Lesbumi foto bersama dengan Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz usai pembukaan simposium sastra pesantren di gedung KH. Yusuf Hasyim Tebuireng, Jumat (2/13/2022). (Foto: asfa/to)

Tebuireng.online— Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI) berkerja sama dengan Pesantren Tebuireng gelar Simposium Sastra Pesantren pada Jum’at, (2/12/2022) di Pesantren Tebuireng.

Acara yang mengusung tema “Merumuskan Ulang Sastra Pesantren” ini diadakan selama 3 hari, dengan menghadirkan pemateri-pemateri yang akan mengisi disepanjang acara. Diantaranya adalah Prof. Oman Fathurrahman, Dr. Aguk Irawan, Acep Zam-zam Nor, serta pegiat sastra lainnya.

Ketua PW Lesbumi NU Jawa Timur, Nonot Sukrasmono menyampaikan bahwa latar belakang pertimbangan dilaksanakan simposium ini karena beberapa hal.

“Pesantren sangat dekat dengan sastra, sastra pesantren belum terumuskan dengan jelas dalam bingkai filsafat ilmu, baik dari segi ontologi, epistemologi, aksiologi, dan lainnya.” Ungkapnya kepada tim Tebuireng Online.

Ia juga menambahkan, “dibutuhkan batasan yang jelas terkait dengan sastra pesantren, baik dari sisi kesusastraannya yang mencakup aspek objektif, ekspresif, mimesis dan pembaca, juga dari sisi religi-kulturalnya dalam diskursus sastra modern.” Tegasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pria yang berprofesi sebagai guru seni dan seniman berharap agar hasil simposium ini nanti bisa dibukukan.
“Karena ini merupakan sejarah, pintu gerbang sastra pesantren ada di tebuireng. Ini merupakan momentum yang sangat baik.”

Pembukaan simposium sastra pesantren yang akan digelar selama 3 hari. Sejak Jumat hingga Ahad, besok (4/12/2022).

Sebelum simposium sastra ini dibuka secara resmi oleh Pengasuh Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, terlihat ada pertunjukan sastra yang memukau dari SMK TI Bahrul Ulum, dengan mengangkat tema Gusti Allah Mboten Sare (Gusti Allah Tidak Tidur).

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, membuka secara resmi simposium tersebut dan memberikan keynote speaker.

“Sastra pesantren itu tidak terlepas dari kitab-kitab. Kalau kita mempelajari kitab-kitab klasik atau kitab salaf, disana sebetulnya ada banyak sekali nilai-nilai sastra yang luar biasa. Sayangnya kita sering tidak menyadari hal tersebut, padahal itu semua bersumber dari sastra yang tinggi, yakni Al-Quran” ungkap pengasuh saat memberikan keynote speaker.

“Indonesia ini menjunjung sastra dan tradisi yang sangat tinggi. Meski dijajah oleh asing selama berabad-abad, Indonesia tetap bertahan dengan tradisi dan budayanya. Namun saat ini pengaruh globalisasi dan modern, perlahan menggores budaya dan tradisi leluhur kita. Maka dari itu perlu dirumuskan ulang, sastra yang dibuat selama bertahun oleh sejarah, agar bangsa kita tetap maju dengan kebudayaan, tradisi, dan sastra masing-masing,” tegas beliau.

Pewarta: Al Fachrizal

SebelumnyaSeminar Pemikiran Hadratussyaikh, Ini Pesan Penting Gus Kikin
BerikutnyaGus Fahmi: KH Hasyim Asy’ari Sosok yang Komplet