sumber ilustrasi: tirto.id

Oleh: Sayidatul Afifah Rusda*

KH. Saifuddin Zuhri adalah menteri Agama RI pada Tahun 1962-1967[1]. Meskipun sosoknya tidak banyak tertulis di dalam buku sejarah pahlawan Indonesia, jasanya bagi Indonesia sangatlah besar. Mulai dari pengembangan IAIN hingga membentuk Lembaga Penerjemah Al-Qur’an, yang mengantarkannya menjadi Guru Besar Bidang Luar biasa pada 2 November 1964.                             

Masa Kecil dan Pendidikan

KH. Saifuddin Zuhri lahir di Kedawean Sukaraja, Banyumas pada Tanggal 1 Oktober 1919 dan wafat pada 25 Maret 1986. Ibunya adalah seorang pengrajin batik bernama Siti Saudatun dan Ayah beliau adalah Petani yang tekun bernama H. Muhammad Zuhri. Beliau adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Meskipun lahir dari keluarga sederhana beliau mempunyai silsilah ahli agama di desanya.

Masa kecil dan remajanya dihabiskan untuk belajar pelajaran umum dan pelajaran agama di sekolah (umum), Madrasah Al-huda NU, dan pesantren di sekitar desanya. Bahkan pada usia 13 tahun sudah berhasil menghatamkan kitab-kitab yang mejadi dasar di pesantren pada umumnya diantaranya adalah Qathrul Ghaits, Jurumiyah, dan kitab kuning lainnya. Sampai pada usianya yang ke-17 tahun beliau mulai melakukan rihlah ilmiah ke Madrasah Mambaul Ulum (Solo) untuk memenuhi hasrat akan hausnya ilmu meski dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Akhirnya di kota Solo ini, Saifuddin belajar sambil bekerja untuk membiayai sekolahnya dengan bekerja sebagai staf koresponden surat kabar Pemandangan yang terbit di Jakarta untuk bertugas meliput berbagai peristiwa, khususnya politik, yang terjadi di Solo dan juga Surat kabar Darmokondo yang terbit di Solo.  Setelah sebelumnya akan bekerja di toko namun tak direstui ayahnya.

Setelah belajar sampai kelas tertinggi di Mambaul Ulum, pekerjaannya sebagai Jurnalis membuatnya harus berpindah sekolah ke Madrasah Salafiyah kemudian pindah lagi ke  sekolah Al-Islam, di sinilah baru ia kerasan karena sekolah berjalan di pagi hari dan juga beberapa pelajarannya dinilai cukup menarik misalnya tajdid (pembaruan).

Dengan penuh kedisiplinan dan keprihatinan pula Saifuddin sering keluar masuk berbagai forum, mengikuti ceramah Pastur, ceramah S1, ceramah Muhammadiyah mengikuti wejangan para tokoh kebatinan dan tak ketinggalan mendalami ilmu Jurnalistik.

Bahkan, pada acara kongres Bahasa Indonesia di tahun 1938, sebagai lanjutan dari acara Sumpah Pemuda 1928, Saifuddin ikut terjun untuk meliput berita karena selain dihadiri oleh tokoh nasional, bahasa Indonesia juga merupakan bahasa yang wajib dipelajari oleh semua orang sehingga Saifuddin Juga ikut mengikuti dan meliputnya hingga selesai.

Menariknya, acara ini membuat Saifuddin harus meninggalkan pesantren dan sekolahnya. Yang mana mengajarkan kepada kita sebagai generasi muda bahwa tantangan belajar agar tetap tinggi harus diimbangi dengan pengorbanan yang produktif.

Karier dan Pengabdian

Sejak muda ia sudah masuk ke pergerakan pemuda dalam tempaan zaman pergerakan politik. Di usianya yang ke-19 ia terpilih menjadi pemimpin gerakan pemuda Anshor NU merangkap guru madrasah. Kemudian, diusia yang ke-35 tahun ia menjabat sebagai sekertaris Jenderal NU bahkan merangkap menjadi pemimpin redaksi Duta Masyarakat dan anggota Parlemen Sementara.

Persinggungannya dengan NU menuntutnya melibatkan diri dengan PPP yang merupakan satu-satunya gerbang politik NU pada saat itu. Kemudian pada masa menjabat sebagai Menteri beliau berhasil mengembangkan IAIN yang sebagiannya saat ini sudah bermetafora menjadi UIN, dan juga membentuk guna mejembatani Umat Islam agar semakin mengerti ajaran Al Quran sebagai benteng perlindungan dari serangan-serangan ideologi atheisme.

Tak hanya itu Saifuddin Zuhri juga pernah mengabdi sebagai konsul daerah Ansor dan NU Jateng; Komandan Barisan Hizbullah; Anggota KNIP Mutasyar PBNU; Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rektor IAI Al-Akidah.

Putra-Putri

Pernikahannya dengan ibu Scholihah melahirkan sepuluh putra-putri. Mereka adalah Dr. Fahmi Dja’far (suami Dra. Maryam putri tokoh NU KH. Ahmad Sjaichu); Farida (Istri Dr (HC), Ir. KH. Salahuddin Wahid putra ketiga KH. Wahid Hasyim); Anisa (istri Dr. Sholichul Hadi-mantan aktivis PMII-); Aisyah (Istri Wisnu Hadi); Andang FN; Baehaqi menikah dengan Gitta (Gadis belanda); Julia; Annie; Adib menikah dengan Yanti Ilyas (putri KH. M. Ilyas); dan Lukman Hakim (Menteri Agama RI)

Karya-karyanya

Meski menjabat sebagai aktivis dan pejabat pemerintahan, Saifuddin Zuhri masih mampu melahirkan karya akademik yang menunjukkan bobot pemikirannya, dan kisah kehidupan beliau sendiri yang penuh khidmah dan perjuangan tertulis di buku yang terakhir yang berjudul “Berangkat dari Pesantren”.

Karya-karya beliau yang lain diantaranya:

  1. Palestina dari zaman ke zaman (1947)
  2. Agama unsur mutlak dalam National Building (1965)
  3. KH. Abdul Wahab Hasbullah, Bapak Pendiri NU (1972)
  4. Guruku Orang dari Pesantren (1974)
  5. Sejarah kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (1979)
  6. Kaledioskop Politik Indonesia (3 Jilid) (1981)
  7. Unsur politik dalam Dakwah (1982)
  8. Secercah Dakwah (1983).[2]

Cuplikan Sisi Inspiratif Hingga Akhir Hayat[3].

Diantara hal yang menarik dari kehidupan beliau adalah ketika menolak memberikan biaya haji dari Departemen Agama untuk adik iparnya. Hanya karna masih ada ikatan keluarga. Kemudian, pada akhir tahun 1980-an beliau selalu keluar rumah dari pukul 09.00 (setelah shalat Dhuha) hingga Dzuhur. Belakangan diketahui adalah karena beliau berjualan beras di pusat perdagangan Glodok, Jakarta Pusat, tanpa merasa gengsi.

Atas jasa-jasanya KH. Saifuddin Zuhri mendapat sebelas bintang jasa kehormatan dari presiden, para menteri dan yang terakhir pada Tahun 2007 oleh pusat gerakan masyarakat peduli akhlak mulia.

*Santriwati Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Khoiriyah Hasyim

Sumber:

[1]. “Saifuddin Zuhri”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/saifuddin_Zuhri pada 04 Agustus 2020 pukul 14.30

[2]. W. Eka Wahhyudi, Mendidik Kader Bangsa Nasional Religius : buah pemikiran Prof. KH saifuddin Zuhri: Tentang, Islam, Pendidikan, dan Nasionalisme, (Tebuireng,Pustaka Tebuireng,2018), hlm 62. 

3]. Budi, ”Biografi Prof. K.H Saifuddin Zuhri”, diakses dari  https://www.google.com/amp/s/www.laduni.id/post/amp/58589/biografi-prof-kh-saifuddin-zuhri, pada tanggal 05 Agustus pukul 20.07

 

SebelumnyaPria Harus Jelas, Jangan Menggantungkan Wanita
BerikutnyaJalan Panjang Mewujudkan Kesetaraan Gender