sumber gambar: IG.putri_walisongo

Oleh: Wan Nurlaila*

Aku menangis
melepas kepergian di balik kesedihan
menatap langkah yang kian menghilang
meninggalkan aku sendiri untuk memulai perjuangan

aku menangis melepas peluk dan senyum terakhir
untuk tidak berjumpa dan bersua
dengan waktu yang kian mengalir
dengan hari yang semakin bergulir

aku terdiam dan mematung
mengingat semua kenangan indah bersama mereka
bersama seluruh keluarga yang selalu ada
dan menjadi tokoh utama dalam cerita

kini
semesta mengirim aku ke sebuah ruang
penjara suci tempat aku bertholabul ilmi
menggapai rida dan barakah kiai dan bunyai

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

aku terdiam
menatap erat gerbang perpisahan
mataku memanas
mengalirkan butiran air yang mengalir di pipi

menjadi saksi atas sakit dan sedihnya hati ini
aku berdoa
semoga semesta menjagaku dan mereka
agar bisa kembali bersua dan melepas rindu sedalam-dalamnya.


AKU
Oleh: Wan Nurlaila*

Ini aku
tentang anak yang tetap tertawa
dan menyimpan banyak luka
tetap tertutup dan tersimpan rapat dalam bungkaman

ini aku
seorang anak yang kekurangan
kurang rasa kasih sayang
dari orang tua yang seharusnya kubanggakan

sebuah kalimat yang paling kubenci
tentang harus memilih
mengikuti jejak yang akan membawaku
dan membesarkanku setelah ini

inginku memaki atas skenario yang terjadi
atas segala hal yang akan kulalui
merasa tidak adil
itulah yang setiap saat menjalar di pikiran ini

semesta sangat baik
saat  kehidupanku hancur
dia membawaku ke tempat yang masyhur
tempat yang damai membuat hati lebih bersyukur

*Santri Walisongo Jombang.

SebelumnyaKisah Bekas Budak yang Mulia
BerikutnyaBiografi Imam Suyuthi: Ulama Produktif dengan 600 Karya