946) sebagai sekretarisnya. Sementara KH. Nawawi (wafat 1968) bertindak sebagai Ketua Tanfidziyah pertama.

Kiai Subkhi juga menaruh perhatian besar terhadap kaderisasi anak muda NU melalui GP Ansor NU. KH. Saifuddin Zuhri, mantan menteri agama di era Sukarno menginformasikan bahwa sewaktu menjadi instruktur pengkaderan Ansor di Temanggung sekitar tahun 1941, pernah menjumpai Kiai Subkhi yang ikut mendampingi anak-anak muda NU selama kegiatan kaderisasi. Semangatnya tak surut meskipun saat itu usia beliau sudah lanjut.

Sosok Kiai Subkhi

Sosok tawadhu yang melekat pada diri Kiai Subkhi dibuktikan oleh Saifudin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren. Dalam buku dijelaskan bahwa KH. A. Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin dan KH. Masykur pernah juga mengunjungi Mbah Subkhi. Dalam pertemuan itu, KH. Subkhi menangis karena banyak yang meminta doa darinya. Ia merasa tidak layak dengan maqam itu. Mendapati pernyataan ini bergetarlah hati Panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Subkhi, dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannnya sudah benar.

Kiai Subkhi juga melakukan cocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beliau memiliki banyak tanah, hal itu tidak membuatnya menjadi kikir. Beliau dikenal sebagai seorang yang pemurah dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di usianya yang sudah lanjut, tanah-tanah itu diberikan kepada penduduk sekitar yang tidak mampu dalam bentuk kontrak musyarakah atau sistem bagi hasil. Hasilnya dibagi dua, antara beliau sebagai pemilik tanah dan pihak penggarap tanah. Kadang hasilnya berupa keuntungan dalam bentuk tunai, kadang juga dalam bentuk pembagian tanah. Kiai Subkhi memberi keuntungan yang terakhir ini kepada orang-orang yang tidak punya tanah. Inilah ide awal beliau tentang keadilan sosial dan kekeluargaan.

Menuju Bangsa yang Merdeka

Pada masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia, setiap hari ada ribuan pejuang bambu runcing yang berkunjung ke Kiai Subkhi di Parakan, untuk menuju ke front-front pertempuran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan ada yang datang dari Jawa Barat. Tujuan utama para tamu bertemu dengan Kiai Subkhi adalah untuk meminta doa dan barakah beliau. Termasuk meminta beliau berkenan untuk nyuwuk bambu runcing yang akan dibawa perang oleh para anggota laskar rakyat yang datang dari berbagai penjuru tanah air.

Menjelang pertempuran Ambarawa di bulan Desember 1945, Panglima divisi V Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Kolonel Sudirman, sebelum menjadi panglima besar setahun kemudian, juga sempat singgah dari markasnya di Purwokerto ke markas BMT (Barisan Muslimin Temanggung) di Parakan dalam perjalanan menuju perang Ambarawa. Beliau sempat berkunjung dan minta barakah kepada Kiai Subkhi.

  1. Saifudin Zuhri menyebut, kedatangan Kolonel Soedirman beserta pasukannya membawa peralatan tempur lengkap. Itu terjadi setelah bawahan beliau, Letnan Kolonel Isdiman, selaku komandan pasukan TKR gugur dalam pertempuran Ambarawa melawan Sekutu pada tanggal 26 November 1945. Komando pertempuran Ambarawa lalu diambil-alih oleh tentara kader PETA ini. Konon dalam cerita masyarakat keberkahan kiai Parakan lah yang menyebabkan itu terjadi. Jenderal Sudirman setiap kali akan terjun ke medan laga, terlebih dahulu mencari sumur warga untuk mengambil air wudhu.

Peran kiai Subkhi kemudian menjadi incaran tentara Belanda. Dalam agresi militer kedua yang dilancarkan Belanda pada Desember 1948, mereka memasuki kota Parakan dan mendobrak rumah beliau. Kiai Subkhi sempat menyelamatkan diri dan mengungsi keluar kota bersama beberapa kiai. Namun putra beliau, kiai Abdurrahman, gugur tertembak setelah melakukan perlawanan. Ia merupakan syuhada pertama sejak Gerakan Bambu Runcing dari Kauman Parakan digelar. Presiden Sukarno kemudian menganugerahinya gelar pahlawan.

Didorong oleh semangat “Jihad fi Sabilillah” untuk mempertahankan tiap jengkal tanah air, dan didasarkan atas kasih sayang kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Kiai Subkhi memberikan bekal berupa doa kepada anak-anak “Hizbullah” maupun “Sabilillah” Parakan. Sebelum mereka berangkat ke pertempuran sambil berbaris dengan bambu runcingnya masing-masing. Mereka diberkahi oleh Kiai Subkhi dengan do’a khusus  “Laa Tudrikuhul Absar Wahuwa Yudrikuhul Absar Wahuwa Latiful Khabir,” dengan tiga kali membaca sembari menahan nafas. Atas kehendak Allah, doa tersebut terbukti ampuh sehingga dapat mengalahkan tentara sekutu yang menggunakan senjata api. Kisah heroik inilah yang menjadikan kiai Subkhi terkenal dengan sebutan kiai Bambu Runcing.

Bambu runcing atau tombak bambu adalah sebutan popular bagi sebuah bambu yang diruncingkan ujungnya. Senjata banyak digunakan dalam perang merebut kemerdekaan. Peralatan sederhana ini ternyata pada masa perang kemerdekaan telah menjadi senjata massal yang dipakai rakyat dalam melawan penjajah. Itulah mengapa sampai saat ini daerah Parakan terkenal dengan sebutan kampung Bambu Runcing.

Senjata-senjata tradisional seperti tombak, keris, ketapel, sujen, dan lain-lain adalah peralatan perang utama penduduk pribumi melawan penjajah. Namun dari berbagai senjata tersebut, bambu runcing menjadi simbol heroisme pada masa pra kemerdekaan hingga sekarang.


*Disaring dari berbagai sumber oleh Nazhatuz Zamani

SebelumnyaGebyar Aksi dalam Apresiasi dan Karya Seni
BerikutnyaShalat Itu Urusan Dunia