sumber ilustrasi: cnnindonesia

Oleh: Laila Hidayah*

Kisah bersejarah antara Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s yang rela dikorbankan demi menjalankan perintah dari Allah SWT, adalah bukti ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Keteladanan tertinggi bahwa tidak ada yang lebih mulia selain mengikuti perintahNya, dan tidak ada kenikmatan yang lebih sempurna selain menjalankan semua kewajibanNya.

Peristiwa luar biasa yang kemudian menjadi sejarah disyariatkannya kurban bagi orang Islam di seluruh dunia. Saat keimanan dan keyakinan sudah melekat dalam jiwa, ia mampu mengalahkan segala kemauan yang bersifat rasionalitas.

Meski rasio tidak menerima akan tindakan seorang ayah untuk menyembelih anaknya, namun keimanan lebih ia kedepankan dari semuanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ternyata, dalam dunia Islam tidak hanya nabi Ismail a.s yang pernah dikorbankan oleh ayahnya, nabi Ibrahim a.s. Ayahanda baginda nabi SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib juga menjadi salah satu orang yang mempunyai kisah sama seperti nabi Ismail a.s.

***

Demi menepati sebuah nadzar untuk mengorbankan salah satu putranya saat penggalian sumur zam-zam, Abdul Muthalib harus merasakan kehilangan yang sama seperti halnya Nabi Ibrahim a.s.

Pada bulan Jumadil Awwal empat puluh tahun sebelum bi’tsah, Abdul Muthalib memberitahu kepada seluruh putranya tentang nadzar yang telah beliau ucapkan beberapa tahun silam. Nama-nama kesepuluh putranya dituliskan pada anak panah yang kemudian diundi oleh juru ramal kota Makkah di depan Masjidil Haram dengan disaksikan seluruh penduduk Makkah.

Ketua suku Qurays itu berharap bahwa yang keluar bukan nama anak bungsunya, Abdullah. Saat undian dilaksanakan, setiap jantung berdenyut lebih cepat tak menentu seperti seorang perserta lomba baca puisi yang lupa barisan kata-katanya di depan audiens.

Setelah hasil undian keluar, betapa kagetnya Abdul Muthalib bahwa nama Abdullah tertulis pada anak panah terpilih. Seketika itu tubuh kakek Rasulullah lunglai bagai pakaian basah yang hendak dijemur. Meski berat, nadzar harus tetap ditunaikan dan bagi Abdul Muthalib, nadzar tidak bisa diabaikan begitu saja, karena nadzar berkaitan dengan Tuhan.

Dengan membawa sebuah golok tajam, Abdul Muthalib menuntun Abdullah menuju tempat di antara berhala Ishaf dan Nalah (tempat penggalian sumur zam-zam saat pengucapan nadzar).

Beberapa orang Qurays mencegah ketua sukunya untuk mengorbankan putranya sendiri. Namun Abbul Muthalib tetap teguh pendirian untuk menunaikan nadzarnya.

Hingga seseorang menyarankan Abdul Muthalib untuk menemui dan meminta saran dukun wanita dari Hijaz yang mempunyai pembantu dari golongan jin. Kemudian Abdul Muthalib bersama beberapa putranya dan sekelompok orang Qurays berangkat menuju Hijaz menemui dukun wanita yang disebutkan.

Dalam perjalanan Abdul Muthalib berdoa agar Abdullah dapat terbebas dari jeratan nadzar yang diucapkannya. Setelah bertemu dengan dukun wanita itu dan menceritakan persoalannya, mereka tidak langsung mendapat jawaban dan diutus kembali lagi esok hari.

***

Keesokan harinya dukun wanita itu berkata tentang hasil dari pertemuannya dengan para jin pembantunya:

“Aku telah mendapatkan petunjuk dari jinku, berapakah denda pembunuhan di daerah kalian?”

“Sepuluh ekor unta,” jawab mereka kompak

“Pulanglah kalian! Persembehkanlah Abdullah dan sepuluh ekor unta lalu undilah keduanya. Jika undian jatuh pada Abdullah maka tambahlah unta persembahan hingga Tuhan memberikan ridhaNya. Namun jika undian jatuh pada unta maka sembelihlah unta-unta itu sebab Tuhan telah menghendaki keselamatan anak itu,” jelas dukun wanita Hijaz.

Setelah mendapatkan solusi, mereka kembali ke Makkah dan kembali mengadakan undian. Undian pertama keluar dan hasilnya Abdullah harus dikorbankan. Sesuai dengan anjuran dukun Hijaz, unta-unta persembahan ditambahkan, tetapi hasilnya tetap sama, putra kesayangan Abdul Muthalib harus dikorbankan.

Unta-unta terus ditambahkan hingga mencapai seratus ekor dan saat itulah undian menunjukkan bahwa yang harus dikorbankan adalah unta-unta tersebut. Sesaat ketegangan mereda dan penduduk Makkah tampak gembira.

Namun, bagi ayah Abdullah, hasil undian itu belum bisa dianggap final. Abdul Muthalib ingin memastikan dua-tiga kali lagi sebagai penguatan. Kegembiraan segera berbalik menjadi kecemasan jika hasil undian kembali kepada Abdullah.

Akhirnya juru ramal kembali mengundi anak panah dan setelah dilaksanakan selama tiga kali hasilnya jatuh pada unta-unta yang harus dikorbankan.

Abdul Muthalib sangat bahagia dan seketika itu seratus ekor unta disembelih dan dinikmati oleh semua yang hadir.

#Cerita ini terinspirasi dari bacaan buku “Kisah Para Nabi”.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaSyekh Abdullah Ahmad, Perintis Pendidikan Islam Modern di Nusantara
BerikutnyaBagaimana Hukum Kirim Stiker Doa di WhatsApp?