sumber ilustrasi: muslimdaily.com

Oleh: Ibnu Ubaidillah*

Sebagai umat muslim, kita dianugerahkan kitab suci al-Qur’an untuk menyempurnakan petunjuk-petunjuk Allah agar kita mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Nah seberapa seringkah kita membaca al-Qur’an?

Sebagaimana Rasullullah bersabda:

رسو الله صلى الله عليه وسلم يقول اقرءوا القران فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه…..

Rasulullah bersabda: “bacalah al-Qur’an, karena Ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim, no. 1337).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kita bisa ambil pelajaran dari kisah sahabat-sahabat nabi yang bisa menjadi suatu motivasi kita dalam membaca Al-Qur’an salah satunya figur sahabat teladan (nabi), Salim Maula Abu Hudzaifah, merupakan (bekas budak) Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabiah bin Abdis Syamsi bin Abdil Manaf.

Dari sisi nasab, beliau hanyalah keturunan bangsa ajam (non arab). Tepatnya beliau seorang Persia dari iktiar atau dari Qurmud. Meski bukan seorang Arab beliau termasuk dari sahab at Nabi yang terdahulu masuk Islam.

Pada mulanya Salim rasdhiyallauhu ‘anhu  hanyalah sebagai seorang budak. Budak kepunyaan Tsabitah bintu Yuar bin zaid bin ubaid bin zaid  Al-anshori Ad-dausy. Tsabitah ini adalah istri dari abu Hudzaifah, maka Salim dimerdekakan oleh tuannya tanpa perjajian dan sebab.

Tsabitah sendiri diperselisihkan nama aslinya: Batisnah, Amra, Salma, demikian perbedaan ulama mengenai nama istri Abu Hudzaifah  radhiyalluanhu ‘anhu. Kemudian Allah pun mengangkat derajatnya dengan masuknya beliau ke dalam agama Islam. Sungguh, dalam Islam kemuliaan manusia tidaklah diukur sebatas nasab yang mulia ataukah harta yang melimpah. Namun, kemuliaan manusia diukur berdasarkan ketakwaannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firmannya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat:13)

Dan dalam hadits juga dijelaskan:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى…

“Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Sa’id Al Jurairi dari Abu Nadhrah, telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khotbah Rasulullah ﷺ di tengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda,..

“Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non Arab dan begitu juga bagi orang non Arab atas orang Arab. Tidak ada keutamaan bagi orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam, dan sebaliknya bagi orang yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan”. (HR. Ahmad no. 22391)

Salim kemudian dimerdekakan oleh sahabat Rasulullah bernama Abu Hudzaifah. Tidak ada yang tahu siapa kedua orang tua Salim, sehingga beliau lebih dikenal dengan panggilan Salim Muala Abi Hudzaifah.

Asal-usul gelap Salim tidak seperti sahabat-sahabat Rasulullah lainnya yang punya kisah masa lalu yang suram. Sebut saja Zaid bin Hilal, sekalipun pernah menjadi budak tapi karena asal-usulnya ketahuan, maka setelah kemerdekaan disebut Zaid bin Haritash serta Bilal bin Rabah. Oleh sebab itu, Salim setelah dimerdekakan dan masuk Islam hanya menyertakan nama tokoh yang menyelamatkannya, yakni Abu Hudzaifah.

Kemudian Rasulullah SAW suatu hari pernah berwasiat kepada sahabatnya:                

…خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ…

“Ambillah Al-Qur’an (riwayat dan cara baca) itu dari empat orang. Yaitu dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab”.

Prinsip tak penting dari mana asal-usulmu yang penting berkualitas (takwanya). Prinsip ini juga dijalankan Abu Hudzaifah. Meskipun asal-usulnya Salim tidak diketahui Rasulullah sangat mempercayai dan menyayangi salim. Karena beliau mempunyai bakat dalam membaca Al-Qur’an dengan sangat fasih dan beliau juga termasuk golongan dari orang-orang ahli Al-Qur’an, Salim juga kemudian ditunjuk menjadi Maha gurunya Tahfidz Qur’an dan Imam masjid Quba pada jaman Rasulullah.

Salim sang Qurra’

Salim termasuk sahabat yang mendapat gelar sang Qurra’ yakni para pembaca (ahli) Al- Qur’an. Gelar ini adalah gelar yang tinggi di kalangan sahabat Nabi. Gelar tersebut menunjukan hafalan Al-Qur’an, pengetahuan akan isinya, serta pengamalan isi dalam kandungan al-Qur’an. Tidak semua sahabat Nabi bisa mendapatkan gelar ini.

Hanya segelintir dari para sahabat yang mencapai derajat yang mulia ini. Oleh karenanya, Salim pernah memimpin (mengimami) shalat di masjid Quba padahal diantara jamaah shalat tersebut ada Umar bin Khattab dan sahabat lainnya, tepatnya saat-saat sebelum hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Beliau juga menjadi andalan tempat bertanya tentang kitabullah, hingga nabi menyuruh kaum muslim belajar kepadanya.

Salim adalah salah satu dari 10 budak yang berpengaruh di zaman Rasulullah. Beliau pernah ditunjuk sebagai “maha guru hafidz Qur’an dan Imam masjid Quba’.

Selain ahli Al-Qur’an beliau banyak berbuat kebaikan dan banyak memiliki keunggulan yang menyebabkan Rasulullah berkata padanya: “segala puji bagi Allah yang mengadakan seseorang sepertimu dalam golonganku”. Bahkan para sahabat menyebut dan memuji beliau, salim Radhiyallahu ‘anhu salah seseorang dari kaum yang saleh.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

SebelumnyaBroken Home Bukanlah Alasan Mengabaikan Hak Anak
BerikutnyaCatatan Santri Baru