Makna Hadis Umat Nabi Muhammad SAW Terpecah menjadi 73 Golongan

847

Oleh: Ustadz Zaenal Karomi*

Assalamualaikum Wr. Wb.

Apa makna hadis yang menyebutkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang masuk surga? Tolong sertakan sumber argumen juga. Terimakasih banyak.

Miftahul Hidayatullah, Kab. Siak , Riau.

Terimakasih kepada penanya, Bapak Miftahul Hidayatullah dari Kab. Siak, Riau. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Adapun ulasan jawaban pertanyaan tersebut sebagai berikut:

Dalam pembahasan terpecahnya umat Nabi Muhammad SAW menjadi 73 golongan terdapat dalam matan (teks redaksional) hadis yang diambil dari riwayat Imam Thabrani sebagai berikut:

افترقت اليهود على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة ، وافترقت النصارى على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة ، وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، الناجية منها واحدة والباقون هلكى. قيل: ومن الناجية ؟ قال: أهل السنة والجماعة. قيل: وما السنة والجماعة؟ قال: ما انا عليه اليوم و أصحابه »

“orang-orang Yahudi bergolong-golong terpecah menjadi 71  atau 72 golongan, orang Nasrani bergolong-golong menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan bergolong-golong menjadi 73 golongan.  Yang selamat dari padanya satu golongan dan yang lain celaka. Ditanyakan ’Siapakah yang selamat itu?’ Rasulullah SAW menjawab, Ahlusunnah wal Jama’ah. Dan kemudian ditanyakan lagi, apakah assunah wal jama’ah itu? Beliau menjawab, ‘Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, dan beserta para sahabatku (diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan beserta para sahabat)’

Dari hadis tersebut dapat diketahui dengan pasti bahwa istilah as Sunnah wal jama’ah dan ahlussunnah wal jama’ah itu sudah dipergunakan pada zaman Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tidaklah benar anggapan seakan-akan timbulnya kedua istilah tersebut dicari-cari atau merupakan reaksi dari adanya golongan syiah, muktazilah, khawarij, dan sebagainya.

Hadis tersebut juga memiliki banyak redaksi yang menjelaskan tentang hal ini. akan tetapi, semuanya menggunakan redaksi yang berbeda, salah satunya hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi. Mayoritas ulama menyatakan bahwa hadis ini dapat dijadikan pegangan, karena diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi Muhammad SAW. Seorang ahli Hadits, Syaikh Muhammad bin Ja’far al-Hasani al-Kattani mngatakan:

“Hadis yang menjelaskan sabda Nabi SAW tentang umatnya yang akan menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu di surga dan tujuh puluh dua masuk neraka, diriwayatkan dari hadits amiril mu’min ‘Ali bin Abi Thalib RA, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu ‘Umar, Abi al-Darda, muawwiyah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abi Umamah, Watsilah, ‘Awf bin Malik dan Amr bin Awf al-Muzanni. Mereka semua meriwayatkan bahwa satu golongan yang akan masuk surga, yakni al-jama’ah.” (Nazh al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawattir, 58. dikutip dari Syarh Aqidah al-Saffarini)

Memang, pada zaman Rasulullah SAW dan beberapa waktu sesudahnya, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah itu tidak pernah banyak diucapkan, karena pada zaman-zaman itu umat Islam masih sepenuhnya berada pada garis as Sunnah wal Jama’ah. Tiap terjadi penyimpangan dari garis itu dapat diketahui dengan jelas baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok kecil. Setelah penyimpangan menjadi melembaga dan membudaya, sehingga menimbulkan kekacauan dan pertentangan meluas. Dengan demikian, maka perlu ada ketegasan mana yang masih berada dalam garis as Sunnah wal Jama’ah dan mana yang sudah benar-benar  menyimpang dan bertentangan dengan ajaran tersebut.

  Salam untuk Para Pendahulu

Pada abad ke 3 Hijriah, Imam Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi melakukan  kristalisasi dan membangkitkan kembali istilah Ahlussunnah wal Jama’ah. Zaman sama sekali tidak berarti “hari lahir Ahlussunnah wal Jama’ah” karena paham tersebut sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Dalam proses kristalisasi, kedua tokoh tersebut tidaklah berdiri sendiri. Akan tetapi, pendirian-pendirian kedua tokoh itu didukung atau saling mendukung dengan para ulama lain seperti ulama ahli tasawuf, para tokoh mujtahid lainnya.

Lalu, siapa satu golongan yang masuk surga?

Dalam keterangan tersebut golongan selamat adalah golongan yang mengikuti as Sunnah wal Jama’ah. Dalam artian, ajaran yang mengikuti dan mengamalkan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, baik yang berwujud perkataan, perbuatan, tingkah laku, kebiasaan maupun yang diajarkan dengan cara lain, termasuk penyampaian Al Qur’an dan al Hadis. Selain itu juga, ajaran yang mengikuti para sahabat Nabi Muhammad Saw, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan Nabi, yang hidup bersamanya, mendengar sabda-sabdanya, melihat tingkah laku perbuatannya, dan memahami sikap dan kebiasaannya serta mengahayati segala-galanya yang datang dari Nabi, dan mengamalkan bersamanya.

Ruang lingkup Assunnah wal Jamaah tak hanya mengenai bidang Aqidah saja, tapi juga meliputi bidang-bidang syari’ah, tasawuf, dan selanjutnya mengenai juga masalah-masalah tata ekonomi, pergaulan sesama kaum muslimin, sesama umat beragama dan masalah yang menyangkut pemerintah.  Dengan demikian bahwa as Sunnah wal Jamaah identik dengan “Islam Murni”, yaitu Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan para sahabatNya sampai para ulama salaf as shalih. Selain itu, prinsip jalan tengah yang ditempuh Aswaja, yang berwujud karakter tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) membuat Aswaja mampu hidup dan berkembang di wilayah mana saja dan mampu melebur dengan kebudayaan setempat, serta senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Lebih jauh, dalam sejarah Islam ada empat imam yang pendapat-pendapatnya paling lengkap di-tadwin dan paling lengkap rangkaiannya mengenai berbagai masalah keislaman secara menyeluruh yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali dalam bidang syari’ah. Pada bidang aqidah, ditokohi Imam Abu Hasan al Asyari dan Abu Mansur al Maturidy serta dalam bidang tasawuf ditokohi oleh Imam Junaidi al Baghdadi, dan Imam Ghazali. Mereka  itulah yang melakukan perjuangan atau kristalisasi, membuktikan pendirian yang bagaimanakah ajaran yang sesuai dengan kemurnian ajaran Rasulullah Saw serta bersama-sama yang diamalkan para sahabatnya.

InsyaAllah, dengan jiwa as Sunnah wal Jamaah, sikap dan tingkah laku yang mencerminkan jiwa itu, kita akan selamat di dunia dan akhirat. Amiin yaa robba ‘alamiin. Walllahu ‘alam.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari