Santri Tebuireng saat berjamaah di Masjid Pesantren Tebuireng. (dok. tebuirengonline)

Oleh: Dimas Setyawan*

Berawal ketika sebelum ada kewajiban santri Tebuireng berjamaah di satu tempat, banyak sekali santri yang sholat di kamar masing-masing. Kemudian dari beberapa pengurus Pesantren Tebuireng meminta nasihat dan masukan kepada para kiai-kiai sepuh untuk bagaimana menjadikan santri lebih disiplin, baik dari segi ibadah dan amaliyah. Pada akhirnya pengurus Pesantren Tebuireng bersepakat untuk sowan KH. Hanan Kwagean, kemudian beliau menyarankan  untuk seluruh santri agar sholat berjamaah di masjid. Untuk bisa melaksanakan hal itu tidaklah mungkin bila tidak didukung dengan fasilitas yang memadai. Sehingga pengasuh berinisiatif untuk merenovasi masjid yang akan dapat menampung segala kegiatan santri di masjid. Pada awal perancangan pembangunan masjid Pesantren Tebuireng.  

Awal periode KH. Salahuddin Wahid menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng, jumlah santri belum sampai mencapai 2000 santri, hitungan ini diperkirakan pada tahun 2006.  Dengan perkiraan awal  kapasitas 2000 sudah dirasa cukup dan menampung  jamaah sholat santri dan segala kegiatannya, maka di bangunlah masjid dan dengan ketentuan bahwa masjid induknya tidak boleh dibongkar atau diubah. Akhirnya yang bangunan masjid induk itu tetap dipertahankan. Pada waktu itu juga bagian sebelah masjid utama, dijadikan sebagai kelas unit Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari.  

Masjid Pesantren Tebuireng dibangun oleh dana dari berbagai pihak. Dari pesantren, kementerian agama dan beberapa iuran sekitar. Pada waktu itu, kekuatan keuangan pondok sendiri belum begitu mampu untuk dapat membangun masjid. Dan lebih banyak dari bantuan pihak-pihak luar. Adapun untuk arsitektur menyamai dengan bentuk masjid yang sudah ada. Bangunan tetap kita selaraskan dengan bentuk awalnya, terutama pada lagamnya. Adapun untuk miniatur masjid Pesantren Tebuireng kami mengambil corak-corak dari beberapa masjid di timur tengah.

Penambahan masjid Pesantren Tebuireng yang telah di renovasi terlihat dari perluasan bagian serambi masjid. Sebenarnya sebelum di renovasi, bagian serambi masjid bisa dikatakan bangunan semi permanen. Dan bagian serambi masjid itu bercorak pada peninggalan masjid induknya dari peninggalan KH. Hasyim Asyari. Untuk tetap dapat menampung sholat jamaah santri dan kegiatannya, masjid Pesantren Tebuireng lalu dilebarkan ke arah timur 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Masjid Pesantren Tebuireng sendiri telah mengalami setidaknya 5 kali renovasi. Saat awal-awal KH. Hasyim mendirikan pesantren, masjid Pesantren Tebuireng hanya terdiri dari bambu-bambu yang disatukan satu dengan lainnya. Renovasi masjid pertama kali di lakukan pada zaman kiai hasyim ketika hendak melaksanakan muktamar. Dengan mendatangkan tenaga material dari daerah Madiun yakni daerah sewu wulan. Masjid Pesantren Tebuireng memiliki kesamaan dengan masjid sewu wulan. Kesamaan bisa di lihat dari atap terutama pada pengerjaan kayunya. Pada zaman KH. Kholik Hasyim juga terdapat renovasi masjid, lalu dilanjutkan pada era kepengasuhan KH. Yusuf  terdapat penambahan berupa atapnya dari asbes. 

Mengenai tongkat KH. Hasyim yang digunakan untuk khutbah Jum’at telah dicuri untuk kepentingan politik yang tidak bertanggung jawab. Adapun barang warisan dari KH. Hasyim  dan masih terawat dengan baik hingga saat ini adalah mimbar, tempat peribadatan dan lantai masjid utama masih asli dilestarikan. Bisa dikatakan bahwa mimbar itu seumuran dengan umur masjid Pesantren Tebuireng. Kebijakan tidak diubahnya masjid Pesantren Tebuireng, karena permintaan dari para kiai sepuh. Karena diyakini di masjid tersebut menyimpan energi yang cukup kuat. Dan sangat terasa perbedaannya energinya. Di tempat masjid tebuireng menjadi saksi sejarah perkumpulan para ulama-ulama NU mendirikan NU.

*Mahasiswa Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

SebelumnyaMahasiswa AMSP Unhasy Ikut Awasi Pelaksanaan PAS
BerikutnyaAl Muwatta, Mengenal Karya Imam Malik