
Ada masa ketika semangat membela sesuatu yang dicintai begitu besar, hingga tanpa disadari yang lebih penting justru terlewatkan yaitu menjaga dari dalam. Pesantren yang selama ini dipandang sebagai benteng moral dan ruhani tidak luput dari ujian. Bukan hanya dari luar, tetapi perlahan juga dari dalam.
Realita tidak selalu seindah harapan. Di beberapa tempat, mulai tampak gejala yang mengusik, mulai dari perilaku yang menyimpang, lemahnya pengawasan, hingga hal-hal yang dahulu terasa jauh dari dunia pesantren kini mulai terasa dekat. Ini menjadi cermin bahwa tidak ada lingkungan manusia yang sepenuhnya steril dari ujian.
Pesantren, jika diibaratkan seperti tubuh manusia, memiliki banyak bagian yang saling terhubung. Ada “kepala” sebagai pusat pemikiran dan arah kebijakan, ada “hati” sebagai sumber nilai dan niat, dan ada “anggota tubuh” sebagai pelaksana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika semua bekerja selaras, tubuh akan sehat.
Namun ketika satu bagian terganggu, seluruh tubuh akan merasakan dampaknya. Tidak semua gangguan harus diumumkan ke dunia luar. Sebagaimana tubuh yang sakit tidak selalu perlu diperlihatkan kepada semua orang, pesantren pun demikian. Ada hal-hal yang cukup diobati dari dalam, dengan ketenangan dan ketepatan, tanpa harus menimbulkan kegaduhan.
Ketika berhadapan dengan kenyataan seperti itu, muncul dua kecenderungan. Pertama, reaksi keras yang ingin segera meluruskan semuanya, seperti orang yang panik ketika tubuhnya sakit. Kedua, sikap diam yang memilih tidak peduli, seperti orang yang menyadari penyakitnya tetapi enggan berobat.
Keduanya tidak selalu menjadi jalan terbaik! Di antara dua sikap itu, ada jalan yang lebih bijak: merawat dari dalam dengan kesabaran dan kesadaran. Sebagaimana tubuh dirawat agar kembali sehat, pesantren pun membutuhkan perawatan yang berkelanjutan.
Menjaga marwah pesantren bukan sekadar membela di hadapan publik. Bukan pula sekadar menjawab tuduhan atau melawan narasi negatif. Lebih dari itu, menjaga marwah ialah memastikan bahwa “organ-organ” di dalamnya tetap berfungsi dengan baik, yakni akal tetap jernih, hati tetap bersih, dan perilaku tetap lurus.
Para ulama terdahulu telah memberi teladan dalam hal ini. Sosok seperti KH. Hasyim Asy’ari, beliau menjaga keseimbangan ruh, adab, dan arah perjuangan. Perjuangan itu tidak selalu dilakukan dengan langkah besar, tetapi melalui keteguhan dalam hal-hal kecil yang dijaga terus-menerus.
Dari sini dapat dipahami bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru seringkali berawal dari perawatan kecil yang konsisten, sebagaimana tubuh yang sehat dibentuk dari kebiasaan sederhana yang dijaga setiap hari.
Ketika kegelisahan terhadap kondisi pesantren muncul, yang lebih penting ialah ke mana kegelisahan tersebut diarahkan. Jika hanya berhenti pada keluhan, ia seperti rasa sakit yang dibiarkan tanpa pengobatan. Namun jika diarahkan menjadi langkah, ia menjadi tanda bahwa ada kesadaran untuk memperbaiki.
Salah satu jalan yang sederhana namun ‘dalam’ adalah silaturahmi dan ziarah. Dalam analogi tubuh, silaturahmi dapat diibaratkan sebagai aliran darah. Ia menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, membawa “nutrisi” berupa pemahaman, pengalaman, dan semangat. Tanpa aliran yang baik, bagian tubuh akan melemah, bahkan bisa kehilangan fungsi.
Ziarah, di sisi lain, dapat diibaratkan sebagai penguatan jantung. Dengan mengingat perjuangan para ulama, semangat kembali berdenyut. Nilai-nilai yang sempat melemah menjadi hidup kembali. Tanpa jantung yang kuat, tubuh akan kehilangan arah dan daya.
Langkah-langkah seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Dari satu pertemuan, bisa lahir pemahaman. Dari satu perjalanan, bisa muncul kesadaran baru. Dan dari satu niat yang lurus, bisa terbuka banyak jalan yang sebelumnya tidak terlihat.
Di tengah semua itu, ada satu hal penting yang tidak boleh diabaikan yaitu pengelolaan diri. Tubuh yang sehat tidak hanya bergantung pada pengobatan dari luar, tetapi juga pada disiplin dari dalam. Amalan seperti puasa memberikan pelajaran berharga. Dalam keadaan menahan, hati menjadi lebih tenang, gejolak mereda, dan pandangan menjadi jernih. Dalam keadaan tidak menahan, energi kembali muncul bersama dorongan untuk bergerak.
Dari situ tampak bahwa hawa nafsu bukan untuk dimatikan, tetapi untuk dididik dan diarahkan. Begitu pula dengan kegelisahan terhadap kondisi pesantren. Ia tidak perlu dihilangkan, tetapi diarahkan agar menjadi sumber kebaikan.
Dalam proses perbaikan, adab tetap menjadi kunci. Mendahulukan mendengar sebelum berbicara, menghormati yang lebih berpengalaman, serta menjaga agar langkah tidak menimbulkan kegaduhan adalah bagian dari proses itu sendiri. Perubahan yang baik tidak hanya ditentukan oleh hasil, tetapi juga oleh cara mencapainya.
Tidak semua gagasan akan diakui sebagai milik pribadi. Dalam banyak keadaan, ide bisa menjadi bagian dari keputusan bersama tanpa diketahui asalnya. Namun, dalam pandangan yang lebih luas, hal itu bukan kerugian. Selama perubahan tetap berjalan dan kebaikan tetap terjadi, itulah yang lebih utama.
Justru di situlah letak ujian keikhlasan. Tetap bergerak meskipun tidak disebut, tetap menjaga meskipun tidak terlihat, dan tetap berharap hanya kepada Allah, bukan kepada pengakuan manusia.
Di sisi lain, ada pula ujian dari luar. Ketika seseorang dikenal sebagai bagian dari penjaga marwah pesantren, muncul tanggung jawab yang tidak ringan. Menjaga marwah bukan berarti menutup mata dari kenyataan, tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang menjaga kehormatan.
Karena itu, kejujuran terhadap realita harus tetap dijaga. Masalah tidak boleh disembunyikan, tetapi juga tidak disebarkan tanpa hikmah. Jalan tengahnya adalah menyelesaikan di dalam dan menyampaikan ke luar dengan kebijaksanaan.
Langkah seperti silaturahmi dan ziarah, meskipun sederhana, dapat menjadi pintu masuk perubahan yang lebih luas. Dari satu langkah kecil, bisa terbuka langkah berikutnya. Dari satu niat yang dijaga, bisa datang pertolongan yang tidak disangka.
Keterbatasan, termasuk dalam hal biaya, seringkali menjadi bagian dari ujian. Namun sebagaimana tubuh yang tetap bisa sehat dengan pola hidup sederhana, langkah kebaikan pun tetap bisa berjalan meskipun dalam keterbatasan. Yang terpenting bukan seberapa besar langkah yang diambil, tetapi seberapa konsisten langkah itu dijaga.
Pada akhirnya, menjaga marwah pesantren bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kejujuran. Tidak semua peran harus terlihat. Tidak semua usaha harus diketahui. Karena seringkali, yang paling menentukan justru adalah apa yang terjadi di dalam.
Jika “hati” tetap hidup, maka seluruh tubuh akan mengikuti. Jika nilai tetap terjaga, maka bentuk luar akan menyesuaikan. Jika langkah ini benar, semoga Allah menguatkan. Jika masih ada kekurangan, semoga Allah memperbaiki.
Dan jika ini bagian dari penjagaan yang lebih besar, semoga Allah membukakan jalan seluas-luasnya. Karena menjaga bukan hanya tentang apa yang tampak di luar, tetapi tentang apa yang terus hidup dan dijaga di dalam.
Baca Juga: Menyikapi Isu Seputar Insiden Pesantren dengan Nalar dan Nurani
Penulis: Gus Bahar, Pondok Pesantren Seblak Jombang


















