Novel ini bercerita tentang seorang nelayan tua bernama Santiago. Dia merupakan seorang duda dan sering ditemani anak kecil bernama Manolin. Terjadi hal buruk kepada Santiago, dalam novel ini disebut dengan istilah Salao. Bentuk terburuk dari ketidakberuntungan, yakni tidak mendapatkan ikan saat melaut dalam waktu lama.

Awalnya Manolin sering melaut dengan Santiago. Namun setelah Santiago 40 hari melaut tanpa mendapatkan ikan maka Manolin dilarang ikut berlayar bersamanya oleh orang tua Manolin. Anak kecil ini menuruti kehendak orang tuanya untuk pindah perahu. Dia pun mendapatkan 3 tangkapan ikan bagus dalam seminggu pertama. Ini membuat Manolin merasa iba terhadap Santiago.

Ketidakberuntungan Santiago berlanjut hingga 84 hari. Kemudian dia mencoba keberuntungan di hari ke 85 dengan berangkat berlayar menuju Gulf Stream. Arus di sana terkenal begitu deras. Tampak seekor ikan marlin yang begitu besar. Ikan itu pun memakan umpan yang ada di kail Santiago.

Saat lelaki tua itu mencoba menarik ikan marlin, malah dia yang terseret oleh ikannya. Dia pun terluka dan merasa kesakitan. Dalam lamunannya, dia teringat bahwa akan lebih mudah menangkap ikan marlin ini bila bersama anak kecil itu. Kesakitan itu berawal dari keramnya tangan kiri, kemudian punggungnya hingga ke bagian-bagian lain tubuhnya.

Di hari kedua, Santiago memakan ikan tuna yang dibawa saat berangkat. Tak peduli seberapa minat untuk makan, dia harus makan di pagi hari untuk tenaga. Ikan mati akan menjadi busuk apabila dibiarkan terlalu lama. Selanjutnya dia memasang kail lagi dengan satu tangannya dan mendapatkan lumba-lumba. Dalam perut lumba-lumba terdapat 2 ikan terbang yang masih segar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sungguh enaknya daging lumba-lumba yang sudah dimasak. Namun dia tidak membawa jeruk nipis dan lupa berpikir untuk menciptratkan air laut agar dagingnya lebih asin. Nyatanya yang dia makan adalah daging lumba-lumbah mentah, sangat tidak enak rasanya. Semua harus dilakukan untuk bertahan hidup. 4 hari di lautan tanpa melihat seorang pun.

Berhari-hari terseret oleh ikan, akhirnya Santiago bisa membunuh ikan marlin raksasa ketika posisinya dekat dengan sampannya. Namun dia bingung untuk membawanya karena ikan lebih besar dari sampannya. Santiago pun mengikat ikan itu berdampingan dengan sampannya. Ekornya yang terbuka seakan menambah layar yang ada di kapal. Lelaki tua ini membayangkan begitu banyak hal selama di laut. Ikan marlin raksasa dijual untuk ini dan itu.

Santiago merasa bersalah ketika membunuh ikan marlin ini. Dia sadar juga bahwa nelayan memang pekerjaannya membunuh ikan. Ikan lebih besar dari sampannya, terpikirkan bahwa yang membawa kendali sampan ini adalah ikan atau dirinya sih. 4 hari bersama membuat nelayan ini memiliki rasa kasih terhadap ikan.

Bau anyir ikan marlin mengundang ikan hiu datang. Santiago merasa sakit ketika ikan ini digigit oleh hiu. Tubuh ikan marlin ini pun tidak mulus seperti semula. Dengan sekuat tenaga ia mengusirnya. Namun dia kehabisan amunisi dan ikan marlin pun habis dimakan hiu. Dan dia pun sampai di pelabuhan dengan membawa kerangka ikan marlin.

Buku ini bercerita tentang perjuangan. Meskipun berbulan-bulan tidak mendapatkan hasil dari yang diusahakan, jangan pernah menyerah. Kehidupan di laut begitu keras, apalagi tanpa peralatan yang memadai. Ketika posisi sendiri dan lelah akan muncul khayalan-khayalan. Bisa jadi itu harapan, ilusi, atau keras kepala. Di saat posisi sulit, diperlukan kekuatan doa. Walaupun dalam novel ini doanya ‘dinego’.

Bagi seorang anak petani, membayangkan kehidupan laut lumayan sulit. Apalagi hanya dengan sebuah bacaan tanpa gambar. Untungnya sebelum baca buku ini, saya sudah pernah menonton film tentang perjuangan hidup di laut. Judulnya “In Heart of The Sea” (2015). Dalam film ini, ikan yang diburu adalah paus, diambil minyaknya untuk dijual. Lokasinya juga sama, yakni di Samudra Atlantik dengan latar tahun 1820an. Ditemukan satu paus yang sangat besar dan memecahkan kapalnya. Pemburu bertaubat karena telah merasakan apa yang terjadi pada ikan. Dia pun beralih menjadi pedagang.

Saya membaca novel ini karena alm. Yai Sholah pernah menyebut nama Ernest Hemingway. Ini merupakan novel ke-tujuh Ernest dan ditulis tahun 1952. Novel ini mendapatkan Nobel Prize di bidang sastra tahun 1954. Buku ini akan tetap menjadi baru bagi yang belum membacanya. Selamat membaca bagi yang belum.

Judul: The Old Man and The Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Deera Army Pramana
Penerbit: Narasi, Yogyakarta
Cetakan: 1, 2015
Tebal:164 halaman
Peresensi: M. Masnun (anggota Sekolah Membaca Tebuireng)

SebelumnyaNagih Hutang kok Kayak Pengemis?
BerikutnyaFragmen Perpisahan