Saat Belanda dan tentara sekutu dengan nama aliansi Natherlandsch of Indie Civil Adminstratie atau Natherlands-Indies Civil Administration (NICA) kembali ingin menjajah Indonesia, rakyat Indonesia dari berbagai barisan melakukan perlawanan sengit. Salah satu tokoh yang ikut gencar-gencarnya melakukan perlawanan adalah KH. Abdul Choliq Hasyim, putra pasangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah yang merupakan seorang Daidancho, sebuah pangkat tertinggi dalam organisasi militer PETA atau sekarang setara dengan Pangdam.

Suatu saat Kiai Choliq harus tinggal beberapa waktu di Kauman Purbalingga (dulu masuk Karasidenan Banyumas) di rumah mertua beliau, yaitu rumah Raden KH. Achmad Syarwani, tentara sekutu mencari-mencari Kiai Choliq. Sepertinya mereka tahu bahwa beliau adalah orang yang cukup berpengaruh di kalangan militer dan sipil.

Sekutu mencari-cari Kiai Choliq dan akhirnya menemukan sosok yang dianggap mirip dengan Kiai Choliq, yaitu mertua kiai kharismatik Purbalingga, Imam Besar Masjid Jami’ Purbalingga, dan kakak kandung Syaikh Nahrowi Muhtarom al Makki (ulama besar Mekkah asal  Banyumas), KH Abu Ammar. (Kemungkinan mertua Kiai Abu Ammar adalah Penghulu Banjarnegara, KH. Hasan Mu’min, ayah dari Nyai Murtafingah, istri KH. Abu Ammar. Mertua Kiai Abu Ammar ini memang mirip dengan Kiai Choliq dengan postur tubuh yang besar dan gagah.

Mertua Kiai Abu Ammar berkali-kali mengaku bukan Kiai Choliq putra ulama besar KH. Hasyim Asy’ari. Tapi Sekutu terus mementahkan pengakuan itu. Berita salah tangkap itu pun terdengar oleh Kiai Choliq. Kemudian beliau pergi mendatangi mereka. Dengan tegas beliau berkata kepada tentara Sekutu, “Lepaskan dia! Ini yang kalian cari, Abdul Choliq”. Akhirnya Mertua Kiai Abu Ammar dibebaskan, sebaliknya Kiai Choliq dibawa oleh Sekutu.

Kiai Choliq dibawa menggunakan Jeep. Namun, kejadian aneh terjadi, sejatinya mobil itu sebelumnya bisa nyala dan mesinnya masih bagus, sewaktu dipakai membawa Kiai Choliq tidak mau menyala. Kiai Choliq justru menawarkan bantuan, “Boleh saya bantu?”. Mereka juga menerima bantuan itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kemudian Kiai Choliq memegang sisi belakang mobil tersebut dan mengangkatnya, lalu menjatuhkannya, “brak”. Beliau mengangkat mobil berat itu seperti mengangkat benda ringan. Sontak membuat para prajurit tentara sekutu ketakutan dan gemetaran. Kiai Choliq berkata kepada mereka, “Sekarang coba kalian nyalakan!”.

Dan benar saja, mobil itu bisa menyala. Mereka tertegun dengan atraksi Kiai Choliq yang baru saja mereka saksikan. Sesaat setelah itu, Kiai Choliq bertanya, “Bagaimana, saya jadi ditangkap?”. Dengan penuh ketakutan mereka menjawab, “Tidak jadi”.

Kiai Choliq merupakan pejuang kemerdekaan dan pasca kemerdekaan atau perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk pajuang dalam memberantas PKI. Sebgai kiai kadigdayan, masih banyak lagi karomah yang dimiliki oleh Kiai Choliq. Akan kami ulaskan secara berkala kepada pembaca yang budiman. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. Mari kita bacakan doa untuk Kiai Choliq Hasyim, Alfatihah!


*Disarikan dari buku “Pahlawan yang Terlupakan, Sang Kiai Kadigdayan, Biografi Almarhum KH. Abdul Choliq Hasyim”, karya Muhammad Yahya dan Dawud Ubadillah Habibi yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng pada tahun 2011

SebelumnyaIjtihad Kolektif; Menyatukan Potensi yang Berpencar
BerikutnyaMari Berkurban Melalui Pesantren Tebuireng