Kritikan Al Quran Terhadap Usia

5750

Oleh: KH. Musta’in Syafi’ie

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىآلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.

Satu-satunya umur yang disebutkan dalam Al Quran yaitu usia empat puluh tahun. Hatta idza balagho asyuddahu wa balagho arba’iina sanah. Ini sebuah koreksi, pada tatanan dunia yang dulu dalam membahas perkembangan pemikiran kedewasaan manusia. (Dulu) dianggap bahwa pikiran mengalami big frontal waktu usia 25 tahun. Dan sampai kisaran abad akhir masih dianggap demikian. Tetapi Al Quran mengoreksi pandangan-pandangan itu dan menyebut pada usia 40 tahun. Pada penelitian mutakhir dibenarkan bahwa big frontal dimulai dari 40 tahun.

Life begin at Forty ini menjadi sebuah canangan di dalam Al Quran al-Karim, apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah berusia 40 tahun. Surah al-Ahqaff ini memberikan resep-resep. Ketika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun, maka gagasan pertama adalah awzi’nii an asykura ni’mataka allati an’amta ‘alayya memohon kepada Allah dianugerahi kepribadian yang pandai bersyukur. Yang bisa mengoptimalkan segala yang ada, menjadi kiprah ibadah. Bisa memanfaatkan semua tindakan, untuk dipersembahkan kepada Allah SWT semata. Ini berarti menjadi satu bab tersendiri. Karena seseorang itu susah untuk bersyukur secara totalitas.

Tidak hanya itu, yang kedua yaitu wa ‘ala walidayya. Bagaimana berbuat baik kepada kedua orangtua. Bersyukur yang salah satu sasarannya adalah kepada orangtua. Abad akhir ini, (hubungan) perseorangan mulai renggang. Bisa saja seseorang tidak nyambangi (berkunjung) atau kurang perhatian terhadap orang tua. Dengan alasan sibuk, dinas, dan lain-lain. Untuk itu, konsep Al Quran tidak membenarkan siapa pun dan alasan apa pun untuk renggang dengan kedua orangtua.

Yang ketiga, wa an a’mala sholihan tardhohu. Bisa beramal saleh, yang diridai oleh Allah. Yang keempat, wa ashlihliy fi dzurriyatiy. Mempunyai keluarga yang bagus, bukan dirinya saja yang bagus. Tetapi semua keluarga dan anak keturunannya juga bagus. Ini merupakan satu pekerjaan tersendiri, mensalehkan diri sendiri memang bisa dan dilakukan. Tetapi untuk kesalehan anak, keluarga, cucu, juga merupakan satu pekerjaan tersendiri. Dalam hal mendidik anak, dibandingkan mendidik anak orang lain jauh lebih mudah mendidik anak orang lain daripada anak sendiri.

Berikutnya, yang terakhir. Pada titik-titik usia terakhir, inniy tubtu ilaika. Ya Tuhan berikan kami anugerah mampu bertaubat. Selanjutnya, wa inniy minal muslimim. Tetapkanlah kami dalam golongan orang-orang yang Islam. Mereka yang melakukan sekian progam setelah umur 40 ini, itulah:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ ۖ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

Pertama, kalau bisa. Menginjak usia 40 tahun, seluruh urusan duniawi itu harus sudah selesai. Seperti yang telah diperagakan oleh Hadratu Rasul Nabiyullah Muhammad SAW. Bisnis atau karir dirintis sejak awal. Umur 13 tahun sampai 18 berlanjut sampai 22, 25. Menikah dengan mas kawin yang sangat fantastis lebih dari 1 miliar. Mana ada pemuda sekarang yang memberi mas kawin lebih dari itu. Umur 35 tahun, benar-benar menjadi Top Investor, hebat perdagangan persoalan luar negeri.

Umur 40 tahun, beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya dan konsentrasi kepada mengajar, dakwah, dan penyebaran agama Islam. Sehingga di dalam perjuangan keagamaan ini beliau tidak lagi memikirkan masalah bisnis. Tidak memikirkan pangan dan uang, sehingga betul-betul murni dan ikhlas. Kalau bisa kita contoh proses Rasul ini.

Al Quran yang menjawab tesis dunia, yang dulu ketika memandang big frontal dalam kerja otak adalah umur 25 tahun, sekarang sudah tidak ada lagi. Sehingga yang digagas mereka yang belum berumur 40 tahun, hendaknya giat mempersiapkan diri sehebat mungkin. Kemudian mereka yang sudah di umur 40 tahun, mulai melakukan action.

Untuk itu sejarah membuktikan, bagaimana sahabat-sahabat Nabi dahulu ketika memperjuangkan keagamaan (yang di usia tua, yang di usia muda). Maaf, kalau kita merujuk kepada pondok pesantren ini (Tebuireng) pada bulan Juli. Dahulu di tahun 1945, perkiraan pada bulan Sya’ban. Bisa dibayangkan, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari rahmatullah alaihi pada saat perjuangan dalam kemerdekaan usia beliau sudah 70 tahun. Beliau wafat di tahun 1947, dalam usia 72 tahun. Berarti sebelum kemerdekaan pasti umur beliau belum 70 tahun dan sedang benar-benar giat memperjuangkan negeri ini.

  Bimbingan Ringkas Manasik Haji ke Tanah Suci (2) Tingkatan dan Rukun Haji

Saksi sejarah seperti yang diungkapkan oleh KH. Abdurrahman Badjuri kemarin, bahwa bulan Sya’ban Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengumpulkan para kiai-kiai se-Indonesia dengan dipilah-pilah. Ada yang memperkirakan sekitar 600 kiai se-Indonesia diundang ke sini (Tebuireng) semua. Mulai dari tanggal 1 Sya’ban, beliau mempimpin mujahadah. Wiridan dan puasa, murni minta kepada Allah agar segera merdeka.

Para kiai yang berkumpul di pesantren ini mulai dari bulan Sya’ban, sampai betul-betul merdeka pada tanggal 17. Diperkirakan mujahadah itu berlangsung selama 40 hari. Bayangkan, perang kyai-kyai zaman dahulu di dalam mengusahakan kemerdekaan tidak sekedar mengangkat senjata melainkan juga mujahadah. Sujud dan menangis dihadapan Allah bersama-sama, demo ramai-ramai dihadapan Tuhan agar segera diberi anugerah kemerdekaan.

Pengakuan para alumni-alumni (Tebuireng) terdahulu, bahkan sebelum tahun 1938. Pondok Pesantren Tebuireng menjadi saksi sejarah. Sudah sering dikibarkan bendera merah putih dan sudah terbiasa melagukan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Pondok Pesantren Tebuireng walau memakai sarung. Indonesia belum merdeka, tetapi disini (Tebuireng) sudah mengibarkan bendera dan melagukan lagu Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman. W.R. Supratman sendiri wafat pada tahun 1938. Ketika itu usianya sekitar 35 tahun.

Untuk itu, wajar kalau kaum santri ini betul-betul adalah kaum yang paling depan mengusahakan kemerdekaan negeri ini. Maka, jangan ajari kami tentang NKRI. Jangan menggurui kami tentang persatuan dan kesatuan.

Tidak hanya W.R. Supratman yang usianya muda, KH. M. Hasyim Asy’ari yang dalam usia tua dalam jihad keagamaan, tidak perlu memandang soal usia. Bisa dibayangkan, kalau zaman dahulu para kiai menyambut kemerdekaan dengan mujahadah. Istigfar banyak-banyak. Menangis-nangis dihadapan Allah untuk merdeka, tapi sekarang tinggal kenikmataan (kemerdekaan).

Mulai akhir Juli, atau awal Agustus ada banyak perlombaan sudah dimulai. Bahkan acara-acara maksiat pula ada. Begitulah perjalanan waktu, tetapi sebagai seorang muslim adalah ada kewajiban mengingatkan. Silakan, bersyukur tetapi bersyukurlah dengan cara yang baik. Bersyukur yang disukai oleh Allah SWT.

Terakhir, kenapa kami membicarakan masalah umur. Dan sebagai contoh adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asyari, usia sudah 70 tahun tetapi masih berkiprah dalam kemerdekaan 45. Ternyata, para sahabat-sahabat dahulu juga demikian. Mereka ada yang masuk Islam di usia tua. Seperti Abu Hurairah, masuk Islam pada tahun 7 Hijriah. Jadi kira-kira mendampingi Rasulullah itu lebih dari dua tahun. Untuk mengejar ketertinggalannya di dalam pengetahuan agama Islam, Abu Hurairah serius mendampingi Nabi untuk mengoleksi hadis sebanyak-banyaknya.

Merasa masuk Islam di usia senja, maka harus mengejar dan tidak kenal lelah. Ini yang perlu dicontoh. kalau sudah berumur tua itu bagaimana. Abu Hurairah masuk Islam pada tahun 7 Hijriah tetapi beliau juga menjadi perawi hadis papan atas. Abu Ayub al-Anshari, beliau yang menfasilitasi ketika Hadratu Rasul berhijrah. Dia diberi usia sampai 80 tahun, dan ikut perang.

Para panglima memaklumi, andai Abu Ayub al-Anshari tidak ikut perang. Tapi bagi Abu Ayub, tidak boleh alasan tua untuk tidak beribadah. Kita sekarang yang terbalik, kalau urusan beribadah seperti salat tarawih dan membaca Al Quran dengan waktu lama beralasan “Aku sudah tua, tidak begitu kuat.tetapi kalau urusan dunia, “Hmm, begini-gini saya masih kuat, nak.

Inilah yang dikritik oleh Al Quran, kenapa usia yang disebut satu-satunya hanyalah 40 tahun. Mudah-mudahan dengan keterangan mengenai umur ini, ada manfaatnya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ