Kisah Ulama Hebat dari Kalimantan

1297
Sumber gambar: http://www.auraqila.com/syekh-muhammad-arsyad-al-banjari-1710-1812/

Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan seorang ulama besar asal Banjarmasin Kalimantan yang menjadi pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia pernah menimba ilmu dari beliau atau dari murid-murid beliau.

Ulama yang memiliki nama lengkap Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Banjari adalah cicit Sayid Abdullah Al-‘Aidrus bin Sayid Abu Bakar As-Sakran bin Sayid Abdur Rahman As-Saqaf bin Sayid Muhammad Maula Dawilah Al-‘Aidrus. Silsilahnya kemudian sampai pada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah. Dengan demikian Syaikh Arsyad masih memiliki darah keturunan Rasulullah.

Ayahnya bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Abdurrasyid (Abdul Harits) bin Abdullah, ibunya bernama Aminah. Keluarga tersebut tinggal di kampung Lok Gabang, sekarang kecamatan Astambul, kabupaten Banjar, dekat dengan kota Martapura, Kalimantan Selatan. Beliau lahir di Banjarmasin pada hari kamis dini hari bertepatan pada tanggal 15 safar 1122 H atau 17 Maret 1710 M.

Semasa dalam kandungan, kedua orang tuanya selalu berdoa  agar dapat melahirkan anak yang alim dan zuhud. Setelah lahir, ibu bapaknya mendidik dengan penuh kasih sayang, memberikan pendidikan Al Quran, dan alunan asmaul husna.  Beliau adalah putra sulung dari empat bersudara; ‘Abidin, Zainal ‘Abidin, Nurmein, Nurul Amein..

Pendidikan sudah diberikan langsung oleh orang tuanya sejak kecil. Ketika beliau berumur 7 tahun, beliau telah mampu menghafal ayat-ayat Al Quran secara sempurna. Karena kecerdasannya tersebut, seorang raja Banjarmasin yang bernama Sultan Hamidullah atau Sultan Tahilullah yang memerintah saat itu, meminta izin kepada orang tua Syaikh Muhammad Arsyad untuk mengajaknya tinggal di istana bersama dengan cucu-cucu keluarga kerajaan. dan kedua orang tuanya pun mengizinkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Syaikh Muhammad Arsyad sangat disenangi oleh penduduk istana, karena akhlaknya yang mulia. Setelah dewasa, beliau dinikahkan oleh sultan dengan seorang wanita shalihah bernama Bajut. Namun sekalipun diusia pernikahannya yang masih baru, beliau telah berniat untuk menimba ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Niat tersebut tidak terlepas dari ridha sultan yang harus melepas kepergiannya demi cita-cita yang luhur.

Di Makkah, Syaikh Muhammad Arsyad berkesempatan mempelajari ilmu agama, hampir seluruh waktunya digunakan untuk belajar. Beliau belajar kepada masyayikh terkemuka saat itu, diantaranya ialah Syekh Atho’illah bin Ahmad Al- Mishry, Al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abd. Karim al Samman al Hasani al Madani. Beliau termasuk ulama yang memiliki pandangan moderat (seimbang) antara ilmu syari’at dan ilmu hakikat.

🤔  Kiai Sahal Mahfudh, Sang Pelopor Fikih Sosial

Setelah kurang lebih tiga puluh lima tahun Syaikh Muhammad Arsyad menimba ilmu di Makkah, beliau kembali ke kampung halamannya. Hal yang pertama kali dilakukan ialah menunaikan niat mulianya untuk memabangun tempat pengajian bernama Dalam Pagar. Mulanya, tanah pemberian Sultan Tahmidullah itu kosong masih seperti hutan belukar. Kemudian beliau menyulap tanah tersebut menjadi sebuah perkampungan yang di dalamnya terdapat rumah, tempat pengajian, perpustakaan dan asrama para santri. Sejak saat itu, kampung yang baru dibuka tersebut didatangi oleh para santri dari berbagai pelosok daerah.

Pesantren yang dibangun di luar kota Martapura ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses belajar mengajar para santri. Selain berfungsi sebagai pusat keagamaan, tempat tersebut juga dijadikan sebagai pusat pertanian. Beliau juga aktif berdakwah kepada masyarakat umum. Dari kegiatan tersebut, dapat membentuk perilaku religi masyarakat sehingga menumbuhkan kesadaran untuk menambah pengetahuan agama dalam masyarakat.

Syaikh Muhammad Arsyad mempunyai tiga metode pengajaran yang saling menunjang antara satu sama lain.

  • Bil hal : keteladanan yang direfleksikan dengan tingkah laku
  • Bil lisan : mengadakan pengajaran dan pengajaran yang bisa diikkuti oleh siapa saja
  • Bil kitabah : menggunakan bakatnya dalam bidang tulis menulis

Dari bakat tulis menulis tersebut, lahirlah kitab-kitab yang menjadi rujukan ummat. Diantaranya ialah Sabil al-Muhtadin, Tuhfat ar- Raghibin, al-Qoul al-Mukhtashar. Karyanya yang paling momental ialah kitab Sabil al-Mujtahid yang tidak hanya masyhur di daerah Kalimantan dan nusantara, tapi juga sampai ke Malaysia, Brunei dan Pattani (Thailand Selatan).

Nama kitab Sabil al-Mujtahid diabadikan menjadi nama sebuah masjid Agung Banjarmasin. Kitab tersebut sampai saat ini tetap dibaca dan disebut-sebut sebagai rujukan. Selain itu, nama kitab Tuhfat ar- Raghibin juga diabadikan untuk nama sebuah masjid yang yidak jauh dari makam Syaikh Muhammad Arsyad.

Beliau wafat  pada 6 Syawal 1227 H atau 3 Oktober 1812 M pada usia 105 tahun dengan meninggalkan pengaruh besar terhadap berkembangnya masyarakat Islam di nusantara.


Disarikan dari berbagai sumber oleh Rofiqatul Anisah, Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.