ilustrasi: literasi-finansial/deyik.finance

Oleh: Maulida Fadhilah Firdaus*

Mudahnya dalam mengakses media sosial menjadi salah satu kelebihan dari Generasi Z, salah satunya mudahnya dalam mendapatkan pemahaman literasi keuangan dan inklusi keuangan yang lebih dibandingkan generasi sebelumnya, namun di balik kemudahan dalam mengakses hal tersebut banyak tantangan keuangan yang harus dihadapi generasi ini.

Terlebih generasi Z nantinya akan mengalami bonus demografi atau kondisi dimana generasi produktif atau usia kerja jauh lebih banyak dibandingkan yang non produktif hal ini menjadi salah satu faktor kesuksesan bonus demografi. Hal ini menjadi perhatian pemerintah, lantaran kondisi keuangan akan mempengaruhi kondisi ekonomi negara.

Menurut Wikipedia Generasi Z atau generasi zoomer, sekelompok demografis yang menggantikan Generasi Milenial sebelum Generasi Alfa. Klasifikasi di Indonesia, Gen Z ini rentang tahun kelahiran 1997-2012 berdasarkan data resmi yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik.

Pendidikan keuangan menjadi peran penting dalam Gen Z menghadapi tantangan keuangan, pentingnya membentuk prilaku keuangan yang bertanggung jawab dan bijaksana untuk kunci kesejahteraan masyarakat. Mengingat generasi ini sangat di dukung oleh perkembangan teknologi dan digitalisasi di sektor keuangan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terlebih kebutuhan manusia di usia produktif yang cukup besar, menghadapi risiko keuangan, perencanaan, pengelolaan, dan yang lainnya. Terkait hal ini juga menjadi upaya dalam menumbuhkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Melalui informasi dari Otoritas Jasa Keuangan bahwa tingkat literasi keuangan generasi Z sebesar 44,04% lebih rendah dari 3,94% dari generasi milenial, dengan jumlah penduduk sebesar generasi Z di tahun 2019 sebesar 72,9 juta jiwa. Melalui data tersebut, tingkat literasi masih dikatakan rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang investasi, tabungan, pinjaman, dan asuransi masih rendah. Namun perlu diketahui, bahwa sebagian dari gen Z ini masih dalam proses pendidikan sehingga belum produktif dalam menghasilkan uang.

Tak jarang beberapa dari Generasi Z mengalami kesalahan dalam tindakan atas keuangan mereka. Salah satunya fenomena kemudahan dalam mencari pinjaman online atau pinjol. Melalui website data books juni 2023, nilai kredit macet pinjol berdasarkan pinjaman umur 19-34 tahun mengalami gagal membayar utang lebih dari 90 hari sejak tanggal jatuh tempo dengan akumulasi nilai gagal bayar utang sebesar 763,65 miliar atau berkontribusi sebesar 44,14% dari kredit macet pinjol nasional.

Terkait Generasi Z yang mengalami gagal membayar hutang, menjadi faktor berpengaruh pada skor BI Checking-SLIK OJK dimana informasi terkait debitur individual. Skor BI Cheking-SLIK OJK sendiri digunakan untuk proses kredit ke bank, salah satunya ialah mengajukan KPR.

Macetnya pinjaman hutang, hal ini dikarenakan banyaknya Generasi Z yang tak memiliki dana darurat atau dana yang dikeluarkan dalam keadaan darurat, seperti diberhentikan dari perusahaan, terjadinya bencana penyakit seperti Covid 19, dan yang lainnya. CEO PT Jooara Rencana keuangan, Gembong Suwito mengatakan bahwa lebih dari 60% generasi Z tak punya dana darurat, hal ini juga dikarenakan kemudahan sistem pembayaran seperti “buy now pay later”.

Hal ini yang mengapa generasi sebelumnya juga menganggap bahwa generasi Z ini cenderung boros dibandingkan generasi mereka. Generasi Z ini juga terancam sulit punya rumah, hal ini dikarenakan gaya hidup terlilit pinjol, harga properti terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, tren kenaikan properti dan menurunnya penjualan tempat tinggal. Dimana melalui hasil survei mengindikasikan penjualan rumah residensial di pasar primer pada triwulan II 2023 masih belum kuat.

Namun meski begitu, beberapa generasi Z sudah melek akan investasi. Seperti data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terkait data investor individu berdasarkan usia didominasi oleh usia 30 kebawah dengan sebesar 58,39% atau nilai investasi sebesar 52,73 Triliun. Bisa dikatakan masih banyak Generasi Z mendominasi produk pasar modal.

Edukasi Literasi dan Inklusi keuangan harus tetap diteruskan, hal ini menjadi upaya agar Gen Z lebih sadar akan posisi keuangan mereka agat terhindar dari kesulitan yang banyak dihadapi generasi sebelumnya. Terlebih masalah perekonomian global yang tidak menentu dan terjadinya inflasi global hal ini tentunya akan berdampak pada keuangan masyarakat.

*Redaktur Majalah Tebuireng.