sumber ilustrasi: lifepal.com

Oleh: Dian Bagus*

Mungkin diantara kita pernah memberi hutang (pinjaman) pada teman, sahabat, kerabat, bahkan orang selainnya? Sebenarnya, memberi pinjaman (hutang) ke orang lain adalah perilaku yang baik dan mulia, tetapi kadang kenyataan tak mengenakkan juga terjadi saat waktunya tiba.

Jadi kayaknya, mulai dari sekarang pikir ulang deh sebelum menghutangi lagi. Mengapa? Sebab kebanyakan pemberi hutang akan sengsara saat menagih, seperti pengemis yang meminta-minta padahal itu adalah uang kita sendiri, saat kesepatakan udah jatuh tempo, kebanyakan pemilik hutang suka lupa, atau sengaja melupakan.

Mungkin ini bukan saran yang akan membuatmu jadi manusia kejam dan jahat apalagi kikir. Namun sebaliknya, ini adalah saran yang akan membuat hidup mungkin lebih tenang, mudah, dan bebas dari masalah yang tak perlu, masalah yang tak mengenakkan seperti di atas.

Barangkali kita perlu memahami prinsip hutang, jenis-jenis hutang dan bagaimana kita tidak terlibat dalam urusan ini. Ingat-ingat! Kita juga harus bisa jadi bijak saat memberi hutang dan apalagi menjadi penghutang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Intinya sih, pikir-pikir lagi untuk memberi hutang kalau kamu tak kuat menagihnya, dari pada jadi pertengkaran dan saling tak enak hati. Meski kadang, memang tidak tega bila ada yang ingin pinjam tak dikasih (pas kita lagi punya).

Tapi memberi hutang juga kadang lebih mengesalkan saat menagihnya. Membingungkan bukan? Jadi semua terserah kamu deh, yang penting hidup tetap tenang dan tak terusik karena kamu tiba-tiba jadi penagih hutang, hehehe.

Pernahkah kamu berpikir? Mengapa bank, leasing, lembaga keuangan bahkan hingga rentenir harus repot-repot dan capek-capek mempekerjakan jasa deb collector untuk menagih hutang? Karena orang yang menghutang memang suka lupa ingatan, atau pura-pura lupa.

Menagih orang yang hutang itu lebih sulit dari yang tersulit, ampun-ampunan, lebih rumit dari yang paling rumit, ngomongnya enggak enak, ditahan bikin nyesek, lebih nyebelin dari yang paling nyebelin.

Nagih hutang kok kayak meminta-minta? Padahal ya uang, ya uang kita sendiri.

Lalu pertanyaannya, kenapa begitu? padahal kalau kamu ngutang biasanya kamu tak usah ditagih sudah bayar, tepat waktu, engga bisa tidur kalau masih punya hutang, pusing mikirin hutang dan kepingin melunasinya, bukan?

Maka prinsip selanjutnya mengenai hutang: “Jangan gunakan dirimu sebagai standar, standarmu bukan standar untuk semua orang. Faktanya, tukang hutang yang dikit-dikit hutang mayoritas juga adalah dicari susah, ditagih apalagi, kadang cuman tebar janji dan ngomong enggak ada uang. Tapi postingan di sosmednya kece-kece, hidupnya foya-foya.

Hutang Celengan

Hutang celengan berarti hutang yang berasal dari orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan kita, baik itu teman atau keluarga yang sedang kesulitan ekonomi, hingga untuk membeli makan dan memenuhi kebutuhan mendasar saja sangat kesulitan.

Baik itu orang asing yang nyasar di jalan, orang-orang sakit dan sejenisnya, seluruhnya itu layak untuk mendapatkan bantuan hutang, pinjaman dan bahkan pemberian. Jika menemui yang seperti ini bukan cuma harus tapi kita memang wajib untuk memberikan bantuan yang kita bisa.

Dalam berbagai kasus yang umum, kita dapat mengubah mindset meminjamkan hutang menjadi memberikan uang sebanyak yang kita bisa dan ikhlaskan. Dengan prinsip membantu maka kita akan bertanya berapa yang dibutuhkan lalu menghitung beberapa yang sanggup kita berikan sebagai hutang sambil dalam hati mengikhlaskannya tanpa mengharap uang tersebut kembali.

Dengan niat memberi, itu akan membantu kita dan orang yang kita pinjami untuk terbebas dari beban yang tak perlu dimasa mendatang. Tapi toh bukan hutang seperti itu yang kerap kita temukan, bukan? namun hutang jenis lain yang aduhai sungguh menjengkelkan.

Hutang-hutangan

Seringkali memberikan hutang untuk keperluan yang random abis, ada banyak sekali jenis hutang yang tidak seharusnya eksis. Ada hutang untuk membeli barang-barang yang tidak perlu, hutang untuk membayar hutang, sampai hutang untuk membeli usaha.

Kamu mungkin bang toyib, bang rozak, atau bang nurdin tapi kamu bukan bank. Maka bukan tugasmu meminjamkan uang untuk kebutuhan usaha yang produktif maupun membeli produk-produk yang bersifat konsumtif.

Namun faktanya tak sedikit orang yang berhati baik, tidak sombong, selalu mendukung teman dan suka menolong. Tapi suka menolong tidak sama dengan suka ngutangin dong? Itu beda jauh.

Tolong menolong sesama teman dapat memberikan kebahagiaan, tapi hutang-menghutang sesama teman akan merusak persaudaraan. Jika kamu meminjamkan uang untuk menolong, ada banyak hal lain yang dapat dilakukan selain meminjamkan uang: kamu dapat mendukung usahanya, membeli produknya, memberi saran atau menemaninya.

Jika kamu meminjamkan uang untuk menanam budi baik agar dapat ditolong lain kali saat kamu membutuhkan pinjaman. Well, percayalah itu tak akan terjadi kecuali kamu juga tukang hutang.

Sesungguhnya memang tidak terlalu banyak hal positif dari sikap saling hutang menghutangi sesama teman dan kerabat. Sebab janji tinggal janji, manis saat minjem uang berarti manis saat mengembalikanya.

Faktanya ada banyak hutang yang berakhir tidak dibayar atau harus ditagih sekuat gatot kaca, padahal itu uangmu, yang kamu hasilkan dengan keringat, waktu dan perjuanganmu.

Kamu mungkin punya rencana untuk uang tersebut, kamu sudah mengeluarkan tenaga untuk mendapatkannya. Kenapa kamu harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya kembali?

*Mahasiswa Unhasy.

SebelumnyaPandemi dan Konspirasi
BerikutnyaMbah dan Laut