(ilustrasi: M. Iqbal)

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari:

Bagi setiap mukallaf wajib memuliakan Nabi SAW dan mengagungkan perintahnya dan berbuat baik kepada Nabi SAW (dalam hal ini tidak ada perbedaan antara masa hidup Nabi SAW dan sesudah intiqalnya).

Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

إنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi (maksudnya, kepada umat di hari kiamat), pembawa berita gembira (maksudnya, kepada umatnya di dunia dengan adanya surga) dan pemberi peringatan (maksudnya, menakut-nakuti di dunia, jika berbuat jelek akan dibalas dengan neraka), supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya (maksudnya, menolongnya), mengagungkan Rasul-Nya (maksudnya, memuliakannya. Kata ganti “nya” di sini untuk Allah atau Rasul-Nya). Dan bertasbih kepada-Nya (maksudnya, kepada Allah) di waktu pagi dan petang”. [1]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (menetapankan hukum sebelum ditetapkan ole Allah san Rasul-Nya). [2]

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ. إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi”. (Maksudnya, janganlah suara kamu sekalian melampau batas hingga di atas suara Nabi SAW, bahkan kamu sekalian harus merendahkan suara hingga suara Nabi SAW di atas suara kalian, agar tampaklah kelebihan dan derajat Nabi s.a.w di hadapan kalian. Dengan merendahkan suara di hadapan Nabi SAW dan bicara dengan pelan-pelan adalah merupakan penghormatan dan pengagungan). dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras (maksudnya, jika kamu menyampaikan pembicaraan kepadanya), sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak menghapus (pahala) amalanmu (maksudnya, takut kalau akan dihapus pahala amal-amal kamu sekalian ), sedangkan kamu tidak menyadari (maksudnya, tidak menyadari akan terhapusnya pahala amal-amal). Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya (maksudnya, bicara dengan suara pelan ) di sisi Rasulullah (maksudnya, untuk menjaga sopan santun dan sikap mengagungkan Nabi SAW) mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa ( maksudnya, Allah menguji hati mereka agar bertaqwa, dan melatih hati mereka untuk menghadapi kesulitan, yakni bisa mengetahui rahasia hati dan terbukanya hati). Bagi mereka ampunan (maksudnya, ampunan yang banyak atas dosa-dosa mereka) dan pahala yang besar (maksudnya, karena ketaatan mereka)”.[3]

Semua tanda cinta kepada Nabi SAW tersebut di atas harus tetap dijaga setelah intiqalnya Nabi SAW di masjidnya, apalagi di tempat hadirnya Nabi SAW, demikian juga ketika membaca hadis Nabi SAW dan membaca kisah maulid Nabi yang mulia SAW, serta di saat mendengarkan Al Quran.

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”.[4]

Dalam ayat tersebut di atas, Allah Ta’ala mewajibkan untuk mengagungkan dan memuliakan Nabi SAW dan menetapkan kepada umatnya agar memuliakan dan mengagungkan Nabi SAW (maka tidak boleh bagi seorang muslim memanggil Nabi SAW dengan namanya, seperti, ”Wahai Muhammad”. Atau dengan julukannya, ”Wahai Abul Qasim”. Bahkan harus menggunakan panggilan yang dirasakan mengagungkan dan memuliakannya, seperti, “Ya Nabiyallah (wahai Nabi Allah)”, atau “Ya Rasulallah (wahai Rasulullah)”.

Ibnu Abbas ra. berkata:

وَتُعَزِّرُوه : تَجْلُوْهُ

 “Kamu memuliakan Nabi SAW,: maksudnya kamu mengagungkannya”.[5]

Al Mubarrid berkata:

تُعَزِّرُوه  : تُبَالِغُوْا فِي تَعْظِيْمِهِ

Kamu memuliakan Nabi SAW itu berarti harus mengagung-agungkannya”.[6]

Allah SWT melarang orang-orang mukmin mendahului pembicaraan, bersikap kurang sopan, dan memotong pembicaraan di depan Nabi SAW, kemudian Allah memberi nasehat dan mengancam mereka yang mengingkarinya. Lalu berfirman :

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah (maksudnya, hati-hatilah kamu sekalian jangan sampai melanggar perintah Allah tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar (maksudnya, Maha Mendengar ucapan kamu sekalian) lagi Maha Mengetahui (maksudnya, Maha Mengetahui tingkah laku kamu sekalian)”. [7]

Termasuk memuliakan Nabi SAW adalah berbuat baik kepada Nabi SAW, berbuat baik kepada keuarganya, keturunannya, dan para istri Nabi SAW sebagai ummahatul mu’minin, sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi SAW dan telah dilakukan oleh ulama salaf shaleh ra.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.[8]

Allah Ta’ala berfirman:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan isteri-isteri beliau adalah ibu-ibu mereka”.[9]

Nabi SAW bersabda:

إنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا : كِتَابَ اللَّهِ  وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي. فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا 

Sesungguhnya saya meninggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian mau mengambilnya, kalian tidak akan sesat : Kitab Allah ( Al Qur’an ), dan keturunanku adalah keluargaku, maka lihatlah, bagaimana kalian melanjutkan sesudahku tentang keduanya”.  [10]

Nabi SAW bersabda:

مَعْرِفَةُ آلِ مُحَمَّدٍ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَحُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ جَوَازٌ عَلَى الصِّرَاطِ وَاْلوِلاَيَةُ لِآلِ مُحَمَّدٍ أَمَانٌ مِنَ اْلعَذَابِ

“Mengetahui keluarga Muhammad adalah bebas dari neraka, mencintai keluarga Muhammad akan bisa melewati shirathal mustaqim, mengasihi keluarga Muhammad akan aman dari siksa”.[11]

Nabi SAW bersabda tentang sayyidina Ali, karramallahu wajhah:

اللَّهُمَّ  وَالِ مَنْ وَالاهُ  وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

Ya Allah, kasihilah orang yang mengasihinya, dan musuhilah orang yang memusuhinya”.[12]

Nabi SAW bersabda tentang Sayyidina Ali, karramallahu wajhah:

لاَ يُحِبُّكَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضُكَ إِلاَّ مُنَافِق

Tidak menyukaimu kecuali seorang mukmin, dan tidak membencimu kecuali seorang munafik”.[13]

Nabi SAW pernah bersabda kepada Sayyidina Abbas ra:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَدْخُلُ قَلْبَ رَجُلٍ الإِيمَانُ حَتَّى يُحِبَّكُمْ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ. ثُمَّ قَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ آذَى عَمِّى فَقَدْ آذَانِى

Demi Allah Yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, iman tidak akan masuk pada hati seseorang, sampai dia mencintai kamu karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa menyakiti pamanku ini, maka sungguh dia telah menyakiti aku”.[14]

Sayyidina Abubakar ra. berkata:

اُرْقُبُوا مُحَمَّدًا فِى أَهْلِ بَيْتِه

Jagalah kamu sekalian pada ahlu bait Muhammad”.[15]

Sayyidina Abubakar ra. berkata lagi:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ  أَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِى

Demi Allah Yang jiwaku ada pada kekuasan-Nya, sungguh menyambung kerabat Rasulullah SAW lebih saya sukai dari pada menyambung kerabatku sendiri”.[16]

Nabi SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّنِي وَ أَحَبَّ هذَيْنِ ـ وَ أَشَارَ إِلَى حَسَنٍ وَ حُسَيْنٍ – وَ أَبَاهُمَا وَ أُمَّهُمَا كَانَ مَعِي فِي دَرَجَتِي يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Barangsiapa mencintai saya dan mencintai dua orang ini –Nabi SAW mengisyaratkan pada sayyidina Hasan dan sayyidina Husein-, dan mencintai ayah dan ibunya, maka dia akan bersamaku satu derajat di hari kiamat”. [17]

Nabi SAW bersabda:

مَنْ أَهَانَ قُرَيْشاً أَهَانَهُ اللَّه

Barangsiapa menghinakan orang-orang Quraisy, maka Allah akan menghinakan dia”.[18]

Nabi SAW bersabda:

قَدِّمُوا قُرَيْشًا وَلا تَقَدَّمُوْهَا

Dahulukanlah orang-orang Quraisy dan jangan kamu mendahului mereka”.[19]

Diriwayatkan dari Uqbah bin Al Haris ra, “Saya melihat Abubakar ra. menggendong sayyidina Hasan ra. di atas lehernya seraya mengatakan:

بِأَبِى، شَبِيهٌ بِالنَّبِىِّ لَيْسَ شَبِيهاً بِعَلِىٍّ . وَعَلِىٌّ يَضْحَك

Demi ayahku, dia lebih mirip dengan Nabi, tidak lebih mirip dengan Ali”, maka sayyidina Alipun tertawa”. [20]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Al Hasan ra. berkata:

Saya mendatangi Umar bin Abdul Aziz ra. karena ada hajat, maka dia berkata kepadaku, ”Jika kamu mempunyai hajat, maka kirimlah utusan kepada saya dan tulislah surat, karena sesungguhnya saya merasa malu kepada Allah karena melihatmu di depan pintu saya”.[21]

Diriwayatkan dari Asy Sya’bi ra. berkata:”Zaid bin Tsabit ra. menshalati  jenazah ibunya, kemudian bagalnya didekatkan kepadanya untuk dikendarainya. Maka datanglah Ibnu Abbas ra., lalu mengambilkan pelananya”. Zaid ra. berkata, ‘Biarkan pelana itu, wahai putra paman Rasulullah!’. Maka berkatalah Ibnu Abbas ra, ‘Beginilah kami memperlakukan para ulama’. Lalu Zaid ra. mencium tangan Ibnu Abbas ra. seraya mengatakan, ‘Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahlu bait Nabi kita SAW'”.(Hadis diceritakan Imam Thabrani Dalam “Al Mu’jam Al Kabir ).


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 


[1] Al Fath ayat 8 – 9.

[2] Al Hujurat ayat 1.

[3] Al Hujurat ayat 2-3.

[4] An Nur ayat 63.

[5]  Ushulul Iman Fii Dhau’I Al Kitab Wa As Sunnah, jilid 2, halaman 35.

[6]  Asy Syifa’ Bi Ta’rifi Huquqi Al Musthofa, jilid 2, halaman 35.

[7] Al Hujurat ayat 1.

[8] Al Ahzab ayat 33.

[9] Al Ahzab ayat 6.

[10] Hadis riwayat Imam Thabrani dan Imam Abu Ya’la. Lihat “Asy Syifa Bi Ta’rifi Huquqi Al Musthafa”, jilid 2, halaman 47. Al Mu’jamul Kabir, Imam Thabrani, jilid 3, halaman 110.

[11]  Nuzhatu Al Majalis Wa Muntakhabu An Nafais, jilid 1, halaman 280.

[12] Hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah.

[13] Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ahmad.

[14] Hadis riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Nasa’i.

[15] Hadis riwayat Imam Bukhari.

[16] Hadis riwayat Imam Bukhari.

[17] Asy Syifa, jilid 2, halaman 39.

[18] Hadis riwayat Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Hakim.

[19] Hadis riwayat Imam Baihaqi, Imam Syafi’i dalam Musnadnya, dan Imam Dailami.

[20] Hadis riwayat Imam Bukhari.

[21] Rabi’ul Abrar, jilid 1, halaman 248. Al Aghani, jilid 3, halaman 38.

 

SebelumnyaGus Sholah Bicara tentang Pesantren di Depan Pemprov Riau
BerikutnyaGus Zaki Hadzik: Kewajiban Pemerintah Buat Buku tentang Jihad