
Tebuireng.online— Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw., SMA A. Wahid Hasyim menyelenggarakan kajian bedah kitab At-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqharib wa al-Ikhwan karya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Acara yang berlangsung pada Senin (20/1/2026) di Shelter SMA AWH ini menghadirkan KH. M. Agus Maulana sebagai pemateri.
Dalam paparannya, KH. M. Agus Maulana mengungkapkan bahwa kitab At-Tibyan dan karya hadratisyaikh lain memiliki sejarah penyusunan yang unik. Kitab ini awalnya merupakan kumpulan nuskhah atau catatan-catatan kecil yang “berserakan”.
Baca Juga: Bedah Kitab At-Tibyan Warnai Peringatan Isra Mi’raj di SMA A. Wahid Hasyim
“Dalam hal ini maksud berserakan adalah tersebar di tangan para santri yang mengeyam pendidikan di masa Hadratusyaikh,” terangnya.
Dengan kegigihan KH. Ishomuddin Hadziq (Gus Ishom) berkeliling ke berbagai daerah seperti Jember, Banyuwangi, Kediri, hingga Jawa Tengah untuk mencari para santri sepuh Hadratisyaikh demi melengkapi data dan men-tashih kitab tersebut.
Lahirnya kitab ini juga tidak lepas dari konteks sejarah perjuangan Indonesia. Sebelum kemerdekaan, terjadi keretakan di antara faksi gerakan Islam akibat perbedaan pandangan politik yang membuat para tokohnya saling menjauh atau tidak saling sapa (wawuh).
”Ini tercium oleh Hadratussyaikh, sehingga disitulah ada gerakan yang namanya silaturahmi nasional yang dipromotori dari tubuh NU terlebih dahulu. Bagaimana Islam bisa dibumikan di Indonesia tanpa terjadi percekcokan antara satu tokoh agama dengan tokoh agama lain,” terang KH. M. Agus Maulana.
Baca Juga: Peringatan Isra Mi’raj di MTs Salafiyah Syafi’iyah Angkat Pesan Akhlak dan Keberkahan Hidup
Meskipun terdiri dari 11 urutan pembahasan, intisari kitab ini berfokus pada tujuh bab utama. Poin yang paling ditekankan adalah al-muqatha’at al-arham atau larangan keras memutus tali persaudaraan, terutama yang seringkali dipicu oleh konflik harta warisan.
Selain membahas hubungan darah, kitab ini menyoroti hubungan batin antara guru dan murid. Kyai Agus mengatakan bahwa doa guru terus mengalir meski murid telah lulus dan berkeluarga. Maka, melupakan guru saat sudah sukses dianggap sebagai bentuk su’ul adab/adab yang buruk.
”Ketika guru mendoakan, Ya Allah berikanlah keberkahan ilmu pada murid-murid saya, walaupun kalian sudah keluar dadi SMA AWH, bahkan sudah menikah sekalipun, ketika doa diluncurkan oleh guru, maka secara batiniyah ikatan batin guru dan murid masih melekat,” terangnya.
Tidak hanya itu, dijelaskan pula tipe orang yang tidak harus dijenguk atau dikunjungi, seperti orang yang meninggalkan sholat. “Termasuk Imam Az-Zamakhsyari memperbolehkan itu,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia berpesan agar generasi muda tidak ikut campur dalam perselisihan orang tua dengan kerabat.
Baca Juga: Peringati Isra Mikraj, SMPT dan MA Al-Chodidjah Tekankan Pentingnya Akhlakul Karimah
“Jangan sampai kalian jadi bagian, seperti orang tua kalian punya perselisihan dengan paman, jangan kalian ikut-ikutan,” pesannya.
Mengutip sebuah hadist yang sudah sering di ulang, ia juga mengingatkan bahwa mereka yang memutus persaudaraan akan ditutup kesempatannya masuk surga, sebagaimana hadist yang bersifat qath’i ad-dalalah atau sudah tidak bisa ditawar lagi: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali persaudaraan.”
Lebih lanjut, KH. M. Agus Maulana menjelaskan tujuan dari diciptakannya kitab ini adalah dalam rangka untuk menjaga keutuhan keluarga, kerabat, organisasi dan yang lebih jauh adalah keutuhan negara.
Pewarta: Ilvi Mariana
Editor: Rara Zarary


















