
Di desa yang jauh dari kecanggihan teknologi, desa kecil di bawah lereng Gunung Ambarawa yang masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya, hidup seorang gadis bernama Ayu. Gadis kecil kesayangan Bapak yang dulu lugu, molek, dan ceria itu kini sudah berusia dua puluh tiga tahun. Ayu, kembang desa yang dulu dipuja-puja para joko desa karena kecantikan dan kesederhanaannya. Rok batik dan atasan polos sudah jadi identitas perempuan di sana, termasuk Ayu kecil yang selalu menenteng rantang berisi kopi untuk bapaknya di sawah.
Dulu, Ayu hanya bersekolah sampai SMA di daerah terpencilnya. Namun saat mulai menginjak dewasa, ayu mulai penasaran dengan dunia di kota. Dan akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota jurusan Ilmu Komunikasi, ia ingin belajar banyak tentang dunia digital, konten, dan perubahan zaman. Lama ia tak pulang ke kampung halamannya. Saat akhirnya dinyatakan lulus dan diwisuda, ia langsung kembali ke tanah kelahirannya, desa kecil di lereng Gunung Ambarawa.
Setiap pagi, Pak Malik bapaknya selalu duduk di teras rumah, memandangi sawah yang ia rawat sejak Ayu masih kecil, sambil menyeruput kopi hitam panas tanpa gula. Kopi itu bukan sembarang kopi, rasa dan aromanya khas, seolah menyimpan sejarah panjang kehidupan mereka. Belum ada yang bisa menandingi racikan kopi bapaknya, menurut Ayu. Bahkan seringkali tetangga-tetangga datang malam-malam hanya untuk cangkruk dan menikmati “kopi meramu” khas Pak Malik.
Sedangkan Ayu, yang baru pulang dari kota, kini lebih memilih teh hijau hangat dalam gelas kaca estetik.
“Yu, wong Jawa itu minum kopi. Teh itu buat tamu,” ujar Pak Malik suatu pagi, tanpa menatap putrinya.
Ayu tersenyum kecil. “Pak, di kota orang minum teh itu biar sehat. Nggak semua hal yang baru itu salah, Pak.”
Pak Malik hanya mengangguk pelan. Ia tak terbiasa membantah anak, tapi dalam hatinya ada rasa takut. Takut kalau Ayu lupa asalnya, lupa desanya, atau bahkan lupa cara hidup sederhana yang selalu ia ajarkan. Sebab jika dilihat dari segi penampilan saja, ayu sudah banyak berubah, dulu ia gadis sederhana yang hanya memakai rok batik dan atasan polos. Tapi entah kenapa sekarang ayu lebih sering menggunakan celana dan kaos.
****
Hari itu, Ayu ingin membuat konten dokumenter tentang kopi meramu khas bapaknya untuk diunggah ke YouTube. Ia menyiapkan kamera, tripod, dan mikrofon kecil. Namun, ketika ia mulai merekam, Pak Malik malah memalingkan wajah.
“Ngapain direkam-rekam, Yu? Bapak ini bukan artis.”
“pak, kalo mau direkam itu nggak harus jadi artis dulu. Aku mau rekam kopi meramu bapak. Aku mau dunia tahu, kalua kopi Bapak itu hebat.”
“Dunia? Dunia nggak butuh tahu. Yang penting kopi ini bisa bikin orang desa kerja dan jadi minuman terakhir sebelum menjelang malam.”
Ayu terdiam. Ia baru sadar, bagi bapaknya, kopi bukan sekadar minuman atau konten tapi napas kehidupan. Selalu ada cerita di balik setiap tetes kopi yang Bapak racik sendiri, tentang kerja keras, doa subuh, dan rasa syukur yang tidak pernah padam.
Sore itu, mereka duduk lagi di teras, di meja kayu tua yang sudah menemani sejak Ayu kecil. Di atasnya, dua gelas tersaji, satu berisi kopi hitam di cangkir tua, satu lagi teh hijau di gelas estetik.
“Yu,” kata Pak Malik pelan, “mungkin Bapak nggak ngerti soal kamera dan internet. Tapi kalau kamu bisa pakai itu buat bantu desa ini, ya… silakan.”
Ayu tersenyum. “Aku nggak akan ubah cara Bapak buat kopi, Pak. Aku cuma mau dunia tahu caranya.”
Pak Malik tertawa kecil. “Ya sudah, besok kita panen bareng. Tapi kamu harus ikut nyangkul juga, jangan cuma pegang kamera.”
Ayu mengangguk sambil tertawa. Saat itu ia sadar, meski mereka hidup di dua dunia berbeda satu dunia yang masih berpijak pada tanah dan tradisi, satu lagi berlari di arus digital keduanya tetap bisa berjalan berdampingan.
Di meja kayu tua itu, dua generasi berbeda akhirnya bersatu. Bukan lewat perdebatan, tapi lewat saling memahami bahwa budaya tak harus diganti, namun cukup dijaga, dirawat, dan diteruskan dengan cara yang baru. Dan sore itu, di antara aroma kopi bapak dan senyum hangat senja, Ayu merasa, pulang kali ini bukan sekadar kembali ke rumah, tapi kembali pada akar yang dulu membentuk dirinya.
Penulis: Ina Laila Shofiah
Editor: Rara Zarary


















